Mesir: Revolusi atau Sekadar Agitasi?

Tahrir Square lagi-lagi menjadi saksi lagi atas pergolakan puluhan ribu orang pada 30 Juni 2013 lalu, di tepat setahun periode kepemimpinan Mursi. Pendemo tersebut menuntut Mursi mundur karena dianggap tak becus menyelesaikan permasalahan ekonomi dan keamanan. Momen itu ternyata merupakan unjuk rasa terbesar pertama setelah kejatuhan Hosni Mubarak 2011 silam. Lama-lama, demo yang menuntut Mursi mundur itu berubah menjadi anarki.

Hari-hari berikutnya rangkaian kejadian terasa bergulir cepat, kudeta Sang Presiden, intervensi militer, penunjukkan pemimpin baru secara sepihak, bahkan pembentukan kabinet baru yang dilakukan tanpa melibatkan satu pun orang dari pemenang pemilu kemarin: Freedom and Justice Party (FJP).

Ada rasa tersayat ketika saya membaca artikel Islam, Democracy and Soldiers: Egypt’s Tragedy, dalam majalah The Economist edisi 6 Juli 2013. Majalah yang kerap diklaim orang sebagai majalah yang “sangat jujur” karena menghadirkan perspektif para pembesar kapitalis itu, di mata saya—khususnya artikel tadi—malah terlihat seperti tulisan yang berisi banyak opini, bahkan tuduhan.

Paragraf awal saja sudah menjelaskan ke mana arah tulisan tersebut, bahwa awak redaksi majalah tersebut merasa cemas dan tak nyaman ketika Mursi menjadi pemimpin Mesir. Katanya, politik Mursi hanyalah dagelan agama, yang antagonis pada perempuan dan masyarakat minoritas—sikap yang menurut mereka biasa mewarnai pergerakan Islam.

Tak disorotnya satu pun keberhasilan yang telah dibuat. The Economist akhirnya sama saja seperti media mainstream lainnya yang berat sebelah. Yang menilai bahwa pergolakan ini masih dalam bingkai revolusi Mesir—perjalanan rakyat Mesir menuju kemenangan. Revolusi? Kemenangan?

Sebelumnya, mari kita samakan persepsi. Saya rasa kita semua akan sepakat dengan pendapat Mao Zedong.

A revolution is not a dinner party, or writing an essay, or painting a picture, or doing embroidery. It cannot be so refined, so leisurely and gentle, so temperate, kind, courteous, restrained and magnanimous. A revolution is an insurrection, an act of violence by which one class overthrows another.

Betul, bahwa revolusi tidak akan pernah akan semenenangkan menyulam atau pesta makan malam. Ia adalah pemberontakan dengan penuh kekerasan. Satu kelas akan menggulingkan kelas lain. Tapi sayang Mao Zedong tak pernah menjelaskan—atau mungkin saya yang kurang membaca—mana batasan revolusi dan mana yang sekadar agitasi, sekadar menghasut dan menciptakan huru-hara karena alasan-alasan tertentu.

Saya yakin, kita telah kenyang dengan kisah Hosni Mubarak dan masa jabatannya yang hampir tiga dekade itu. Maka saya kutipkan sebagian dari apa yang The Economist tuliskan perihal inkompetensi Mursi:

He did nothing to rescue the economy from looming collapse. The Egyptian pound and foreign exchange reserves have both dwindled, inflation is rising and unemployment among those under 24 is more than 40%.

Mungkin angka memang bisa menjadi indikator bagi nilai sebuah negara. Tetapi “membaca” Mesir, atau negara mana pun, menurut saya tak pernah bisa dengan hanya melihat sekadar angka. Yasser El-Shimy, seorang analis Kairo dari International Crisis Group, mengatakan bahwa di era Hosni Mubarak, GDP Mesir naik empat kali lipat, begitu pula dengan angka kekayaan dan produksi. Angka-angka itu memang sepintas mencerminkan prestasi. Tetapi, ia tak pernah mencerminkan bagaimana ketimpangan sosial kian meroket atau upah pekerja yang tak kunjung naik.

Pada satu tahun tiga hari masa kepemimpinannya, Mursi “diamankan” dan dilengserkan dari jabatannya karena dianggap tidak mampu menjaga stabilitas ekonomi dan politik Mesir. Militer mengintervensi, beberapa orang mendukungnya, menganggap jalan itu semata-mata demi kepentingan rakyat, agar tak ada darah yang bersimbah lagi di Negeri Musa dan Fir’aun tersebut.

Nyatanya, pro-Mursi malah ditembaki saat shalat subuh. Membuat kening saya berkerut dan air mata menggenang, militer itu bekerja untuk rakyat yang mana?

Militer mungkin tak lagi zaman untuk datang ke istana dan langsung mengkudeta para tokoh dengan bedil, seperti yang dulu pernah terjadi pada Salvador Allende di Chile. atau Hugo Chaves di Venezuela. Yang perbedaan di antara mereka adalah bahwa Chaves berhasil merebut kedudukannya lagi, sementara Allende harus mati.

Barisan militer itu kini lebih suka berlindung di balik ketiak massa. Biar massa bergerak dulu, tak apa walau cuma sedikit dan tak mewakili apa pun, yang penting nyaring. Baru kemudian ketika suhu memanas dan pembuluh nadi mendidih, tentara maju ke depan dengan apologia stabilitas nasional. Dan kudeta akan lebih elegan dengan dalih: apa yang dilakukan tentara adalah kehendak rakyat. Sama seperti yang dibunyikan para pendukung kontrarevolusi Mesir, para pendukung kudeta.

Mursi hanya diberikan waktu satu tahun untuk menyelesaikan permasalahan yang dipupuk berpuluh tahun. Waktu yang tentunya teramat singkat. Bandingkan saja dengan Indonesia yang bahkan hingga saat ini tak selesai-selesai dalam mengurus reformasinya.

Di bumi Jakarta bahkan, saya tak yakin hal “sesimpel” macet, banjir, premanisme, atau Pedagang Kaki Lima dapat diselesaikan satu tahun oleh Gubernur yang hobi blusukan itu. Dan menanggapi hal tersebut, selintas pun tak pernah terpikir di benak saya untuk mengudeta Jokowi kalau nantinya belum dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan simpel (simpel jika dibandingkan dengan permasalahan Mesir) tersebut dalam setahun.

Ada harga yang harus dibayar Mesir atas pelengseran tersebut.

Seorang anak petani, sederhana, cerdas—pernah bekerja di NASA. Presiden yang tak pernah mencalonkan dirinya sendiri—tak seperti di Indonesia di mana calon presiden dengan senang hati menunjuk dirinya sendiri dan tak malu dengan permasalahan menggunung yang menunggu diselesaikan di balik punggungnya.

Presiden yang tak mau tinggal di rumah dinas dan lebih memilih tinggal di rumahnya yang sederhana, presiden yang tak mau dikawal bak raja. Dan bagi umat muslim, adalah kebanggaan memiliki seorang pemimpin yang hafal Al-Quran dan dapat menjadi imam.

Islamisasi dan ikhwanisasi di Mesir, bagi saya hanyalah ketakutan-ketakutan yang tak jelas juntrungannya. Apa yang salah dari pembukaan pintu gerbang perbatasan Mesir-Palestina, ketika kini hak asasi manusia sudah jadi hal yang niscaya? Apa saking sibuknya dunia mengurusi bagaimana memperjuangkan LGBT, mereka jadi tak acuh pada darah yang bersimbah di Timur Tengah?

Mungkin dalam perjalanannya, Mursi pernah keliru dalam memanuver arah politik Mesir. Ia pun telah mengakui dengan jiwa yang lapang dan terbuka, bahwa ijtihad politiknya memang ada kekeliruan-kekeliruan. Dan ada azam untuk perbaikan yang diteguhkannya.

Dan seharusnya, di sanalah demokrasi digunakan oleh rakyat dan pihak-pihak yang berkepentingan atasnya. Dengan terus memberikan masukan kepada pemerintahan yang ada, bukan malah menebar agitasi dan melakukan kudeta.

Apakah kudeta dan hasut-menghasut akan menjamin Mesir lebih baik? Saya rasa tidak. Sama sekali tidak. Bahkan hal tersebut malah menambah daftar panjang mata yang sembab, darah yang tercucur, serta nyawa-nyawa dari pemuda bersahaja yang kembali ke peraduan—tak lagi dapat memperbaiki bumi di mana mereka berpijak.

Untuk saudara-saudaraku yang pertama kalinya mengakui berdirinya Republik Indonesia, semoga Allah selalu menggenggam kalian dalam naungan rahmat-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s