Palestina dan Kemerdekaannya

“Kemerdekaan Palestina? Sama saja mengiyakan didirikan khilafah mulai negeri ini. Oh tidak, Alqaeda tersenyum bebas di Indonesia. Palestina merdeka berarti kiamat dong. Hiii!”

—seseorang yang tidak perlu disebutkan namanya.

Ramadhan sudah menapaki hari kesembilan ketika saya menulis ini. Subuh masih beberapa menit lagi. Lantunan shalawat dan zikir terdengar samar dari surau-surau di sekeliling rumah. Sekilas, lantunan tersebut ditingkahi nyanyian anak-anak yang sedang bermain ular naga—dengan lagu versi Kecamatan Lakudo, Sulawesi—yang sedang bergaung rendah dari televisi.

Anak-anak kecil tersebut terlihat sangat tanpa beban. Kepolosan dan mata cerdas yang sangat mampu menciptakan napas harapan dalam diri saya. Harapan untuk negeri ini. Dalam hati, sebuah doa tersimpul, semoga kelak mereka tak jadi generasi yang hanya bisa duduk di belakang layar LCD sambil mencaci orang yang bahkan mereka tidak pernah temui atau ide yang bahkan tidak pernah mereka selami.

Baru saja seorang teman mengirim tulisan Ustaz Salim A. Fillah yang membuat saya seketika luruh. Tulisan tersebut tentang puasa kita yang mungkin sudah terasa melemahkan, tarawih yang sudah terasa melelahkan, atau tilawah yang sudah terasa memayahkan, yang bersanding dengan ketakwaan orang-orang garis depan keimanan. Orang-orang yang berada di Palestina, Suriah, Arakan, dan sebagainya, tetapi mengambil porsi ibadah dan perjuangan yang lebih gigan.

“… dan kita sedang memperebutkan surga yang sama dengan mereka…” ucap seorang ustazah suatu hari.

Azan subuh 9 Ramadhan 1435 H sudah berpuluh menit pergi ketika saya melanjutkan tulisan ke paragraf ini. Dan membaca kembali kutipan pertama membawa diri ini berkali-kali istighfar dan tafakur. Bahwa masih ada, di kalangan masyarakat Indonesia, di kalangan menengah dan terdidik, di kalangan muslim, yang pendapatnya tentang Palestina sesederhana itu.

Saya kebetulan berada di lingkaran kedua percakapan—yakni dengan hanya mendapatkan salin-tempel percakapan itu dari sahabat saya—percakapan yang sesungguhnya sedang berlangsung di grup chat yang sahabat saya ikuti. Atas dasar itu, saya dan sahabat kemudian berdiskusi tentang salah atau tidaknya memberikan dukungan agar Palestina merdeka.

Salah atau tidak kita ini jika melakukan perbuatan yang semakin mendekatkan dunia pada kehancuran dan kiamat besar?

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian (muslimin) memerangi Yahudi, kemudian batu berkata di belakang Yahudi, ‘Wahai Muslim, inilah Yahudi di belakangku, bunuhlah!’” (HR Bukhari dan Muslim)

Beberapa hari lalu, dari akun-akun Twitter jurnalis muslim, info tentang penyerangan Gaza tersebar. Tiga orang “remaja” Israel hilang. Israel sendiri, dalam akun resminya @IsraeliPM langsung menuduh bahwa Hamas berada di belakang hilangnya para ‘remaja’ itu.

They were abducted and murdered in cold blood by human animals.” Ungkap akun tersebut, “Hamas is responsible and Hamas will pay,” lanjut mereka.

Saya heran, ternyata di dunia ini masih ada kebencian dan drama playing victims yang diorganisasi dengan sedemikian rapi oleh negara.

Sebuah negara, menuduh sekelompok orang—yang bahkan dari segi persenjataan lebih lemah dari mereka—sebagai human animals. Berapakah kira-kira luas penampang kaca yang dibutuhkan Israel agar mereka mampu bercermin dengan komprehensif tentang kelakuannya selama ini?

Hamas menegaskan bahwa bukan mereka yang menculik tiga bocah Israel. Dan ketika Hamas berkata bukan, saya percaya bahwa artinya adalah bukan.

Yang jelas, Israel butuh membunuh sembilan orang anak Palestina untuk menemukan tiga ‘remaja’ mereka yang hilang.

Beberapa jam setelah saya mendengar berita itu, sebuah kabar terdengar nyalang, “Palestine is under attack now, just in case media didn’t tell you.”

Dan keributan Indonesia akan tagar-tagar trending topic, artis-artis, baju ihram, beda negative campaign dan black campaign, serta segala urusan-urusan sialan mengenai pesta demokrasi ini tiba-tiba terlihat sangat batil. Terkesan sangat kerdil.

***

Tentang dukungan manusia terhadap Palestina merdeka, boleh jadi tidak melulu perlu berbicara tentang agama. Bisa jadi pondasinya merupakan susunan bata-bata kemanusiaan, seperti alasan yang melatarbelakangi dukungan Nelson Mandela dan sederet nonmuslim lain terhadap Palestina. Alasan kemanusiaan. Because a man is either your brother in faith or your equal in humanity.

Tetapi bagi saya, ketika saya berbicara mengenai Palestina, Suriah, atau negara lainnya, ikatan aqidah ini tetap lebih kuat memegang peran daripada ikatan kemanusiaan.

Kembali ke pertanyaan awal (salah atau tidak melakukan perbuatan yang semakin mendekatkan dunia pada kehancuran dan kiamat besar?) maka inilah pendapat saya.

Saya percaya kepada sebuah mekanisme bernama kodrat, sunatullah, dan takdir.

Saya percaya kepada dua pusaka yang disebutkan Rasulullah sebelum wafatnya. Alquran dan Hadits.

Saya percaya bahwa ketika diciptakan manusia bathil, pasti diciptakan pula orang-orang untuk melawannya.

Saya percaya bahwa bumi tidak akan pernah kehabisan orang-orang yang melaksanakan amar ma’ruf nahiy munkar hingga waktu yang ditakdirkan, sebagaimana bumi juga tidak akan kehabisan orang-orang yang hobi melakukan pengerusakan.

Saya percaya bahwa dunia akan terus berjalan sebagaimana kodratnya: dengan persinggungan-persinggungan yang tak henti antara kebaikan dan kejahatan. Selalu akan ada. Selalu akan begitu. Selalu membentuk pola.

Termasuk dalam hal kemerdekaan Palestina. Terutama Palestina.

Saya percaya, bahwa akan selalu ada dua gerbong terkait Palestina. Gerbong yang ikut memperjuangkan kemerdekaannya dan gerbong yang ikut mematikan harapan kemerdekaan itu—dan mungkin gerbong tambahan yang memuat orang-orang dengan sikap tak peduli.

Saya percaya bahwa akan selalu ada dua gerbong. Sehingga keputusan-keputusan individual kita tidak akan banyak berpengaruh terhadap status quo yang ada. Kasarnya, “Mau mendukung kek, mau menolak kek, mau diam saja kek, enggak banyak pengaruh!”

Karena pasti ada orang-orang yang akan tetap memperjuangkan kemerdekaan Palestina di saat yang lain sibuk meninggalkannya.

Ya, saya percaya bahwa ada kodrat-kodrat yang tetap berjalan, dengan atau tanpa kita.

Akhirnya, seperti retorika-retorika gerbong dakwah, kemerdekaan Palestina pun mengambil retorika yang sama.

Bahwa dengan atau tanpa kita, dakwah akan tetap berjalan.

Bahwa dengan atau tanpa kita, kemerdekaan Palestina akan tetap diperjuangkan.

 

Dan saya memilih berada di gerbong perjuangan. Walau hanya dengan lisan, walau hanya dengan tulisan, walau hanya dengan doa, walau hanya dengan materi yang rereceh dan tak seberapa, saya—bersama orang lain yang menggenggam simpul aqidah atau kemanusiaan—akan memilih berada di gerbong orang-orang yang berjuang untuk menjemput kemerdekaan itu.

Maka Allah, bantulah perjuangan kami!

 

9 Ramadhan 1435 H/8 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s