Nasihat Nyalang dan Alasan-Alasan

Adalah Charlemagne, atau yang sering diterjemahkan sebagai Karel Yang Agung, seorang penguasa Eropa di penghujung abad kedelapan yang pernah berinteraksi dengan sosok khalifah kelima Daulah Abbasiyyah–Harun Ar-Rasyid. Suatu ketika, Harun Ar-Rasyid menghadiahinya jam yang tiap enam puluh menit berdentang. Dan mereka, orang-orang Eropa itu, dengan tunik megah, atau mahkota yang mewah, atau pedang yang gagah, bergidik ketakutan karena menyangka di jam tangan tadi, ada jin yang menginfiltrasi.

Philip Hitti dalam History of The Arab menyampaikan kepada kita bahwa waktu itu, jarak peradaban kaum muslim di bawah pimpinan Harun Ar-Rasyid memang jauh melampaui peradaban orang-orang di bawah penguasaan Charlemagne. Tak heran, jika jam buatan kaum muslimin saat itu dianggap ada jinnya.

Mungkin, orang-orang seperti Hobsbawn akan mengelompokkan kita–saya–yang membawa-bawa kejayaan masa lalu di dalam prolog cerita, sebagai ekstrem kanan yang sebentar lagi menjadi antisemit, xenofobik, dan segala macam reka-reka aliran yang bahkan tak saya ketahui coraknya. Namun kerinduan akan masyarakat madani–yang maju dan beradab–atau pemimpin yang berprinsip sayyidul qaum khadimuhum (pemimpin sebuah bangsa adalah pelayan bangsa itu), membuat saya tidak bisa untuk tidak bercermin dari masa lalu.

“Dulu, kita beranggapan bahwa ummat ini,

sudah berada di dasar sebuah jurang yang sangat dalam;

tiada lagi kerusakan lebih hebat yang akan menimpanya.

Tetapi justru dasar yang dalam ini membuka mulutnya;

menjerumuskannya ke dalam terowongan yang tak berujung.”

–Safar Al Hawali dalam Wa’du Kissinger, dikutip dari Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah

Dulu, ketika ketauhidan mulai terkikis dan berhala-berhala mulai diimpor dari Syam ke Mekkah, orang-orang di zamannya mungkin mengira bahwa itulah keterjungkalan umat yang paling dahsyat. Atau ketika Al-Quran disebut sebagai makhluk. Atau ketika Dinasti Islam bubar dan karut marut. Atau ketika… dan ketika… bahkan ketika…

Ya, banyak sekali cerita yang sebenarnya telah digores oleh tinta para sejarawan dan ulama.

Tetapi, rasa-rasanya, benar sekali perkataan Safar Al Hawali. Bahwa keterpurukan itu seakan tak berhenti. Kini, dasar yang dalam tersebut justru terus membuka mulutnya. Membuat zaman seakan tak henti memperosokkan diri.

Lagi.

Dan lagi.

Maka, ada yang harus diluruskan ketika seorang muslim memperjuangkan pernikahan beda agama. Ada yang harus mengganjal di hati ketika orang-orang berkata bahwa Allah tidak butuh shalat kita–dalam pengertian-pengertian yang paling jahil. Ada yang harus direnungi ketika calon intelektual Islam malah mengambil perspektif tentang Tuhan yang membusuk.

Ada yang harus diingatkan ketika seorang muslim termakan berita bohong-berita bohong yang beredar merantai tanpa kejelasan sanad. Dan ada yang harus dinasihati ketika orang-orang muslim berbondong mengklaim keilmuan seseorang hanya berdasarkan pengakuan-pengakuan di internet–tanpa metodologi, atau bukti, atau alasan-alasan yang saintifik dan valid.

Islam is not championed by the denial of the sciences.” Imam Al-Ghazali

Maka, ada yang harus dievaluasi ketika umat muslim berbondong-bondong tertipu oleh orang-orang yang menggelari dirinya ustaz. Tertipu dengan paku di dalam telur atau listrik di permukaan sandal. Menjadikan sejarah seakan terbalik setelah seribuan tahun perjalanan waktu; terhitung sejak Charlemagne bergidik atas jin di jam pemberian Harun Ar-Rasyid.

Allahu Rabbi, bimbinglah kami dengan hati-hati. Kuatkan kaki kami untuk menapaki tarbiyah yang sangat panjang, karena inilah satu-satunya jalan yang tercepat. Sabarkan jiwa kami dalam melewati waktu yang sangat lama, karena hanya inilah cara yang paling menjamin. Lapangkanlah dada kami jika harus menempuh pengorbanan-pengorbanan yang menyakitkan, karena dengan inilah ashalah tetap terjaga.

***

Ada sebuah poin yang membuat saya berlama-lama merenung ketika berbicara mengenai sikap para sahabat dan para tabiin di waktu yang terdahulu: bahwa terkadang, tiap-tiap mereka memiliki titik lembut dan titik keras yang berbeda dalam menyikapi persoalan-persoalan umat.

Abu Bakar dan Umar Ibn Khaththab, misalnya. Salah satunya adalah ketika Abu Bakar, khalifah dengan bashirah yang sangat jernih itu, membuat keputusan bersejarah dengan mendeklarasikan perang terhadap kaum yang menolak membayar zakat.

“Demi Allah,” ujarnya, “Aku akan memerangi kaum yang telah memisahkan kewajiban shalat dengan kewajiban zakat! Aku akan memerangi mereka, jika mereka menolak untuk menyerahkan padaku kekang unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah!”

Dan Umar Ibn Khaththab, yang biasanya garang, malah bersikap redup dan lembut dengan berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, mereka tetaplah bagian dari kaum muslimin…”

Padahal, dalam kejadian yang lampau, ketika Rasulullah masih berada di antara mereka, Abu Bakar dan Umar Al Faruq memiliki sikap yang sangat terbalik dengan penyikapan mereka tentang zakat. Mungkin kita sudah sangat akrab ketika bicara tentang pendapat mereka atas tawanan Badar yang sangat menimur-barat.

Bahwa Abu Bakar mencondongkan pendapat pada upaya-upaya damai dengan mengambil tebusan, seraya mengatakan, “Yaa Rasulullah, mereka adalah kaum dan keluargamu. Biarkanlah mereka hidup dan berilah kesempatan untuk bertaubat, semoga Allah menerima taubat mereka.”

Sementara Umar Ibn Khaththab, justru berkata seperti matahari yang panas memanggang, “Yaa Rasulullah, mereka telah mendustakan dan mengusirmu, maka seretlah ke depan dan pancung lehernya!”

***

Muhammad ‘Abduh, seorang pemikir Mesir, seakan menampar saya berkali-kali dengan ungkapannya yang terkenal, “Al Islaamu,” ungkapnya, “mahjuubun bil muslimiin.” Bahwa keagungan Islam itu kini terhijab oleh kekerdilan pemeluknya.

Seakan membenarkan, entah kenapa saya seringkali kita menemukan kalimat-kalimat semisal, “Islam adalah agama yang sempurna, tetapi saya tidak sempurna. Kalau saya membuat kesalahan, salahkan diri saya, jangan agama saya.”

Sayangnya, tak banyak orang yang sempat membedakan dua hal tersebut. Seperti ketika saya membaca Faith Without Fear-nya Irshad Mandji (dan tak selesai), saya langsung berpikir bahwa apa yang ditulisnya adalah kilasan perjalanannya yang pahit dalam konteks kehidupan beragama. Ia menerjemahkan Islam berdasarkan apa yang dirasainya, bukan apa yang seharusnya. Dan begitulah orang lain seringkali melukiskan Islam; di mana muslim menjadi agen representatifnya.

Maka, meski berbekal kekurangan, meski tertawan aib yang Allah tutupi, meski ilmu yang masih seujung kuku, meski usaha untuk belajar selalu tertatih, menjadi dai sebelum segala sesuatunya adalah kebutuhan yang tak terelakkan. Menjadi orang yang menyingkirkan ranting atau menjadi pemimpin yang berbuat adil. Dakwah pada akhirnya adalah bangunan yang harus kita genapi bersama.

Dan karena manusia akhir zaman tidak mungkin sempurna, harus ada orang-orang yang keras pada titik berbeda. Supaya kelak dakwah itu berkumpul dan menyeluruh. Supaya kelak kita bersatu dan menjadi utuh.

***

Entah ini pembenaran, ataukah ini layak jadi alasan, belakangan saya merasa sangat galak terkait peredaran informasi di kubu teman-teman muslim. Nasihat tersebut seringnya saya lontarkan dengan sangat keras, tanpa ungkapan aling-aling semacam, “Afwan akh, sebaiknya…”

Tanpa terlebih dahulu melembutkan kekata semisal, “Afwan ukh, menurutku…”

Saya tidak tahu, apakah yang saya lakukan bisa menjadi rerimbun pembelajaran, atau hanya menjelma jadi ploncoan kata yang tanpa hikmah dan menyakitkan. Namun yang saya tuju adalah kehati-hatian para penggenggam ukhuwah, atas apa yang dipercayai dan tidak dipercayai. Dan yang saya tuju adalah ketelitian saudara-saudara seakidah, atas informasi-informasi yang semakin ke sini semakin rumit jalinan muasalnya.

Karena saya seringnya mendapati, kelemahlembutan hanya membuat keteledoran terulang lagi. Lihat saja pesan berantai tentang mayat-mayat muslim Rohingya, atau Suriah, atau Mesir, yang beredar dengan sangat masif dan lama. Inti kabar tersebut benar, hanya saja bumbu-bumbunya banyak yang keliru.

Bagaimana bisa membuat masyarakat–atau setidaknya orang-orang sekitar–mampu membedakan dukun dengan sebenar ustaz, kalau diri sendiri masih termakan hoax?

Karena informasi bisa memiliki efek yang sedemikian dahsyat. Ia bisa menguatkan atau melemahkan. Ia bisa membentuk atau menghancurkan. Ia bisa menyatukan atau mencerai-beraikan. Ia bisa mencerdaskan atau membuat umat makin terbelakang.

Tidak belajarkah kita tentang kabar terbunuhnya Rasulullah di tengah-tengah perang Uhud? Tidak belajarkah kita tentang Haditsul Ifk? Tidak belajarkah kita mengenai orang-orang fasik yang membawa berita–yang menyebabkan turunnya Al-Hujurat ayat enam?

Allah, bimbinglah kami. Bimbinglah diri ini.

Maka, maafkan, jika saya banyak khilaf dalam menasihati. Lancang dalam memberitahu. Cacat sebagai saudara. Terkesan tinggi hati lagi menggurui. Sungguh, rasa cinta kepada Dien ini dan pribadi-pribadi penggenggam ukhuwah, membuat saya ingin dari generasi kitalah lahir pejuang-pejuang terbaik Islam. Agar dari generasi kitalah, sejarah memulai titik baliknya. Yang mengajarkan anak-anak untuk menghargai pejuang Islam, dengan tidak menyebarkan kabar bohong tentang mereka. Yang mengetahui, bahwa kebohongan kecil atau berita tak valid yang terus menerus, akan terakumulasi dan merusak kredibilitas para penggenggam bara.

Mungkin mula-mulanya dengan membenahi jalur informasi, sementara berharap yang lainnya terus mengingatkan tentang tilawah, atau tentang hafalan Al-Quran, atau perbaikan hati, atau tentang kodrat sebagai Ibu dan Abi, atau tentang lainnya lagi, sehingga kita terus merengkuh semua aspek supaya kelak, apa yang tertulis dalam buku Dari Gerakan ke Negara dapat menjadi nyata.

Bahwa akan ada masa di mana umat manusia kesulitan membedakan; mana pesona kepribadian muslim dan mana pesona kebenaran Islam.

Advertisements

One thought on “Nasihat Nyalang dan Alasan-Alasan

  1. Teruslah menyerukan kebenaran, saudariku! Karena sekarang, masih samar mana kawan dalam dien ini.. Seperti dalam perang khandaq, semoga Allah menunjuki kita mana orang2 kafir, mana orang2 munafiq.. Assalamu’alaykum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s