Nabi Yusuf dan Kisah-Kisah Isra’iliyyat

“… sebagaimana Engkau persatukan Yusuf dan Zulaikha …”

Suatu hari, broadcast tentang pernikahan tersebar. Salah satu potongan pesannya berisi doa, “…persatukan kami sebagaimana Engkau persatukan Yusuf dan Zulaikha…” Kening berkerut. Sejak dahulu, cerita Nabi Yusuf yang saya ketahui hanya sebatas apa yang ada di Al-Qur’an saja. Sementara itu, Al-Qur’an sendiri tidak memuat periwayatan tentang pernikahan Nabi Yusuf dan Zulaikha. Bahkan, seperti yang disampaikan Ustaz Salim A. Fillah, Al-Qur’an hanya menyebut Zulaikha dengan sebutan “Imra-atul ‘Aziz” atau Istri Al-Aziz.

“Karena,” jelas Ustaz Salim, “perempuan ini masih memiliki rasa malu. Apa buktinya? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur’an.”

Namun titik lain yang perlu dicermati, Al-Qur’an memang tidak pernah menyebut sang perempuan dengan “Imra-atul Yusuf”. Bahkan, nama Zulaikha sebenarnya sudah dihapus dari terjemah-terjemah terbitan Depag. Diganti dengan frasa “Istri Al ‘Aziz”. Salah satu footnote di Al-Quran saya lebih lanjut menerangkan, “Dalam sebagian kitab tafsir disebutkan nama istrinya (maksudnya nama istri Al ‘Aziz yang membeli Nabi Yusuf sebagai budak adalah) Ra’il, dan ada juga yang menyebut Zulaikha atau Zalikha. Namun riwayat yang menyebutkan nama-nama tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan.”

Melihat keterangan-keterangan tersebut, doa, “Sebagaimana Engkau mempersatukan Yusuf dan Zulaikha…” ini memang pada akhirnya agak mengganggu. Maksudnya bagaimana?

Dalam perjalanan, saya mengerti bahwa ternyata cerita tentang pernikahan Nabi Yusuf dan Zulaikha ini memang sudah sangat viral. Penyebaran cerita tentang pernikahan Nabi Yusuf dan Zulaikha sendiri, sebenarnya tak begitu masalah, karena kisahnya pun disandarkan pada kitab-kitab dari ulama yang muktabar. Yang saya cek baru di Tafsir Ibnu Katsir. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa di tafsir Ath-Thabari juga ada kisah serupa.

Sebenarnya memang, yang mengganggu adalah jika kisah tersebut jadi sandaran untuk doa. Mengingat bahwa perjalanan hubungan Nabi Yusuf dan istri Al-‘Aziz kurang pas jika disejajarkan dengan hubungan Rasulullah-Khadijah atau ‘Ali dan Fatimah. Dan dibanding itu semua, yang sangat-sangat mengganggu adalah tulisan (maupun penyampaian dalam bentuk lain) yang mencoba menyampaikan ibrah dari Q.S. Yusuf ayat 24 dengan tafsir yang kurang tepat.

QS. Yusuf Ayat 24

Dalam Al-Qur’an yang tidak ada bantuan tajwidnya (seperti bantuan waqaf صلى dan waqaf ج yang ada di atas), orang-orang bisa saja membaca ayat tersebut dengan “وَلَقَدْهَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا” alias berhenti di tengah-tengah sehingga terjemahannya menjadi “Dan sungguh perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf) dan ia (Yusuf) pun berkehendak kepadanya (istri Al-‘Aziz)”.

Dari riset pencarian di internet, saya juga menemukan banyak artikel yang seakan membenarkan penafsiran yang demikian. Kemudian mengambil kesimpulan sendiri, bahwa ayat tersebut sedang mengisahkan sekelumit hasrat Nabi Yusuf. Bahwa jauh di lubuk hatinya, sesungguhnya Nabi Yusuf memang mencintai Zulaikha, memiliki kehendak kepadanya, dan sempat berhasrat pula kepadanya, sampai kemudian datang tanda dari Allah sehingga Nabi Yusuf bisa menolak godaan dari istri Al-‘Aziz (contohnya pada kisah yang ada di laman ini dan ini). Dalam beberapa pengajian tematik yang saya datangi, penyampaiannya juga terkadang seperti itu.

Dan penafsiran yang kurang tepat itu kemudian dipaksa tepat. Caranya adalah dengan menjalin penafsiran tentang hasrat Nabi Yusuf itu, dengan potongan kisah-kisah romantis yang pernah disampaikan para ulama. Di antaranya dengan mencantumkan dialog ini setelah pernikahan mereka:

“Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu, wahai Ra’il?” tanya Yusuf kepada pengantinnya. “Wahai orang yang tepercaya,” jawab Ra’il pada Yusuf, “Janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu. Ketika kita bertemu dulu, jujur dan akuilah, bahwa di matamu aku pun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan, dan segalanya aku punya. Namun, ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan mana pun, termasuk aku. Lantas aku pun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu, wahai Nabi Yusuf.” 1)

***

Kalau bahasa Inggris mengenal beberapa bentuk conditional if, maka, jika mau disederhanakan, bahasa Arab juga mengenal tiga jenis pengandaian.

Pengandaian bentuk pertama diawali dengan kata “إِذَا”. Pengandaian jenis ini banyak terdapat pada ayat-ayat awal dalam juz-juz akhir Al-Quran. Kalimat yang diawali dengan kata “إِذَا” secara makna merupakan kalimat pengandaian yang mengandung kepastian. Pasti terjadi. Seratus persen. Di dalam Al-Qur’an, Allah menggunakan “إِذَا” untuk menegaskan janji, menegaskan sesuatu yang pasti akan menghampiri.

Mengetahui itu, maka kita harusnya bisa lebih jauh meresapi, sesungguhnya kata “إِذَا” yang ada pada ayat, misal,   اِذَا وَقَعَتِ الْوَا قِعَةُ  di surat Al-Waqi’ah, memang kurang menemukan padanan yang serasa. Terjemahnya sekadar: apabila terjadi hari kiamat. Padahal ada makna lebih yang tersembunyi di balik kesederhanaan kekata “apabila”: bahwasannya Allah sedang mengabarkan sebuah kehakikian yang niscaya. Singkatnya, walaupun digambarkan dengan berandai-andai, kiamat itu pasti terjadi.

Bentuk kedua yakni pengandaian yang diawali dengan kata “إِنْ”. Pengandaian ini lebih dekat dengan struktur dan makna kata “apabila” dalam bahasa Indonesia. Kebenaran yang dikandung dalam pengandaian diawali “إِنْ” adalah kebenaran yang 50:50. Bisa iya, bisa tidak. Di Al-Quran, Allah biasa memakai kata “إِنْ” dalam menggambarkan kondisi manusia yang memang ditakdirkan untuk memiliki kehendak–entah itu kehendak untuk ingkar atau untuk taat.

Oleh karenanya, setelah mengetahui ini, kita mulai bisa menilik arti tersembunyi dalam ayat yang terkenal di kalangan aktivis dakwah; QS Muhammad ayat 7. Dan kita bisa lebih paham, bahwa potongan ayat اِنْ تَنْصُرُوااللهَ يَنْصُرْ كُمْ yang sebagiannya (اِنْ تَنْصُرُوااللهَ) memiliki arti “Apabila kamu menolong agama Allah…” memang disengajakan untuk memiliki bentuk seperti itu. Tidak memakai “إِذَا” atau bentuk-bentuk pengandaian yang lain. Untuk menegaskan bahwasannya, adalah sunatullah, adalah ketetapan Allah, kalau sebagian dari manusia akan menolong agama Allah sementara sebagiannya lagi justru akan berlaku sebaliknya. Contoh lain yang lebih mudah dipahami adalah kata “إِنْ” dalam kalimat “Insya Allah” yang memiliki arti “Apabila Allah berkehendak” dan memiliki makna “Bisa saja Allah berkehendak, bisa pula tidak”.

Dan terakhir, adalah pengandaian yang diawali dengan kata “… لَوْلا…” atau  “لَوْ…ل”. Kalimat yang diandaikan dengan bentuk seperti itu, maknanya mengandung kemustahilan. Kondisinya tidak pernah ada. Tidak mungkin ada. Dan tidak mungkin terjadi. Seperti dalam potongan ayat berikut, فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآاَخَّرْتَنِيْ اِلى اَجَلٍ قَرِيْبٍ , yang terdapat dalam surat Al-Munafiqun ayat 10 dan memiliki arti “Ya Tuhanku, apabila Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi…” 2)

Kita jadi tahu. Kita sungguh menjadi tahu.

Bahwa pengandaian tersebut sia-sia. Permohonan tersebut juga percuma. Allah tak akan menunda kematian manusia, sekali pun kita berjanji untuk bersedekah lebih banyak atau berlari lebih kencang untuk mensejajari langkah golongan orang-orang shalih jika diberi kesempatan kedua.

Allah mustahil menunda kematian kita dan mengembalikan kita lagi ke dunia karena permohonan dan janji-janji manis manusia. Bukan karena Ia tak kuasa, melainkan karena Ia Maha Adil dalam melaksanakan segala aturan main-Nya.

Karena Allah memang telah berkali-kali memperingatkan kita, bahwa “amal” hanya punya tempat di dunia. Dan dunia ini hanya akan kita singgahi satu putaran saja.

***

Setelah kita tahu sekelumit tentang kalimat-kalimat pengandaian dalam bahasa Arab, semoga kita bisa memaknai Q.S. Yusuf: 24 dengan pemaknaan yang lebih sesuai. Kita bisa cocokkan bahwa berdasarkan penjelasan di atas, Q.S. Yusuf: 24 memiliki bentuk yang ketiga. Ada kata “… لَوْلا…” di sana.

Dalam ayat tersebut, tanda “koma” (alias waqaf صلى dan waqaf ج) bisa kita lihat mengapit potongan ayat yang artinya, “… dan ia (Yusuf) pun berkehendak kepadanya (Istri Al-‘Aziz) apabila ia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.”

Jadi, bersandar pada bentuk pengandaian yang ketiga, apakah Nabi Yusuf melihat tanda dari Allah? Ya. Mustahil Nabi Yusuf tidak melihat tanda dari Allah. Maka logika semantik yang tercipta selanjutnya adalah: pada kejadian tersebut, hasrat buruk, lintasan hati yang buruk, kecenderungan zina, atau apa pun sebutannya, juga tidak pernah ada pada diri Nabi Yusuf. Mustahil ada. Tidak mungkin ada.

Allah hanya sedang mengandai-andaikan dalam kalimat-Nya yang tinggi, bahwa godaan itu memang sedemikian besarnya. Tetapi, dari bentuk kalimatnya, kita bisa tahu bahwa Allah tidak sedang menceritakan bahwa Nabi Yusuf sempat memiliki hasrat buruk. Akan menjadi blunder besar ketika Islam mengenalkan kita pada konsep kemaksuman Nabi, kemudian Allah mengisahkan Nabi-Nya yang sempat memiliki lintasan pikiran buruk–untuk berzina, misalnya.

Tetapi apakah Nabi Yusuf dan Zulaikha nantinya akan benar-benar menikah? Tunggu dulu. Bahasan-bahasan semantik rasanya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

***

“Kisah Isra’iliyyat” sering kali menjadi nama pendek untuk menyebut kelompok riwayat-riwayat yang berasal dari kitab suci Bani Isra’il atau bangsa Yahudi. Beberapa lagi berpendapat bahwa kisah-kisah isra’iliyyat adalah segala cerita yang dibawa oleh ahli kitab.

Terkait itu, ada tiga sikap yang harus kita pegang jika berinteraksi dengan kisah-kisah isra’iliyyat. Pertama membenarkan jika itu sesuai dengan syariat, kedua menolak jika itu bertentangan, dan terakhir, diam jika kisah tersebut sekiranya tidak dapat ditemukan penjelasannya dalam Al-Qur’an atau hadits, tetapi masih bisa memiliki potensi benar dan salah. Seperti kisah Nabi Yusuf ini.

Rasulullah sendiri sebenarnya telah memberi petunjuk yang jelas terkait sikap kita terhadap kisah-kisah tersebut, “Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya, tetapi katakanlah; kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang telah diturunkan kepada kami.” (HR Bukhari).

 

Dan saya selalu setuju terhadap pesan seorang ustazah tentang kehati-hatian dalam beragama. Hal itu kemudian menular menjadi kehati-hatian dalam berdoa. Apalagi soal jodoh–terutama soal jodoh. Berharap ada kebaikan lebih yang dibawa oleh kehati-hatian kita dalam menyandarkan pemisalan di tiap kelindan pinta.

Wallahu ‘alam bish shawab.

——-

1) Adegan tersebut dicatat oleh Ath Thabari dalam Tarikh dan Jami’ul Bayan-nya. Sedangkan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juga mencatat hal serupa, yakni sebagai berikut:

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa menurut kisah yang sampai kepadanya–hanya Allah yang lebih mengetahui–Qitfir meninggal dunia di hari-hari itu. Lalu Raja Ar-Rayyan ibnul Walid mengawinkan Yusuf dengan bekas istri Qitfir, yaitu Ra’il. Ketika Ra’il masuk ke kamar Yusuf, maka Yusuf berkata kepadanya, “Bukankah ini lebih baik daripada apa yang engkau inginkan dahulu?” Menurut mereka, Ra’il berkata kepada Yusuf, “Hai orang yang dipercaya, janganlah engkau mencelaku, sesungguhnya apa yang engkau lihat sendiri adalah seorang wanita yang cantik jelita lagi bergelimang di dalam kemewahan kerajaan dan duniawi, sedangkan bekas suamiku dahulu tidak dapat menggauli wanita. Dan keadanmu seperti apa yang dijadikan oleh Allah dalam keadaan demikian rupawan dan tampan (sehingga membuatku tergoda karenanya).”

Namun keduanya, baik Ath-Thabari dan Ibnu Katsir, tidak berkomentar atas keisra’iliyyatan kisah tersebut. Selain itu, dalam Tarikh, Ath-Thabari sebenarnya telah berpesan, “Jika ternyata dalam kitabku ini terdapat suatu riwayat yang tidak enak didengar karena tidak jelas kevalidan dan hakikatnya, maka (itu berarti) penjelasan tentang itu belum pernah aku dapatkan dari orang-orang sebelumku. Itulah sebabnya, aku hanya menulis apa saja yang sampai ke tanganku.”

2) Maksudnya adalah meminta dikembalikan ke dunia.

Advertisements

2 thoughts on “Nabi Yusuf dan Kisah-Kisah Isra’iliyyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s