Yunani: Tentang Kemampuan Manusia Untuk Tetap Singgah

“At this point, the future of Greece, is leaving…”

Saya ingat sekali pada momen ketika John Burch, salah seorang senior advisor dari lembaga pemerintahan Australia, menyatakan hal tersebut dalam sebuah diskusi informal tentang krisis ekonomi Yunani beberapa hari yang lalu. Saya seketika merasa, adalah benar, bahwasannya perang bukanlah satu-satunya hal yang membuat warga negara eksodus dari tanah airnya tercinta.

Krisis Yunani sesungguhnya merupakan permasalahan yang pelik, permasalahan fundamental yang telah memboroki negara itu sejak lama. Beberapa tulisan yang berseliweran di media sosial kita menyatakan bahwa Yunani adalah korban dari currency war. “Yunani mati karena perang mata uang,” sabda mereka. Namun, jika melihat lebih tajam ke dalam sejarah negeri kelahiran para filsuf itu, kita akan menemukan bahwa alasan krisis Yunani tidak sesederhana empat kata ini: tumbang karena mata uang.

Mari kita lihat dari tahun 1993, tahun di mana ternyata Yunani sudah memulai kebiasaan berutang dan bermain-main dengan anggaran. Utang negara tersebut harus dicicil pemerintah dengan bunga yang tinggi. Imbal hasil yang harus dibayar oleh pemerintah kepada kreditur melambung, mencerminkan risiko Yunani yang tinggi.

Keadaan sedikit berubah dengan rencana pembentukan Euro Area. Risiko Yunani perlahan-lahan menurun. Sampai kemudian, palu diketuk. Dan Drachma, mata uang Yunani sebelumnya, berganti dengan Euro sang mata uang bersama. Pada titik di mana Euro Area resmi dibangun, risiko ekonomi negara yang tergabung di dalamnya secara kompak menjadi rendah dan stabil. Obligasi-obligasi pemerintah dijual dengan tingkat pengembalian yang rendah. Euro Area menjadi sangat jemawa dengan adagiumnya, “Kita akan membeli segalanya,” yang menyiratkan bahwa otoritas Euro Area akan melakukan bail out, mengulurkan genggam pertolongan, pada siapa saja anggotanya yang mengalami krisis.

Orang-orang Eropa mencintai Eropa.

Namun, segala kejayaan itu kini mulai tampak bercela. Sebut saja Convergence Rules, syarat-syarat yang dulu pernah dibuat agar sebuah negara mendapat izin untuk bergabung ke Euro Area. Salah satu syaratnya tersebut jelas: utang berbanding GDP harus di bawah 60 persen.

Adakah Yunani sebenarnya memenuhi syarat tersebut? Kebenarannya buram. Kita terlalu sok tahu jika menyematkan gelar “Negara Kebohongan” pada negara dewa-dewi itu, pun terlalu naif jika berkata bahwa Yunani bergabung ke Euro Area karena statistik ekonomi mereka secemerlang itu.

Rekam jejak setelahnya, setelah berbelas tahun tahun jeda, tak lantas lebih baik. Para ekonom tersedak. Mungkin beberapa dari mereka sampai tak sengaja meludahi cangkir kopinya sendiri. Kaget. Heran. Sinisme. Yang jelas ada satu masa di mana tajuk utama kantor-kantor berita Eropa mengabarkan tentang pengakuan Yunani atas kebohongan statistik pada defisit anggarannya.

Tetapi sebelum lebih dalam ke situ, marilah kita melakukan kilas balik terhadap apa yang terjadi di tahun 2007-2008. Guncangan itu dikenal dengan sebutan Global Financial Crisis. Mulanya dari kredit perumahan, kemudian kejatuhan Lehman, pengusaha Yahudi yang kini jadi olok-olok di film Minion, dan kemudian menular secara sistemik ke negara-negara di dunia. Terutama negara mitra utama Amerika, yang mana banyak sekali.

Dan krisis tersebut dialami oleh tak terkecuali Eropa. Orang-orang Eropa kemudian sadar, bahwa slogan yang selama ini mereka bangga-banggakan, “Kami akan membeli semuanya,” telah jatuh dalam vonis kedaluarsa. Otoritas Euro Area tertampar. Realitanya, mereka tidak bisa menolong semua anggotanya yang sekarat.

Kisah berlanjut. Di titik itu, grafik risiko negara-negara Eropa mulai mencuat. Euro melemah. Pemerintah negara-negara anggota Euro juga harus membayar bunga utang yang lebih tinggi kepada kreditur. Orang-orang mulai menarik kepercayaannya dari Eropa.

Terutama kepercayaan mereka terhadap Yunani.

Walaupun begitu, beberapa negara di Eropa masih baik-baik saja karena kondisi fundamentalnya yang cukup mumpuni. Spanyol dan Perancis contohnya, dua negara yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Eropa seperti yang terlihat pada kuartal pertama 2015.

So this is now a Greek Crisis, not a Eurozone crisis…

***

Mari kembali ke Yunani, tepatnya saat opera sabun negara tersebut baru saja di mulai. Pada akhir tahun 2009, Perdana Menteri Yunani semasa itu, Papandreou, mengakui kalau statistik ekonomi mereka selama ini bersembunyi di balik dinding-dinding kebohongan. Bahwa defisit anggaran mereka tinggi, tak pernah di bawah tiga persen. Bahwa utang mereka meningkat. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Yang membuat orang-orang terkejut. Yang membuat kepercayaan kreditur semakin mengendur. Yang membuat lembaga-lembaga rating berbondong-bondong, secara cepat walaupun bertahap, menurunkan rating mereka. Dari peringkat yang di atas rata-rata, hingga kini berada pada level junk. Sampah.

Kemudian ekonom-ekonom mulai melontar pendapat. Bahwa selama ini, belanja pemerintah Yunani untuk hal-hal yang tak produktif amatlah tinggi. Uang pensiun mereka bahkan besarnya mencapai 18 persen dari GDP. Belum lagi gaji pemerintah dan entah tunjangan sosial apa lagi, yang seperti dihamburkan dari atas pesawat. Dan Yunani makin terpuruk ketika karat-karat statistik mereka lebih lanjut diungkap. Bahwa penganggurannya lebih dari 25 persen, dan yang menganggur itu adalah orang-orang di usia produktif. Pensiunan mereka terlalu muda, usia 50-60 tahun sudah bisa leha-leha di rumah sambil menikmati tunjangan pemerintah. Kemampuan mengumpulkan pajak rendah, sekitar 89 persen dana pajak masih ada di dompet-dompet masyarakat.

Yunani lagi-lagi menyambung napasnya dengan berutang. Namun seperti adiksi buruk yang tak ketulungan, utang-utang itu tersebut lagi-lagi digunakan untuk membiayai hal-hal yang tak produktif. Sampai akhirnya mereka bermain dengan IMF, lembaga yang menangani negara-negara sakit moneter. Keriuhan lantas muncul di awal Juli 2015: IMF membuat pernyataan resmi bahwa mereka belum menerima pembayaran utang Yunani yang telah jatuh tempo. Bahasa tak bersayapnya: Yunani gagal bayar. Default. (1)

Walaupun begitu, Alexis Tsipras, Perdana Menteri Yunani yang sekarang, masih berjuang melakukan lobi agar tempo pembayaran utang diperpanjang. Mencoba pada idealismenya untuk tak mau menerima syarat austerity sebagai persyaratan diutangi kembali oleh gembong Troika. Mencoba meyakinkan masyarakat bahwa Yunani bisa keluar dari krisis tersebut. Tetapi, segala kekacauan terlanjur menyumsum tulang.

Bank-bank telah ditutup. Antrean tetap mengular walaupun pengambilan uang di ATM dilimitasi. Bursa juga sempat ditutup. Bayangkan jika Yunani ditendang dari Euro Area dan mata uangnya kembali menjadi Drachma. Uang-uang para penabung itu akan terdepresiasi gila-gilaan. Gelombang kesengsaraan sudah di depan mata.

Ada sebuah statistik yang mungkin bisa membuat Yunani kembali menangis dan merenung linglung. Adalah persen perubahan populasi tahunan yang semakin minus sejak 2011 (tahun 2014 angkanya sekitar minus 75 persen). (2)

Karena tidak ada berita tentang wabah kematian besar-besaran di Yunani, maka kita bisa menyimpulkan bahwa berkurangnya populasi dalam statistik tersebut menggambarkan tingkat eksodus warga negaranya. Orang-orang pergi dari Yunani. Mereka tak mampu singgah.

Sebagai selingan, John bercerita kalau Australia, kampung halamannya, adalah salah satu wilayah yang menjadi tujuan eksodus mereka. Orang-orang Yunani sejak beberapa tahun lalu tampak mendominasi salah satu sudut wilayah Melbourne.

Data tentang eksodus itu, ketika digali, ternyata menggambarkan sesuatu yang lebih pelik lagi: komposisi penduduk yang tinggal di Yunani semakin memperjelas keadaan mereka yang membenang kusut. Yang singgah kebanyakan orang-orang muda yang menganggur. Atau orang-orang usia kerja yang bekerja seadanya. Atau orang-orang tua yang menikmati tunjangan pensiun. Sedangkan anak-anak muda terdidik yang memiliki keahlian, uang, dan semangat kerja, justru menjadi golongan yang mendominasi gelombang emigrasi itu. Mereka telah sejak lama lari dari negeri dewa-dewi itu. Membawa pergi kenangan sekaligus masa depan Yunani.

“At this point, the future of Greece, is leaving…”

Ada tiga pelajaran yang dapat saya tangkap dari Yunani.

Pertama, bahwa krisis Yunani lebih berakar pada masalah fiskal dan birokrasi ketimbang masalah moneter (atau konspirasi-konspirasi currency war).

Kedua, kebohongan “orang-orang langit” terkait kondisi perekonomian negaranya, hanya akan mengantar negara tersebut kepada posisi sebenarnya: sampah.

Dan terakhir, ada masa di mana rasionalisme akan mengalahkan nasionalisme.

Dan ketika masa itu tiba, orang-orang yang duduk di kursi otoritas tidak bisa lagi memakai senjata “nasionalisme” untuk membuat anak negeri nan berprestasi tetap bertahan di tanah kelahirannya. Toh perjuangan mempertahankan masa depan memang seharusnya sesulit itu, memang seharusnya tak hanya berbekal kata mutiara dari John F. Kennedy yang sangat terkenal itu, “Jangan tanyakan apa yang negara beri kepadamu…”

Ada sesuatu yang lebih yang harus dibuktikan.

Karena ada titik di mana kemampuan seseorang untuk tetap singgah, lebih didasari oleh pertimbangan-pertimbangan rasional ketimbang emosional seperti “cinta tanah air”.

Tiba-tiba, kalimat “Eropa adalah masa lalu,” yang dikatakan oleh Profesor dari Singapura seperti menjadi benar dalam segala pemaknaan–bukan hanya dalam konotasi arsitektur saja.

Yunani.

Mungkin kini, bagi anak-anak muda yang tak mampu singgah itu, cerita dewa-dewi Yunani yang sangat masyhur di lampau waktu secara tiba-tiba menjelma menjadi dongeng pahit dan entah bagaimana, terasa mengganggu.

***

(1) IMF dan geng, berkaitan dengan gagal bayarnya Yunani, sebelumnya telah menawarkan bantuan utang lagi dengan syarat agar Yunani melakukan pengetatan pada pos-pos belanja yang tidak produktif, yang mana syarat tersebut dikenal dengan istilah austerity. Namun pemerintah Yunani menolak tawaran tersebut. Karena tanpa disuruh pun, sebenarnya Yunani sudah banyak melakukan pengetatan ikat pinggang. Mereka memilih mengajukan proposal penundaan pembayaran ke IMF dan melaksanakan referendum 6 Juli mendatang. Referendum itu, tak seperti yang tersebar di Indonesia secara berlebihan dan tak bertanggung jawab, bukan memilih antara tetap merdeka atau menjadi negara jajahan. Tetapi memilih apakah masyarakat mau menerima syarat austerity atau tidak.

(2) Annual population % change, Eurostat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s