Tahniah Idul Adha

“Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?”

“Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” Tanya perempuan itu, Hajar, saat Nabi Ibrahim membawanya ke padang gersang yang sepi dengan kemendang udara yang panas membakar. Nabi Ibrahim hampir membisu di sepanjang perjalanan, hanya isyarat yang ia gesturkan: bahwa dirinya akan meninggalkan perempuan itu di sana, dengan sang bayi dan beberapa buah kurma.

“Benar,” akhirnya, Nabi Ibrahim menjawab dengan tegar. Sang Nabi berserah pasrah. Taat membuatnya kuat. Kalut tak membuatnya berhenti dan mundur teratur dari Sang Pemberi Amanat. Sang Nabi melawan sergapan rasa punya, menyelisihi rasa tak tega.

“Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami,” ungkap Hajar dengan ketawakalan yang sama.

Dan begitulah kisah mengalir sampai kita tahu di mana akhirnya. Tentang lari-lari kecil di antara dua bukit, tentang sumur zam-zam, tentang Bapak Ketauhidan sang kakek moyang Muhammad.

Kini, empat ribuan tahun kemudian, padang gersang tersebut telah bertransformasi menjadi tempat suci yang teramat ramai. Teramat hidup dengan hamba-hamba yang mengingat-Nya setiap detik. Baitullah, julukannya. Rumah Allah. Semoga tiap kita berkesempatan bermalam di bawah langit rumah-Nya.

***

“Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu,” ungkap Nabi Ismail ketika ayahnya berkata bahwa Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran surat Ash-Shaaffaat ayat 102, Ismail pun berkata kembali untuk menenangkan sang Ayah, “Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dan begitulah kisah mengalir sampai kita tahu di mana akhirnya. Tentang Ibrahim yang kemudian membaringkan sang anak atas pelipisnya, tentang penyerahdirian keduanya yang begitu nyata, tentang mukjizat Allah yang menjadikan segala ujian tersebut berakhir bahagia.

Kini, ketika memaknai rasa memiliki, mengartikan sesungguh sabar, segenggam ikhlas, sehakikat hamba, dari kisah merekalah umat banyak belajar.

***

“Ya, Allah! Sesungguhnya ini dari-Mu dan untuk-Mu, kurban dari Muhammad dan umatnya,” didahului asma-asma-Nya yang indah, Rasulullah berikrar yakin.

Riwayat lain memiliki redaksi, “Bismillahi Wallahu Akbar. Ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban,” kemudian, kambing kibasy itu pun menjadi hewan sembelihan. Takwanya terkirim kepada Sang Maha Penggenggam.

“Daging-daging dan darah Qurban itu sekali-kali bukanlah yang sampai pada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang akan mencapai-Nya.” Q.S. Al-Hajj ayat 37.

Dan begitulah kisah mengalir sampai kita tahu di mana akhirnya.

Kini, kita pun mengerti, betapa Kekasih Allah bernama Muhammad, amat memikirkan, menyayangi, dan selalu mengingat umatnya. Duhai umat, kita beroleh cinta yang tanpa cacat.

***

Maka sungguh, hari ini, dalam penanggalan hijriyah, adalah hari yang bertoreh sejarah dan bertebaran makna. Menggerimiskan langit, bumi, dan segenap hati manusia yang merenungi.

Maka katakanlah, “Sungguh, salatku, ibadahku (kurbanku), hidupku dan matiku untuk Allah, Rabb Semesta Alam Raya…”

Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H.

-Saputri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s