Teruntuk Widya

Di antara setangkup senja, seikat renjana

Di bawah langit yang merefleksikan semburat bahagia

Berkelindan doa-doa

Melangit angkasa

Semoga mawaddah, sakinah, dan rahmah selalu menyertai perjalanan dua anak manusia

Menggenapkan separuh lagi bagian agama.

***

Sebuah jajak pendapat sederhana yang dilakukan di kalangan anak-anak pengemban dakwah, pegiat agama, mengawali sebuah nasihat dari Ustaz Salim. Simpulan dari jajak pendapat tersebut, tutur sang Ustaz, “…membuat dahi kami bekernyit.”

Apa pasal? Karena mereka, anak-anak yang diharapkan menjadi pewaris perjuangan orang tuanya, sebagian besarnya malah justru berkata, “Kalau sudah besar, kami tak mau menjadi seperti abi dan ummi. Kami ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja.”

Anak-anak itu tak ingin lagi mengulangi, menjadi ayah dan ibu yang jika pulang hanya menyisakan lelah, getah, dan keluh kesah. “Kami ingin ada dan hadir untuk keluarga seutuhnya.”

Ustaz Salim lantas menyampaikan petuah agar tiap-tiap manusia yang akan menjadi orang tua selalu ingat untuk bercermin. Dan bukan. Yang dimaksud bukan bercermin dalam pengertian-pengertian yang penuh kiasan, tetapi bercermin dalam pengertian mula-mula, pengertian yang benar-benar harfiah.

Bercermin, supaya wajah-wajah yang kusut, dapat sejenak sembunyi. Bercermin, supaya binar mata, gurat bahagia, serta rasa cinta dapat sejenak kembali di tengah-tengah kelelahan nan fitrah, kelelahan atas manusianya kita.

Karena, pesan sang Ustaz, “Istri mereka lebih berhak atas pesona dirinya daripada atasannya. Anak-anak mereka lebih memerlukan keakraban cintanya dibanding para mitra kerja.”

Sehingga bercermin dalam makna yang harfiah pun, adalah kebaikan yang muaranya sebesar: menjaga kelangsungan dakwah.

Nasihat Ustaz Salim tersebut sesungguhnya ditunjukkan untuk lelaki yang pulang pasca bertebaran mencari nafkah di muka bumi. Dan amanah yang tertitip untuk seorang perempuan ‘hanya’ berupa, “Ingatkanlah suamimu untuk bercermin.”

Namun, karena saat ini beberapa perempuan memiliki kondisi yang mengharuskannya bekerja, maka amanah untuk bercermin juga terpatri pada diri perempuan. Karena keluarga yang menanti di rumah, sungguh berkali lipat lebih berhak atas keakraban senyum dan keramahan muslimah.

Ya, sebegitu di akhir zamannya kita hidup sebagai manusia, sehingga bahkan, untuk bercermin pun, perlu diingatkan.

***

Widya shalihat, ketika menulis ini, aku teringat sebuah pertanyaan. Lama sekali, mungkin berbulan yang lalu, sahabat kita tercinta, Icha, pernah melontarkan sebuah topik untuk didiskusikan. Pertanyaan yang baik sekali, namun juga sulit sekali untuk dijawab. “Apakah hikmah di balik perbedaan sikap Rasulullah dan Abu Bakar menyoal khadim bagi putri-putrinya?” tanyanya.

Sebagaimana yang diceritakan sejarah, Abu Bakar memang memberikan khadim untuk membantu putrinya mengurus pekerjaan rumah tangga, sementara Rasulullah menawarkan pilihan yang lebih baik bagi Fatimah: berdzikir mengingat Rabb-Nya.

Widya, mungkinkah Islam memang selalu menyediakan dua kondisi pada hal-hal yang sifatnya muamalah? Seperti Asma’ binti Abu Bakar yang memiliki khadim dan Fatimah binti Rasulullah yang tidak punya. Seperti Khadijah yang santun lagi penuh berani untuk melamar Rasulullah, dan Fatimah yang malu-malu menyimpan perasaannya kepada Ali bin Abi Thalib.

Bahkan, di luar muamalah, dalam kondisi perang misalnya, ada yang memang harus pergi dan ada orang-orang yang harus tetap singgah.

Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Q.S. At Taubah: 122

Dua kondisi. Sehingga yang mempekerjakan khadim maupun yang tidak, yang seperti Khadijah maupun yang seperti Fatimah, yang pergi ke medan perang maupun yang menuntut ilmu, mungkin memang tak sepatutnya saling mempertentangkan.

“Apakah hikmah di balik perbedaan sikap Rasulullah dan Abu Bakar menyoal khadim bagi putri-putrinya?”

Widya shalihat, apakah Widya sudah menemukan serak-serak hikmah sebagaimana yang ditanyakan dalam pertanyaan tersebut?

Karena, bagiku pertanyaan itu masih beroleh tanda tanya.

Yang aku paham hanya, mereka adalah generasi terbaik umat yang membina pernikahan dengan tak semata karena hubungan emosional dan perasaan.

Yang aku paham hanya, baik Asma binti Abu Bakar maupun Fatimah binti Rasulullah, keduanya mampu mencetak generasi yang mewariskan perjuangan Rasulullah dan ayah-ibunya. Yang tidak cengeng dengan agenda-agenda dakwah orang tuanya.

Hasan atau Husain bin Ali. Abdullah atau Urwah bin Zubair.

Walaupun orang tua-orang tua mereka memiliki perbedaan dalam teknik-teknik meniti kehidupan, jalan utama yang mereka lewati tetap jalan menuju-Nya. Begitu tenang, begitu berkah. Keberkahan yang bahkan mampu kita rasakan hingga sekarang—setidaknya saat kita membaca berparagraf-paragraf kisah mereka radhiyallahu ‘anhum.

***

Widya shalihat, apakah Widya ingat suatu pagi saat langkah-langkah kita berderap melingkungi kampus tercinta? Waktu itu aku datang terlambat, sementara Widya telah menunggu di teras Pusat Mahasiswa. Aku memakai rok-cardigan-kerudung serba hitam, sementara Widya memakai pakaian terbaiknya—dan yang aku ingat memang Widya selalu mengaku-ngaku memakai pakaian terbaik ketika bertemu saudari-saudarinya :p

Duh Widya, betapa Widya banyak mengajari.

Waktu itu, kaki-kaki kita berjalan beriringan. Kita bertukar pikiran, berbicara mengutara-selatan, sampai akhirnya, ketika matahari sepenggalahan, kita jatuh lelah dan memutuskan membeli es susu kacang. Kita daratkan sandaran kita di masjid tercinta. Membiarkan segala pembicaraan dan curhat colongan mengalir lagi dengan sendirinya.

Tentang sebuah nasihat, agar gerak tak tergadai kecintaan dan kebencian orang. Tentang berpegang dan bertahan. Tentang dakwah yang kita cintai. Tentang siyasi. Tentang mengapa kita di sini. Tentang mengapa memilih jalan ini.

Kita, dua perempuan sok tahu ini, bercengkrama berpayungkan pohon Bintaro.

Widya yang baik, sungguh, kenangan itu hingga sekarang terasa meneduhkan.

“Pernikahan adalah perkara yang peka, kembali pada masing-masing pribadi dalam meraih keberkahannya,” Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Widya shalihat, Widya yang suka ‘menipu’ orang dengan membuka tulisannya memakai kalimat serupa, “Kuliah munakahat bersama Ustadz Masturi dulu…” (padahal isinya jauh dari hal-hal merah jambu), mohon maaf jika tulisan ini harus datang terlambat.

Tak hendak sekadar melunasi janji dan menulis asal-asalan, karena sungguh, membingungkan rasanya menulis pesan kepada orang yang sebenarnya lebih patut untuk memberikan nasihat.

Sudah bilangan pekan berlalu semenjak akad mengikat Widya dengan seorang lelaki.

Dan dalam proses tersebut, bahkan jauh sebelum proses tersebut, Widya sungguh telah mengajariku banyak. Bahwa sebagaimanapun butanya kita tentang apa yang akan menghadang di depan dan timur dan barat, sebagaimanapun khawatirnya kita dengan segala pertanyaan kita mengenai sosok yang akan menemani hidup sampai bertemu maut, sebagaimanapun ketidakberdayaan seakan mengempas kita tiap memikirkan berdepa-depa takdir yang akan menuntun dan menuntut, Widya mengingatkan bahwa Pencipta kita sungguh Maha Pemurah. Ia membekali manusia dengan senjata doa. Hanya kita yang kemudian tinggal memutuskan; apakah ingin memakainya atau tidak.

Widya, yang mendahulukan orang tua dalam menilai (waktu itu masih calon) suami Widya ketimbang mendahulukan preferensi Widya sendiri, menyadarkan bahwa Pencipta kita sungguh Maha Penyayang. Dibekali-Nya manusia dengan semesta akal sehingga tiap insan dapat memilih caranya sendiri, romantismenya sendiri, dalam perjalanan meraih keberkahan. Sehingga, seperti apa yang Ibunda Aisyah katakan, keberkahan pernikahan memang kembali lagi pada masing-masing pribadi.

Adalah kita, dengan akal dan segenap kesadaran kita, boleh memutuskan bagaimana cara kita menjemput keberkahan. Asalkan, seperti titik temu “dua kondisi” yang banyak mewarnai catatan-catatan sejarah keislaman, cara yang kita pilih tetap berkelindan pada satu simpulan: karena-Nya, untuk-Nya, bersama-Nya, sesuai aturan main-Nya, menuju-Nya. Allah.

Widya, barakallahu laki wa baraka’alaiki wa jama’a bainakuma fii khair. Semoga Allah limpahkan sakinah, mawadah, dan rahmah kepada keluarga Widya, hingga genap separuh lagi agama. Menjadi utuh hingga mampu menuju surga.

Widya, duhai shalihat yang sebenarnya lebih patut memberi nasihat, sengaja kukutip petuah dari Ustaz Salim tentang bercermin dan kelangsungan dakwah. Karena mengenal Widya adalah mengenal perempuan yang tidak menjadikan pernikahan sebagai sumber kegalauan. Karena mengenal Widya adalah mengenal orang yang mengawali tulisannya dengan “Kuliah munakahat dulu…” namun isinya memiliki substansi seberat: dakwah.

“Biar orang tertarik baca,” katamu dulu 🙂

Karena mengenal Widya adalah mengenal perempuan yang benar-benar mencintai dakwah, mencintai Allah, Rabb kita, Sang Malikul Mulk Pemilik Segala Kerajaan. Ya, meski Widya mungkin hendak menyanggah kalimat ini dengan, “Cinta Widya masih compang-camping kok…”

Maka sekali lagi, kusampaikan nasihat Sang Ustaz: ingatlah untuk bercermin, Wid. Bercermin secara harfiah. Setelah berjibaku dengan berbagai tanggung jawabmu, perjuanganmu, dan segenap kelelahanmu. Agar cintamu terhadap dakwah, terhadap-Nya, tetap mengestafet melalui anak, cucu, dan generasi yang insya Allah akan lahir dari rahimmu.

Para penerus peradaban kita.

Karena, Widya shalihat, sebagaimana perkataan Hasan Al-Bashri, kita hanyalah kumpulan hari-hari yang tiap berlalu petang dan pagi, hilanglah sebagian diri.

Dan ya, akan terus begitu hingga nanti, hingga benar-benar hilang seluruh bagian diri.

***

Saudarimu yang berharap agar nasihat ini juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri,

Menyayangi Widya karena Allah,

Saputri

Advertisements

2 thoughts on “Teruntuk Widya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s