Menghilangkan Dunia

The master-economist must possess a rare combination of gifts …. He must be mathematician, historian, statesman, philosopher—in some degree. He must study the present in the light of the past for the purposes of the future. He must be purposeful and disinterested in a simultaneous mood, as aloof and incorruptible as an artist, yet sometimes as near to earth as a politician.

John M. Keynes

Saat itu, almanak menunjukkan tahun 1929 ketika Amerika Serikat ditimpa oleh sebuah krisis ekonomi yang berkepanjangan. Saking membekasnya, peristiwa tersebut dijuluki dengan istilah Great Depression.

Tak butuh waktu lama, peristiwa tersebut segera menjadi tema diskusi yang serius di kalangan akademisi dan para ekonom. Bahkan diskusi dan kajian tersebut menjadi berkepanjangan, bertahan hingga puluhan tahun.

Pada saat itu, Great Depression adalah teka-teki yang seksi.

Sampai akhirnya, pada tahun 1963, seorang ekonom bernama John Maynard Keynes menerbitkan sebuah buku yang berjudul The General Theory of Employment, Interest, and Money. Buku tersebut sedikit banyak menjawab pertanyaan banyak orang mengenai penyebab Great Depression nan melegenda.

Antara lain adalah pertanyaan: mengapa segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya di Amerika pada tahun 30-an? Mengapa kurva-kurva ekonomi terus meluncur turun, padahal secara teori segala sesuatunya sudah harus menyiklus naik?

Masih terjadi perdebatan, tetapi banyak yang sepakat dengan jawaban Keynes: bahwa saat itu, seharusnya pemerintah turun tangan di setiap lini ekonomi yang membutuhkan, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan kestabilan ekonomi. Maklum saja, saat itu pemerintah hanya turun tangan dalam pengelolaan barang publik dan eksternalitas. Selebihnya, perekonomian secara agregat berjalan dalam kendali “tangan tak tampak” 1).

Banyak yang sepakat bahwa Keynesianism menandai berakhirnya rezim ekonomi laissez-faire alias rezim ekonomi persaingan bebas yang menihilkan peran pemerintah hingga titik tertentu dan lebih membebankan kerja perekonomian pada keputusan-keputusan pihak swasta.

Dengan karya tersebut, Keynes menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan ilmu ekonomi. Bahkan hingga saat ini, model ekonomi Keynes masih dianggap relevan untuk digunakan dalam implementasi-implementasi kebijakan pemerintah.

***

Dan kita berlari ke Madinah. Tahun Ramadah.

 

Satu ketika, pada masa kepemimpinan Umar Ibn Khaththab, tepatnya di tahun kedelapan belas hijriah, musim paceklik berkepanjangan membawa rona kelabu pada tanah-tanah di daratan Madinah. Kelaparan, kelangkaan makanan, ternak-ternak yang binasa, membuat harga segala kebutuhan melambung tinggi. Paceklik selama sekitar dua tahun tersebut begitu membekas, dipikirkan tiap siang, dan malam, dan subuh, dan isya, sehingga raut wajah Umar Ibn Khaththab yang biasanya berseri, berubah menjadi kehitaman.

“Apakah umat Muhammad akan binasa di bawah kepemimpinanku? Seandainya bencana ini terjadi di zaman jahiliah, maka kaum Arab pasti mati seluruhnya, saling bunuh demi berebut sebutir gandum atau setetes air!”

Menanggapi keadaan tersebut, Umar akhirnya meminta bantuan kepada Amru bin Ash, seorang pemimpin dari sebuah daerah di dataran Mesir. Puluhan kafilah dan belasan kapal pun akhirnya dikirim dari Fustat ke Madinah untuk mengangkut makanan, pakaian, dan segenap kebutuhan. Dengan begitu, musim paceklik dapat terlewati.

Di kali lain, kepemimpinan Umar dihadapkan pada masalah yang berbeda. Agak berbanding terbalik dari kondisi di masa-masa paceklik, masalah kali ini ditimbulkan oleh pedagang-pedagang Madinah yang mendapatkan keuntungan besar dari perjalanan bisnis mereka ke negeri Syam. Ya, masalah ditimbulkan oleh para pedagang yang membawa berlimpah-limpah uang ke dalam negeri Madinah, lantas membaginya kepada anak, istri, dan keluarga.

Karena setelahnya, pembelian barang-barang, terutama beberapa jenis bahan pokok, langsung meledak. Dan ledakan pembelian itu tidak terjadi karena kebutuhan, tetapi terjadi semata karena setiap orang tiba-tiba merasa kaya.

Merespons keadaan tersebut, Umar Ibn Khaththab segera memberikan instruksi: batasi transaksi untuk tiga jenis barang pokok. 2)

Dalam sebuah kilasan pembicaraan tentang ekonomi Islam, saya selalu teringat dengan cerita Kak Zaili tentang kerangka perekonomian Islam yang mula-mula. Bahwa Madinah adalah “pasar” pertama di mana bingkai ekonomi Islam mulai bertumbuh. Sebagaimana Madinah merupakan negara Islam yang pertama berdiri, pasar dengan kerangka ekonomi Islam yang solid juga terlebih dahulu terbentuk di Madinah ketimbang di Makkah.

Hal tersebut dapat kita lihat, salah satunya, dari keputusan-keputusan Umar Ibn Khaththab yang menjadi pembuka tulisan ini. Ya, dalam tahun yang lebih muda daripada kelahiran teori Keynes, Umar Ibn Khaththab sebagai pemerintah telah terlebih dahulu membuat keputusan-keputusan brilian terkait perekonomian negaranya.

Umar Ibn Khaththab seakan menyampaikan kepada kita tentang dua jenis stabilitas yang dikenal Islam dalam pengelolaan perekonomian sebuah negara.

Stabilitas pertama adalah stabilitas di sektor riil, yang ditunjukkan Umar lewat keputusannya untuk mengimpor bantuan dari Fustat, saat inflasi meroket karena kelangkaan bahan pokok di musim paceklik.

Stabilitas kedua adalah stabilitas di sektor keuangan/moneter, yang ditunjukkan Umar lewat keputusannya untuk menyumbat impuls buying–fenomena yang menjadi konsekuensi dari berlebihnya peredaran uang di masyarakat.

Dan beberapa generasi setelah Umar Ibn Khaththab ra, Ibnu Khaldun mengokohkan perlunya peranan pemerintah dalam sebuah buku yang bertajuk Muqaddimah.

“Pemerintah adalah pasar terbesar, ibu dari semua pasar, dalam hal pendapatan dan penerimaannya.”

Muqaddimah, Ibnu Khaldun

Menarik.

Bahwa perjalanan cerita dari kisah Umar Ibn Khaththab, kepada terbitnya buku Muqaddimah Ibnu Khaldun, menuju ke Great Depression di Amerika, hingga kelahiran Keynesianism setelahnya, bahkan hingga kini ketika Stiglitz peraih nobel ekonomi itu mengatakan bahwa dunia butuh paradigma ekonomi baru, semuanya memiliki garis waktu yang terhubung, terjadi di dunia yang satu. 3)

Ekonomi Islam sudah lama absen dari kehidupan masyarakat. Dan sebuah tantangan untuk membangkitkannya lagi, menciptakan solusi dari ketidakpastian ekonomi yang melingkupi dunia.

Untuk itu, mungkin kita dapat sedikit mengambil inspirasi dari ujaran Keynes: Islam membutuhkan ekonom yang bisa menjadi matematikawan, sejarawan, dan negarawan yang sedikit filosofis sekaligus. Ekonom yang bisa belajar tentang hari ini dan hari-hari yang lalu sekaligus. Ekonom yang dapat mengantisipasi tantangan-tantangan masa depan.

Di Indonesia sendiri, sistem keuangan syariah porsinya masih sekitar 5% dari sistem keuangan secara keseluruhan. Itu pun, banyak umat muslim yang menolak perbankan syariah dengan alasan bahwa yang konvensional maupun syariah, sistemnya masih sama-sama riba. Walaupun jika demikian alasannya, saya juga sama sekali tidak berkapasitas untuk menyalahkan dan menghakimi.

Saya hanya sedang merenungi petala sejarah kita; bahwa ketika sesuatu tertolak dalam Islam, pasti ada alternatif lain yang disediakan.

 

Karena dengan begitu, saya menjadi segenapnya percaya: Islam tidak pernah diturunkan untuk menghilangkan dunia.

***

1) Teori “tangan tak tampak” yang dicetuskan Adam Smith meyakini bahwa ekonomi akan mencapai titik keseimbangannya tersendiri dari mekanisme permintaan-penawaran di pasar.

2) Disarikan dari presentasi Adiwarman Karim pada Seminar Nasional Ekonomi Syariah, Jakarta, 2015.

3) Tulisan Joseph Stiglitz, Needed: A New Economic Paradigm, dapat dibaca di The Financial Times.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s