Teruntuk Nadia. Mengingat Langkah-Langkah Kecil Hijrah Kita

“Tapi kalau enggak begini, aku kapan benernya?”

–kamu, beberapa bulan lalu.

Aku lupa persisnya. Tetapi pada penghujung 2016 silam, di situlah kira-kira pertanyaanmu terus berputar-putar.

Percakapan kita terus berlanjut.

Percakapan yang begitu serius tapi juga begitu absurd. Percakapan yang hanya lewat aplikasi ponsel karena lintang-bujur kita telak dipisah jarak. Percakapan setelah aku mengirim chat “HAHAHA” panjang, menyengaja menjebolkan huruf kapital, saat mendengar siapa yang memintamu saat itu.

Masya Allah. Alhamdulillah. Memang, perkara yang satu itu tak bosan-bosan menyediakan kejutan.

“Menurutmu bagaimana?” Tanyamu lagi.

Nadia sayang, jika Allah telah menetapkan sesuatu, tak akan ada yang bisa membatalkan ketetapan itu. Pun, jika Allah telah menghalangi sesuatu, tidak ada yang bisa mendobrak penghalang itu.

Tidak juga saran, “Terima aja lah” dariku. Tidak juga saran, “Tolak aja lah” dariku. Tak ada satu pun yang bisa menyelisihi takdirmu. Itu hidupmu. Itu keputusanmu. Meski seluruhnya juga telah tertulis jauh sebelum penciptaan kita.

Kita, manusia-manusia akhir zaman ini.

Aku lagi-lagi lupa apa persisnya tanggapanku. Tetapi yang kuingat, aku hanya menyuruhmu istikharah. Kemudian memberitahumu bahwa kau punya hak untuk menolak. Meski sebelum menolak itu, kau harus benar-benar berpikir tentang, “Apa yang sebenarnya kaucari?”

Pertanyaan yang juga terus aku tanyakan kepada diri sendiri di tiap hentakan langkah ini.

“Apa yang sebenarnya kita cari?”

***

Nadia sayang, ada empat wanita luar biasa yang pernah dilahirkan oleh rahim peradaban ini. Wanita-wanita terbaik yang Allah kisahkan dengan kalimat-kalimat indah di berbagai surat di Al-Quran.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah pernah bersabda, “Wanita terbaik di dunia ini ada empat: Maryam binti Imran, Asiyah istri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Rasulullah.”

Menariknya, meski dalam hadits lain, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Kaum wanita adalah pendamping kaum laki-laki,” tetapi, dua dari empat wanita yang disebutkan oleh Rasulullah sebelumnya, bersinar dengan keshalihahannya sendiri.

Benar-benar bersinar karena keshalihahan mereka sendiri. Bukan karena siapa yang mendampingi. Bukan karena siapa yang melengkapi.

***

img_7336

Punggung Maryam boleh tersandar pada pohon kurma, tetapi keberserahannya tidak

 

Pertama, Maryam binti Imran.

Maryam lahir dari ibunda berselimut takwa yang mengira bayi yang dikandungnya adalah laki-laki. Hannah binti Faqudz, sang ibunda, bernazdar bahwa anaknya akan dibiarkan sepenuhnya untuk beribadah dan mengurusi Baitul Maqdis–menjadi takmir masjid, kalau bahasa kita sekarang.

Ketika mengetahui bahwa bayinya perempuan, bahwa kenyataannya melenceng dari harapan, Hannah tak berlama-lama bersedih. Ia kemudian berkata, “Aku yakin bahwa Allah dalam menciptakan makhluk-Nya, mempunyai tujuan tersendiri.”

Dan memang, Allah telah menyiapkan skenario indah-Nya tersendiri.

Maryam yang yatim tumbuh dalam asuhan pamannya, Zakariyya. Ia tumbuh menjadi perempuan bertakwa, menyejukkan mata, dan mudah menerima kebaikan serta ilmu dari orang-orang shalih di sekitarnya. Maryam juga tumbuh menjadi perempuan yang amat menjaga kesuciannya.

Tetapi benarlah perkataan seorang ustaz, bahwa Allah menurunkan cobaan pada hal-hal yang menjadi kelemahan kita–hal-hal yang sangat ingin kita jaga. Seperti Nabi Ibrahim yang mencintai keluarganya dan terus-menerus menerima ujian atas cintanya, Maryam yang teramat menjaga diri diuji dengan gunjingan-gunjingan tentang kesuciannya.

Allah tiupkan ruh di rahimnya. Membuatnya memutuskan untuk mengasingkan diri, memperbanyak ibadah, dan menjauhi Bani Israil yang rewel menuduhnya berbuat zina.

Tak terbayang seberapa hebat kecamuk di hatinya. Perempuan terhormat, lahir dari pemuka agama Bani Israil, anak Imran yang kepengasuhannya saat bayi ramai diperebutkan masyarakat. Tiba-tiba mengandung tanpa terlebih dahulu dipinang dan dinikahi orang.

Begitu berat beban yang ia tanggung sampai-sampai perempuan seshalihah Maryam, yang ibadahnya tak putus siang dan malam, sempat berkeluh kesah pada Rabb-nya.

“Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam: 23).

Maryam, tanpa lelaki yang mendampingi, menumpukan beban di kakinya sendiri.

Sendiri.

Meski, sebagaimana yang dikisahkan di Al-Quran, Maryam memang tak pernah menyandarkan nasibnya kepada makhluk. Punggungnya boleh tersandar pada pohon kurma, tetapi keberserahannya tidak. Maryam bertawakal kepada Allah dan pada akhirnya, menuju keridhaan Allah-lah langkah anak perempuan Imran itu selalu terarah.

Hanya Allah Sang Pencipta yang ia izinkan untuk menjadi penjamin atas takdir-takdirnya ke depan. Hanya Allah yang ia izinkan menjadi penguat hati dan langkah tegaknya ketika diserang berbagai pertanyaan yang lebih pantas disebut tuduhan.

Dan kita tahu, dari rahimnyalah, Nabi hebat yang wajib kita imani, lahir.

Isa bin Maryam. Satu-satunya manusia yang dinisbatkan pada nama ibunya. Satu lagi mukjizat setelah Allah menciptakan Adam yang tanpa ayah-ibu dan Hawa yang tanpa ibu.

***

Kedua, Asiyah binti Muzahim. Asiyah istri Fir’aun.

Merenungi kepribadian Asiyah binti Muzahim yang kemuliaannya juga disebut-sebut Rasulullah, memang selalu membawa kita pada keharuan tersendiri. Ketika Allah berjanji untuk menyandingkan perempuan-perempuan shalihah dengan lelaki shalih, Allah juga mencipta pengecualian-pengecualian dalam sejarah umat manusia. Pengecualian, agar golongan-golongan setelahnya dapat belajar dari segala hikmah.

Ya, Asiyah adalah perempuan yang kepadanyalah Allah menurunkan pengecualian atas QS An-Nur ayat 26, “…Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik…”

Asiyah jugalah sang perempuan yang doanya abadi dalam Al-Quran, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (QS At-Tahrim: 11).

Sementara itu, Fir’aun adalah suami yang membentaknya dengan kalimat, “Buah hatimu dan bukan buah hatiku,” ketika Asiyah yang penyayang lagi lemah lembut menunjukkan peti dari sungai Nil seraya berkata, “Bayi ini adalah buah hatiku dan buah hatimu.”

Di peti itu, bayi Musa yang mungil tertidur meringkuk.

Fir’aun adalah suami yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan, dan membunuhi bayi-bayi lelaki karena ketakutan.

Fir’aun adalah suami yang bertahun kemudian mengancam Asiyah dengan menyuruh ajudannya mencari batu terbesar yang dapat ditemukan, “Setelah dapat, maka tanyalah kepada istriku, apakah ia masih berpegang pada ucapannya (bahwa ia beriman pada Tuhannya Musa dan Harun) atau tidak. Jika masih, libaskanlah batu tersebut kepadanya. Dan jika ia menarik ucapannya, maka ia masih merupakan permaisuriku.”

Ya Rabb. Asiyah memiliki pasangan, tetapi hanya tangannya sendirilah yang mampu menggenggam ketakwaan.

Mengingkari suaminya sebagai Tuhan, Asiyah pun disiksa dan meninggal di puncak terik siang. Para malaikat sampai membentangkan sayap, meneduhkannya dari panggangan mentari.

Pada detik terakhir hidupnya, di bawah batu besar yang menindihinya, wajah Asiyah tertadah ke langit. Saat itu Allah telah mengabulkan doanya.

Sebuah rumah yang indah tampak di pelupuk mata Asiyah. Rumah yang berdiri kokoh sisi-Nya. Di surga-Nya.

Dan Asiyah benar-benar bersinar dengan ketakwaannya sendiri.

***

Apa yang kita cari?

Semoga, sebagaimana wanita-wanita terbaik umat itu, keridhaan Allah-lah yang selalu kita cari. Berharap-harap dengan khauf dan raja–rasa takut dan rasa optimis–semoga Allah melihat ketertatihan kita, usaha kita yang terengah-engah, menuju ridha-Nya. Meski kita sadar diri, ketakwaan kita ini tak ada seujung kuku dari para wanita terbaik itu.

Semoga dengan kisah-kisah itu, kita makin mengerti, Nad: bahwa pertanyaanmu, “Tapi kalau nggak begini (menerima pinangannya), aku kapan benernya?” adalah pertanyaan yang tak perlu kau tanyakan–tak pernah perlu kita tanyakan.

Karena Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir’aun pun tak menggantungkan derajat ketakwaannya pada pendamping mereka.

Maka bersinarlah dengan keshalihahanmu sendiri, Nadia. Sehingga, saat kini akhirnya kamu telah menikah, kamu yang justru bisa menjadi sebaik-baik pendamping. Kamu yang justru bisa menjadi sehebat-hebat madrasah bagi anak-anakmu, keturunan-keturunanmu.

Berhijrahlah meski tapak kaki kita hanya mampu melangkah kecil-kecil. Meski proses hijrah kita dipenuhi cacat dan rombeng sana-sini. Aku yang hafalan dan tilawahnya mandek di situ-situ saja. Kamu yang disuruh mentoring ogah-ogahan :p

Kutuliskan ini karena rasa sayangku, selain juga karena ingin menasihati diriku sendiri. Hati kita, suruhlah ia tetap bermetamorfosis menuju keindahan. Menjaga shalat, tilawah, menghadiri kajian, membaca. Tetaplah menjadi perempuan dengan ketakwaan yang terus terpacu lebih baik di setiap pergerakan waktu. Meski iman ini naik-turun, janganlah kita sampai jeblos dan begitu saja membiarkan iman melenggang terjun bebas. Jagalah–berdoalah–agar hati kita yang mudah terbolak-balik ini tetap tsabit pada Islam.

Nadia sayang yang sekarang berada di Banjar (atau Samarinda?), aku tiba-tiba teringat momen-momen hijrah kita. Saat menemukanmu–yang dulu belum berhijab–menyamar mengendap-endap di pinggir jalan karena kita berpapasan. Kamu memakai kacamata, serta jilbab merah yang ujungnya sengaja kaututupkan ke wajah.

Beberapa waktu kemudian, kau bercerita tentang misi penyamaranmu: membantu mengajar TPA. Kemudian kau mengajakku mengajar TPA. Tak lama setelahnya, penyamaranmu terhenti: kau benar-benar memutuskan berjilbab. Kerudungmu sudah jadi identitas resmi seorang Nadia. Alhamdulillah. Semoga Allah selalu menjaga kita.

Dan kamu tahu, aku terus terpacu untuk mengejar kecepatan langkah hijrahmu, Nad.

***

Nadia sayang, barakallahu laki wa baraka ‘alaiki wa jama’a bainakuma fii khair. Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, semoga Allah memberikan keberkahan atasmu, dan semoga Allah menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.

Selalu.

Dalam dekat kalian, atau bentangan jarak di antara kalian. Dalam ngambek kalian, maupun rasa rindu di hati kalian. Dalam jatuh kalian, maupun bangkitnya kalian. Dalam fluktuasi iman kalian, maupun dalam ketentraman jiwa kalian. Semoga berkah, semoga berkah.

Selamat membangun keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah, ya, duo rangers. Sampai nanti. Sampai tua. Sampai Allah mengumpulkan kita semua di jannah-Nya. Aamiin.

 

 

Dari yang amat terbatas ilmunya.

Sepenuh sayang,

Saputri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s