Sesungguh Perjuangan

Perjuangan ini masih terlalu pagi.

Saya sering membatin demikian pada titik-titik kosong perjalanan. Apalagi ketika keegoisan tidak sedang menjajah diri. Pada banyak, banyak sekali aspek kehidupan, rasa-rasanya perjuangan ini masih terlalu subuh untuk—bahkan—dibilang duha.

Butuh waktu yang lama hingga saya menyadari, bahwa “peperangan” itu hakikatnya bukanlah ketika seseorang berjuang mati-matian menggapai kampus impian atau karier idaman. Perang yang sesungguhnya juga bisa jadi bukanlah ketika seorang prajurit berkemas-kemas di baraknya, berdegup menunggu langkah kakinya yang akan menapak di zona merah.

Mari kita memulai cerita ini dari kisah seorang jurnalis foto.*)

Namanya Handschuh. Ia seorang fotografer di New York Daily News.

Takdir membawanya berada tak jauh dari WTC di tanggal 11 September 2001. Ya, dan kemudian tragedi itu terjadi. Pesawat yang terbang rendah. Gedung kembar yang ditabrak dan meledak.

Sebagai fotografer dan jurnalis, instingnya kuat. Ia mendatangi tempat kejadian di waktu yang tepat. Handschuh berhasil mendapatkan foto-foto eksklusif tragedi 9/11, di antaranya foto hujan puing-puing bangunan menara sesaat setelah gedung tersebut ditabrak pesawat.

Momen itu membeku dan menjadi salah satu foto terbaik seorang Handschuh. Tetapi jarum jam yang terus bergerak, menyebabkan sepersekian detik setelahnya menara tersebut runtuh menuruti gravitasi, mencipta badai angin dan hujan bebatuan. Handschuh yang berada sangat dekat dengan gedung, terhempas dengan badan yang—akhirnya—penuh luka. Tak berdaya, hingga pemadam kebakaran menolongnya.

Ia baru kembali ke kantornya lima bulan kemudian.

Tetapi, ia kembali dengan tidak lagi menjadi seorang Handschuh yang sama. Ia kembali dengan ingatan eidetik atas tragedi 9/11 yang ia pernah alami. Mengakibatkan trauma. Dan pada akhirnya menyebabkan ia menyerah pada pekerjaannya. Beberapa hari kemudian, Handschuh pamit kepada editornya.

Handschuh tidak sendiri, ada Iskandar, lakon fiksi dalam film Lewat Djam Malam yang sepertinya mengalami hal serupa. Iskandar adalah veteran juang pada perang kemerdekaan—yang malah canggung dengan atmosfer kemerdekaan itu sendiri. Karena kemerdekan, entah bagaimana telah membawa teman-teman seperjuangannya pada keterlenaan menanjaki tangga kaum borjuasi.

Iskandar gelisah kepada kawan-kawannya yang mencukupkan diri dengan menjadi pengusaha, mandor rumah bordir, atau pemborong. Padahal stabilitas republik yang usianya masih berbilang jari itu memerlukan perjuangan yang sama kerasnya. Gerakan separatis masih sangat mudah tersulut.

Ia gelisah pada penyambutan kepulangannya dari perang yang dimeriahkan oleh pesta dansa-dansi.

Ia gelisah dengan pertanyaan yang berkecamuk di hatinya, pada nanar matanya yang mengisyaratkan, apakah untuk ini ia turun ke medan juang? Untuk semua kegelisahan ini?

Ia seperti kalah dalam rutinitasnya, rutinitas ketika selubung peluru telah dikosongkan dan senapan telah kembali ke kotak penyimpanan.

Mungkin memang benar kata sebagian orang, perang yang sesungguhnya justru terjadi ketika kita telah meletakan pedang, usai dengan segala baku tembakan. Seperti Handschuh dengan kesudahan “perangnya” di medan WTC—perang dengan alat berupa kamera. Seperti Iskandar dengan kesudahan perangnya melawan penjajahan. Maka perang tak praktis selesai, ada perjuangan lagi yang dihajatkan untuk mencapai entah apa pun yang kita cita-citakan dalam kehidupan.

Ada sebuah kalimat bagus dari bos saya, bahwa hidup adalah garis yang menghubungkan antara niat baik dan cita-cita. Tugas kita adalah berjalan (atau mungkin merangkak, berlari, melompat, bahkan berguling?) pada garis itu.

Kalau saya boleh menambahkan, maka saya akan menambahkan asumsi bahwa garis itu disusun oleh titik-titik. Di antaranya ada titik-titik merah besar, yang merupakan tempat terjadinya baku tembakan (ujian, masalah, tes masuk kerja, keterbatasan, dan segala bentuk persoalan besar lainnya). Namun sejatinya, perjuangan tidak berbatas pada titik-titik besar itu. Semangat perang, semangat juang, persiapan, antisipasi, dan segala yang pernah kita bawa berlari, (seharusnya) juga ada di tiap titik-titik kecil yang berjejer membentuk garis penghubung antara niat baik dan cita-cita itu.

Sehingga kita tak kalah seperti Handschuh. Sehingga kita tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk kacau seperti Iskandar.

Sesungguh perjuangan pada hakikatnya—mungkin—tak terletak pada sebuah momentum, tetapi pada usaha untuk menyalakan kembali semangat perbaikan, melawan kembali rasa takut dan trauma, dan segala bentuk perjuangan yang sama, ketika kita sudah berada dalam kondisi dengan tensi yang lebih sela.

***

*) Cerita tentang Handschuh disarikan dari buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme: Kesaksian dari Tanah Bencana.

Ditulis untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa saat ini pun perang itu ada di depan mata. Namanya: ketidakpastian kapan penempatan atau rutinitas-yang-sekadar-8-17.
Maka, jangan dulu kau turunkan tensimu, jangan dulu kau letakkan busur dan anak panahmu.
Terinspirasi oleh blog senior.
Advertisements

Toleransi dalam Berkecenderungan

Hari-hari ini kita banyak menyaksikan orang-orang yang selalu mempermasalahkan pilihan fiqih orang Islam lain, tiba-tiba berkhutbah tentang toleransi ini dan itu. Dan hari-hari ini kita semakin menyaksikan betapa banyak umat Islam yang hampir tidak pernah menghidupkan syiar Islam, namun kini malah menghidupkan syiar agama lain.

—Fimadani

Saya pernah belajar ushul fiqih di tingkat satu perkuliahan, pada kuliah malam di sebuah ma’had. Walaupun ilmu yang dapat saya serap hanya nol koma sekian persen dari buku-buku tebal maupun dari penguasaan para asatidz itu, saya belajar satu hal yang tajam dan mendalam. Yakni tentang cara menyikapi.

Mari tinggalkan prolog tentang ma’had, dan beralih ke sebuah lingkaran ilmu dengan pembicara seorang ustazah—yang juga guru bahasa Arab di ma’had tersebut. Siang terik, dan lingkaran ilmu tersebut mulai membahas tentang banyak hal. Salah seorang murid bertanya, “Ustazah, kalau ustazah sedang haidh, baca Alquran atau tidak?”

Bukannya langsung menjawab, ustazah tersebut malah mengoreksi pertanyaan si murid. “Saya ganti pertanyaannya ya, dengan bagaimana pendapat para ulama tentang membaca Alquran ketika sedang haidh.”

Bukan penjabaran beliau tentang perbedaan pendapat para ulamalah yang menancap di hati saya—saya kira yang bertanya pun bahkan sudah mengetahui jawabannya, bahwa memang para ulama berbeda pendapat tentang hal itu. Bahkan saya pikir, sang penanya memang benar-benar memaksudkan pertanyaannya seperti itu: ingin mengetahui pilihan fiqih sang guru.

Tetapi cara menjawab beliau yang terus membekas. Beliau menjawab secara luas dan detail, bahwa ada sebagian yang membolehkan, tetapi jumhur ulama berkata tidak boleh. Dan masing-masing dari mereka memiliki dalil yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Setelah menjelaskan bingkai secara keseluruhan, ustazah tersebut baru menjelaskan pilihan fiqihnya: “Saya memilih tidak membaca, karena jumhur ulama berkata demikian. Dan berhati-hati dalam keharaman adalah sikap yang baik. Tetapi tetap, dalam sebuah ijtihad, kalau salah pun dapat satu pahala. Sehingga kalian boleh memilih pendapat ulama yang mana. Yang penting kalian paham dasar-dasarnya.”

Ustazah tersebut bisa dikatakan galak dan tegas kalau sedang mengajar (apalagi mengajar bahasa Arab), tetapi yang membuat saya kagum, bahwa beliau tidak langsung mendikte muridnya, “Kamu kalau haidh tidak boleh baca Alquran!”

Sikap itu, spontanitas itu, adab yang tercermin dari ustazah itu, membuat saya semakin menyadari bahwa penyikapan orang yang berilmu dengan yang tidak terhadap sebuah masalah, apalagi menyoal khilafiyah, sangatlah berbeda.

Saya menyadari bahwasannya terkadang preferensi fiqih bisa jadi bagaikan harga diri bagi seseorang. Sehingga pada sebagian orang, jika preferensi fiqih yang diambilnya diikuti orang lain, ada rasa bahagia dan bangga yang terbit, sedangkan jika preferensi fiqihnya ditolak, ia bagai merasa terlukai, tidak dihargai, bahkan merasa tidak dihormati.

Untuk menjembatani itu, sebenarnya dibutuhkan pengetahuan untuk bertoleransi dalam berkecenderungan—dalam menghargai preferensi fiqih masing-masing orang. Satu syarat: ia mengetahui gambaran besar dan memiliki dalil yang jelas tentang preferensi fiqih yang dianutnya. Ia tidak boleh berkata “a” hanya karena ulama kesayangannya berkata “a”. Pendapat ulama bukanlah dalil.

Tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya (dalilnya).” —Imam Abu Hanifah.

Adab tersebut juga yang saya temui di ma’had ketika pelajaran ushul fiqih. Sang ustaz tidak lantas mendoktrin para muridnya untuk mengikuti preferensi fiqih yang dianutnya. Ia menggambarkan bingkai-bingkai luas, kaidah-kaidah umum fiqih, memastikan sang murid mendapatkan gambaran komprehensif tersebut, sebelum akhirnya masuk kepada contoh yang lebih teknis.

Kini, tiap menjelang tanggal 25 Desember, saya selalu meringis mendapati jejaring sosial begitu panas meng-counter isu ucapan selamat natal. Memang benar nasehat seorang ulama, bahwa perkataan para Salaf sangat sedikit, tetapi penuh dengan barakah, sedangkan perkataan orang-orang setelahnya sangatlah banyak tetapi sedikit sekali barakahnya.

Salah satunya yang lewat di linimasa saya: “Nih yang bilang enggak boleh mengucapkan selamat natal, baca.” Sambil menyertakan link gambar pendapat Quraish Shihab dalam sebuah buku.

Saya membayangkan jika cuitan tersebut dibuat adegan nyata, maka orang itu bagai berucap demikian sambil melempar buku tebal hardcover karangan profesor tersebut ke wajah orang-orang lain yang memiliki preferensi fiqih berbeda.

Padahal preferensi fiqihnya boleh jadi hanya ia ambil dari selembar buku karya seorang ustaz, boleh jadi ia hanya melihat satu titik dari gambaran luas tentang ucapan selamat natal.

Padahal celotehan 140 karakter tersebut membuahkan tanda tanya besar. Apakah dia telah membaca penjelasan ulama-ulama besar lainnya?

Saya tidak sedang ingin membicarakan masalah siapa yang benar dan siapa yang salah, atau pendapat yang mana yang tepat dan yang mana yang keliru (rumahfiqih.com adalah rujukan bagus kalau ingin mengetahui itu). Tulisan ini sedang berbicara tentang cara menyikapi. Cara bersikap. Hal yang saya juga masih belajar atasnya.

Mari resapi apa yang Imam Abu Hanifah pernah katakan, “Yang terpenting bukan mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan (apakah kalian) mengetahui bagaimana kami menetapkannya .”

Betapa lancangnya kita, kalau gambaran luasnya saja tidak tahu, tetapi berani-beraninya mentarjih para ulama yang memiliki amalan/pendapat berbeda dari yang kita anut.

Orang yang mengerti adab, akan duduk tenang, menjelaskan perkara seluas-luasnya, baru memaparkan solusi yang diambilnya dan membebaskan kita untuk mengambil pilihan solusi yang mana—selama masih di dalam koridor-koridor yang diperbolehkan. Dan harus kita sebut apa orang-orang-yang-melemparkan-buku-ke-wajah-orang-lain untuk menjelaskan preferensi fiqihnya?

Perbedaan preferensi fiqih sebenarnya menghajatkan kita untuk belajar tentang makna sebuah toleransi yang lebih mendalam dan menghujam. Tentang kelekatan ukhuwah, tentang kesolidan persaudaraan atas nama aqidah. Juga tentang pelajaran yang paling tua usianya, bahkan lebih tua dari ilmu fiqih itu sendiri: akhlak, adab.

Jangan sampai dengan umat lain kita demikian rekat, tetapi di dalam tubuh kita sendiri, kita adalah susunan batu bata yang rengat.

Alhaqqu mirrabbik, falaa takuunanna minal mumtariin.

Rontoknya Iman …

Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan. Terkikis-kikis sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, tanpa terasa, habis tandas.

Tidak tersisa.

–Ibnu Atha’illah As-Sakandari.

Siapakah yang bisa mengendalikan hati?

Terbolak-balik. Tertambal sulam. Melembut. Mengeras. Menjadikan renjana itu mengubah wujud sebagai rasa bahagia yang membuncah-buncah. Walau untuk sesaat kemudian ia berubah jadi ngilu, seperti dipantik ladu.

Maka kadang, tak perlu mempertanyakan kenapa kita saling diam. Bukan menolak, bukan membenci, bukan tak sudi, bukan berharap tak pernah saling kenal.

Tapi saling menjaga diri. Karena iman itu rontoknya selalu dalam helaan yang perlahan.

Merindukan Ketegasan

Saya pernah membaca buku biografi Mohammad Hatta yang ditulis oleh Dr. Deliar Noer.

Melalui buku tersebut, sosok yang berasal dari ranah yang sama dengan Buya Hamka ini, berhasil memukau saya dengan ketegasannya. Membuat saya ikut menaruh hormat—dan kagum—pada darah-darah yang besar dengan pedoman hidup adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini.

India memiliki Mahatma Gandhi, tokoh yang acap kali menjadi panutan karena ia mengusahakan kemerdekaan di negerinya dengan perjuangan tanpa kekerasan—sejalan dengan sifat agama di India. Namun Hatta, lelaki yang bernazar tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka itu, tak lantas begitu saja menekuni jejak-jejak Gandhi. Ia punya sikap sendiri.

Bukan berarti Hatta pro pada kekerasan. Tetapi, menurutnya, bangsa ini saat itu butuh ketegasan dan kekuatan sikap. Indonesia tak boleh pasif jika mau membebaskan dirinya dari belenggu kolonial. Kekuatan dan ketegasan sikap itu, kemudian ia hidupkan dari dirinya sendiri. Dimulai dari organisasi yang diurusnya, Perhimpunan Indonesia, yang waktu itu bergerak di Belanda—tempat kuliah Hatta.

Mengutip apa yang tertulis dalam editorial Majalah Civitas STAN yang bertajuk Jurnalisme, di beberapa negara, kemerdekaan disulut dari jurnalisme penduduk setempat. Jika Indonesia di periode sebelum Hatta memiliki Tirto Adhi Soerjo—kita lebih mengenalnya sebagai tokoh Minke dalam Tetralogi Buru karya Pram—yang berjuang sebagai “pembebas” di wilayah Indonesia sehingga ia digelari Bapak Pers Nasional, maka di periodenya, Hatta melakukan pemerdekaan berpikir itu di jantungnya penjajah, Belanda.

Ia dan organisasinya menerbitkan majalah Hindia Poetra, yang sembilan tahun kemudian berganti nama. Tebak apa namanya? Iya, nama surat kabar tersebut berubah menjadi Indonesia Merdeka. Bahkan ketika itu almanak belum menunjukkan tahun 1945.

Adakah, jika kita dilemparkan ke masa itu, kita akan seberani itu? Setegas itu?

Maka, selain—tentu saja—karena rahmat Allah yang Maha Kuasa, ketegasan Hatta menurut saya menjadi salah satu percik yang menyebabkan terbakarnya obor kemerdekaan Indonesia.

Adakah kini tokoh dengan ketegasan seperti itu?

Ah, kini. Di sini…

Konon katanya, gesekan ranting di bumi pertiwi pun akhir-akhir ini sering mendesaukan suara. “Kami merindukan ketegasan,” dengan terbata.

***

Kita terlalu sibuk dengan urusan merayakan perbedaan.

Kita tidak pernah bisa menjawab pertanyaan semisal, sistem ekonomi di Indonesia menganut azas apa? Dibilang sosialis tidak mau, dibilang liberalis bulu kuduk meremang. Ekonomi kita ini, apa pun namanya, secara teori selalu menempatkan kita di posisi aman, posisi tengah-tengah. Walaupun secara praktik sering kali membuat kita terseok-seok. Kita seperti tidak akan pernah selesai dengan dualisme itu. 1)

Pelajaran SD-SMP-SMA kita menyoal ekonomi selalu mudah dijawab: ambil sifat yang baik-baik saja. Seakan-akan kita memang dididik untuk jadi kerbau yang tercocok hidungnya, tak bisa mengkritisi bahwasannya alam memberlakukan sebuah hukum, bahwa pada sebuah pilihan baik, memiliki pasangan mata koin berupa konsekuensi buruk.

Lihat saja Cina, demi memakmurkan rakyatnya, negara yang bertahta dalam panggung komunis itu harus rela “kesosialisannya” ternodai dengan liberalisasi ekonomi besar-besaran. Cina telah memilih, dan ia sukses dengan pilihannya—ekonominya meraksasa. Walaupun memang tak dapat dipungkiri, banyak efek samping-efek samping buruk yang mesti ditanggungnya, terutama yang berkaitan dengan isu kemanusiaan.

Atau Nelson Mandela, yang baru-baru ini menghangatkan pembicaraan dengan kepergiannya dari dunia. Pilihannya menjadi orang baik tak serta merta membawanya pada jalanan tanpa kerikil. Ia pernah dipenjara bertahun-tahun karena menentang apartheid di Afrika Selatan. Bahkan ia sampai dituduh teroris.

Sedangkan kita terlalu sibuk merayakan perbedaan.

Mungkin benar perkataan Bung Karno tentang susahnya perjuangan setelah kemerdekaan: karena kita melawan bangsa kita sendiri. Tegas pada bangsa sendiri tentu lebih sulit.

Apalagi kini kita terlalu sibuk merayakan perbedaan. Sehingga orang-orang tegas harus sabar mengelus dada, jika dilabeli sebagai orang yang tak tahu toleransi.

Perayaan demokrasi ini sudah terlalu memuakkan.

Padahal daripada disebut merayakan perbedaan, sepertinya kita malah sedang memaksakan keseragaman pada hal-hal yang bukan hak kita. Pada hal-hal yang di luar jangkauan kita. Misal, siapa kita berani-beraninya berkata bahwa semua agama sama? Tuhan?

Kita memaksakan demokrasi. Pilkada hampir tiap hari berlangsung di Indonesia. Mengantarkan 50%an jebolannya ke tahanan, dan membuat 90% hasilnya kena gugat. Dan kini, pesertanya menurun ke angka 45%. Artinya, 55%an masyarakat kita sudah tak lagi peduli dengan siapa pemimpinnya.2)

Sudah terlalu banyak kekecewaan yang kita telan.

Kita memaksakan demokrasi. Padahal orang Yunani sana berkata, “Nak, jangan kalian gantungkan diri pada demokrasi. Demokrasi gagal. Kami, pencetusnya, telah merasakan.” 3)

Kenapa kita tidak bisa tegas? Seperti tegasnya Bung Karno dalam ungkapan, “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika!”

Bahkan, tren yang terjadi malah, kita mengucilkan orang-orang yang tegas.

Contoh kecilnya, dalam sendi-sendi kehidupan yang mikroskopis, kita sering menghakimi orang yang berprinsip tidak-mau-mengucapkan-selamat-pada-hari-raya-agama-lain sebagai seseorang yang tidak toleransi. Padahal ia hanya berusaha tegas, padahal ia hanya tidak ingin menginjak-injak hak Tuhannya.

Kita merayakan kebebasan yang sebebas-bebasnya. Pekan Laknat Nasional, diskusi tari telanjang di Salihara, keindahan sastra yang ternodai karena dikaitkan oleh hal yang melulu tentang hawa nafsu. Kita tidak bisa tegas berkata bahwa hal itu bukan identitas. Hilang semua paragraf-paragraf sejuk di buku-buku sejarah budaya, “Orang Timur, seramah matahari pagi, menjunjung tinggi moral dan sopan santun…”.

Kita seakan tak punya pemimpin yang bisa menciptakan musim. Kita tak memiliki panutan yang mampu mengatakan bahwa pilkada langsung ini bermasalah, mari kita kaji, dan jika lebih baik dihentikan, maka mari kita hentikan. Dalam kasus tertentu, untuk apa mempertahankan demokrasi kalau justru membusukkan organ-organ yang menggerakkan denyut kita?

Indonesia, di mana posisi ketegasan itu kini bertahta dalam pergaulan?

Di Maluku, ketika Hatta berkunjung dalam sebuah pertemuan, maka orang-orang yang hadir dalam acara tersebut akan menunggu sampai Hatta pergi meninggalkan pertemuan, sebelum mereka memulai acara tari lenso. Dasarnya jelas dan tegas: mereka tahu bahwa agama yang dipahami Hatta tidak mengizinkannya. Mereka tak kemudian mengatai Hatta kolot atau jenis-jenis makian yang mudah kita temukan sekarang, yang dilontarkan pada orang-orang dengan pendirian teguh.

Kini, dengan gegap gempita merayakan perbedaan dan demokrasi, atau entah apa lah, sanggupkah kita masih menghargai orang-orang yang tegas berkata tidak?

 

Saya merindukan Bung Hatta. Saya merindukan orang-orang yang bisa menari lenso tanpa perlu memaksa Hatta ikut serta.

***

Catatan:

“Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola.” Ali Ibn Abi Thalib ra.

1) Disarikan dari apa yang disampaikan oleh Anis Matta dalam Seminar Indonesia Menjawab Tantangan: Kepemimpinan Menjadi Bangsa Pemenang, 28 November 2013 di Aula FKUI.

2) Disarikan dari apa yang disampaikan oleh Surya Paloh dalam acara yang sama dan sebuah berita.

3) Dikutip dari seorang panelis—pada acara yang sama—yang menceritakan kunjungannya ke Yunani.

Cinta: Argumentasi Shahih Manusia

Kata seorang ustazah dalam sebuah kajian, betapa Allah memudahkan dua orang anak manusia untuk menikah. Tentang mahar yang diminta perempuan hingga tentang keshalihan seorang lelaki yang menjadikannya utama. Kini bertambah ilmu, bahkan perasaan sehalus dan seabstrak cinta pun dapat menjadi argumentasi shahih seorang anak manusia.

Jika memang rasanya sulit, mungkin memang manusia akhir zaman ini sendiri yang membuatnya sulit. Padahal, Salman Al-Farisi saja, ketika ditolak pinangannya karena perempuan itu lebih memilih sahabatnya, masih mampu memeluk Abu Darda’, mendoakannya, dan menghadiahkannya keperluan pernikahan.

Ya Allah, bantulah orang-orang yang saling memudahkan, sesungguhnya kami ini hanya barisan manusia akhir zaman.

“Tidak perlu kenal bertahun-tahun. Orang yang sudah mencintai Allah, maka akan dengan mudah ia mencintai orang yang juga mencintai Allah.”

Untuk segenap kabar merah muda dari saudari-saudariku, yang telah, sedang, dan akan menggenapkan separuh agamanya. Barakallah.

Shahfira Alif

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

 

Salman Al Farisi, lelaki Persia yang baru bebas dari perbudakan fisik dan perbudakan konsepsi hidup itu ternyata mencintai salah seorang muslimah shalihah dari Madinah. Ditemuinya saudara seimannya dari Madinah, Abud Darda’, untuk melamarkan sang perempuan untuknya.

“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’.”

“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu…

View original post 733 more words

Untukmu, yang Esok Menggenapkan Separuh Agama

Kami bertemu di bawah terik matahari, ditemani para murabbi.

Bersama gugup, bersama harap dan takut.

Dalam perlintasan takdir, kami menyengaja hadir.

Demi menjaga kesucian diri, kesucian hati.

Khouf.. Roja..

Kami rajut November dengan doa-doa yang melangit angkasa,

merangkum degup harap dan pasrah,

kami bersujud dalam asa, mengharap sakinah mengganti resah,

mengantarkan mimpi-mimpi dua insan yang tengah berikhtiar,

menggenapkan separuh agama.

Kami Rajut November dengan Doa, Shahfira Alif Asmia.

Kita sering mendengar kisah tentang seorang lelaki dan buah delima. Kisah yang sudah ratusan tahun usianya, dan ia nyata. Ia tak seperti dongeng-dongeng pagan ala Yunani yang khayali. Kisah itu bercerita tentang ayahanda Muhammad bin Idris—sosok yang lebih kita kenal dengan nama Imam Asy-Syafi’i—yang mencari pemilik buah delima sampai terseok-seok menyusuri sungai karena ia telah menggigit sedikit buah delima yang hanyut, tanpa seizin pemiliknya.

Ketika menemukan sang pemilik, sebagai bayaran atas segigit buah delima, ia diperintahkan oleh sang pemilik kebun delima untuk mengurus kebunnya selama sekian tahun. Dan menikahi putrinya yang buta, tuli, bisu, lagi lumpuh.

Kemudian kita paling suka bagian ini, bahwa laki-laki itu lebih takut pada azab neraka—dibanding menjaga kebun sekian tahun atau menikahi wanita cacat, dan bahwa perempuan itu buta, tuli, bisu, dan lumpuh bukan dalam arti sebenarnya. Ia digambarkan seperti itu oleh sang ayah karena sang perempuan tidak pernah melihat, mendengar, mengatakan, atau berjalan kepada sesuatu yang haram.

Pada akhirnya perempuan yang baik itu mendapatkan lelaki yang baik, dan menghasilkan keturunan seluar biasa Imam Asy-Syafi’i.

Dan kuharap kisah itu juga terjadi kepada perempuan shalihah yang akan menggenapkan separuh agamanya esok hari. Di antara keberkahan matahari bulan November dan cahaya Jum’at yang mustajab. Perempuan shalihah, yang berusaha “buta”, “tuli”, “bisu”, “lumpuh”, dan berharap-harap cemas selalu akan ridha-Nya.

Dua puluh satu.

Dua puluh satu.

Saya masih ingat ketika seseorang bercerita tentang angka dua puluh satu. Begitu menggebu, begitu banyak cerita. Begitu tersipu tetapi juga abu-abu. Begitu menyala, tetapi sekaligus merah muda. Seseorang itu adalah kamu, yang mungkin sedang membaca ini dengan wajah merah bersemu.

Kita belum mengerti banyak hal. Sekarang pun belum. Kita hanya dua orang mahasiswi tingkat awal yang berbincang-bincang tentang mimpi di bawah gerimis bulan September. Usia kita delapan belas lebih sedikit, dan kita sedang berbicara tentang angka dua puluh satu.

Walaupun dalam gurauan, dua puluh satu dan kamu berisi tentang cita-cita yang besar. Berani. Bahkan bisa dibilang nekat jika disandingkan dengan tradisi zaman ini. Fira yang baik, semoga Allah selalu menolongmu.

“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari maksiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah)

Dua puluh satu.

Dan seorang Fira bertekad akan mengikatkan diri dengan komitmen yang Allah sejajarkan dengan dua kejadian besar. Mitsaaqan ghaliizhaa, ikatanmu itu nanti, Allah sejajarkan dengan Gunung Thursina yang pernah diangkat di atas kaum Bani Israil. Allah sejajarkan pula dengan perjanjian besar para Ulul Azmi. Meminjam kata-kata kakaknya sahabat kita dalam sebuah buku, perjanjian itu nantinya akan mengikat kalian, membelit kalian, mencencang kalian, memanggulkan Thursina ke pundak kalian…

Menikah.

Hening, dan kemudian kita tertawa lagi. Memperhatikan alumni yang sedang lalu lalang dalam reuni. Kembali menjadi gadis lugu lagi, menantang gerimis sambil merangkai bait-bait doa dalam hati. Semoga semua langkah kita barakah, hingga nanti-nanti.

***

“Andai Rasulullah tidak pernah bersabda kalau diamnya perempuan adalah iya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.”

Dear Shahfira, mengharu biru perasaan ketika dua-tahun-lebih kemudian, dalam panas teriknya sore hari, Fira mengetuk pintu kosan dan bercerita soal ini itu. Juga kembali bercerita akan cita-citamu tentang angka dua puluh satu.

Karena semenjak percakapan lugu kita di lampau waktu, kita tak pernah lagi berbicara tentang itu. Berbulan-bulan setelahnya, sampai kita semakin dewasa, sampai usia kita semakin menua (walau hanya menua dua-tiga tahun), pembicaraan kita hanya berputar-putar tentang pencarian jati diri, kemahasiswaan, tulisan, Palestina, Suriah, Rohingya, Mesir, sirah sahabat, dan perang-perang pemikiran. Jarang sekali tentang menikah.

Pura-pura tersedak, dan akhirnya kita membicarakan hal yang sudah lama sekali tidak kita bicarakan. Lupakan huru-hara mahasiswa, bombardir tugas-tugas kampus, atau waktu yang mengimpit, yang mencoba membunuh kita pelan-pelan kalau gerak kita tidak gesit.

Fira seolah berganti pribadi, membuatku ikut menyesuaikan diri. Menjadi perempuan yang menyandang kembali selendang kodratnya. Diwarnai aroma jamur goreng yang gosong (terlalu lama ditinggal bicara), dan tertawaan atas tangan yang ledeh karena mengurus cucian yang berhari-hari menumpuk (akibat dari sok aktivis).

Menjadi seorang perempuan yang berkisah tentang persiapan, karena surganya suatu saat akan pindah ke seorang lelaki.

Menjadi seorang perempuan yang berkisah tentang persiapan, karena kelak di kakinya jugalah surga akan dititipi.

Dan pada akhirnya, perasaan-perasaan halus yang disembunyikan ketika orasi muncul sendiri. Kembali menjadi perempuan yang bertindak ceroboh, untuk kemudian belajar dan memperbaiki diri lagi. Memantaskan diri untuk menjadi madrasah bagi generasi. Meresapi syair-syair yang terkenal di jazirah sana.

Al-umm madrasatun idzaa a’dadtahaa a’dadta sya’ban thayyibul ‘araaq.

Seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang unggul.

Duh, Fira tahu, pembicaraanmu tentang dua-puluh-satu di beberapa bulan lalu, sudah semakin menunjukan kedewasaanmu. Tutur kata Fira mengalir seperti sastra, genre buku kesukaanmu. Dengan rasa yang lebih manis. Dengan kisah yang lebih puitis. Dua tahun lebih kita ditempa tarbiyah kampus, dan perubahan yang ada pada Fira amat terasa.

Bagaimana perjuanganmu menjaga izzah, menolak hal-hal yang hanya mengundang Allah cemburu, jatuh bangun, pertimbangan-pertimbangan yang jauh dari galau ecek-ecek, amal, ilmu, sujud yang semakin lama. Allahummasyhad! Di antara perempuan yang semakin mudah terbeli dengan sanjung dan puji, saudariku ini sekuat tenaga menjaga mata dan hati. “Membutakan”, “menulikan”, “membisukan”, dan “melumpuhkan” diri. Rabithahku untukmu, Nduk.

Sampai akhirnya lelaki yang baik itu datang juga. Serius. Tak “melambungkan lantas menjatuhkan” perasaan-perasaan, sebuah istilah yang kita pakai untuk menyebut lelaki yang datang hanya untuk singgah, main-main, dan cari teman sms-an. Walau sepintas kulihat rikuh dalam gestur Fira, berhari-hari kemudian rikuh itu hilang berganti yakin. “Karena,” katamu, “Kalau itu karena Allah, pasti akan terselip barakah.”

Dalam kerepotan-kerepotan tugas akhir, pesan singkat-pesan singkat Pasuruan-Bintaro yang di ponselmu mondar-mandir, dan seperti dalam bait puisimu, di terik matahari, ditemani para murobbi, Fira menceritakan langkah-langkah yang menyengaja hadir. Dalam forum yang lebih mendebarkan daripada disuruh tasmi’ di halakah gabungan. Berharap-harap ridho Allah. Takut. Malu. Malu. Malu. Semua tergambar di wajahmu ketika Fira bercerita tentang sebuah perkenalan. Tentangmu yang diam bisu karena malu.

“Andai Rasulullah tidak pernah bersabda kalau diamnya perempuan adalah iya, mungkin semua ini tidak akan terjadi,” ungkapmu.

Saya membayangkan, jika tiba-tiba muncul pohon di sana, mungkin Fira akan mengikuti jejak Jabir bin ‘Abdullah:

“Aku bersembunyi di bawah pohon untuk melihatnya…”

Hehehe, peluk dulu sini 🙂

Alhamdulillah. Dengan rasa malu itu, dengan berjubahkan kalimat kenabian yang mula-mula itu, pada akhirnya mengantarkan Fira dan usia dua puluh satu dengan izzah yang, insyaAllah, tak compang-camping…

Untuk menikah.

Allahummasyhad! Ya Allah saksikanlah saudariku ini, di antara perempuan yang semakin mudah terbeli dengan sanjung dan puji…

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baynakuma fii khayr. Semoga berkah Allah dilimpahkan kepadamu, semoga berkah Allah dilimpahkan atasmu, serta semoga Allah menghimpun kalian berdua di dalam kebaikan.

Semoga bertambah giat langkah-langkah dakwahnya. Bertambah kuat fikriyah dan ruhiy-nya. Mampu mendidik keturunan yang shalih dan shalihah. Semoga barakah. Semoga barakah.

Semoga, Fira yang sebentar lagi jadi nyonya, tak lantas lupa bahwa kita pernah bertukar kisah-kisah lama. Cerita yang sudah ribuan tahun terjadi, tetapi ruhnya masih terasa dekat, mengaduk-aduk hati. Semoga kita selalu belajar ya, Fira.

Belajar mencintai dari Ali dan Fathimah. Walaupun kita tahu, mungkin saja kisah kita tak akan pernah persis begitu. Tetapi izzah, kerendahan hati, harga diri, zuhud, rasa malu, cukuplah hal-hal itu kita tiru untuk menjadi penghias akhlak dan laku.

Belajar cemburu dari Aisyah dan Rasulullah. Peristiwa Zainab dan madu sampai rangkaian berita palsu yang menimpa keluarga Rasulullah. Haditsul ifk, siapa yang dapat melupakan akhir manis itu setelah pertama kali mendengarnya?

Bahkan belajar mempersiapkan hati dari kisah Zubair dan Asma. Atau dari seorang Atikah binti Zaid, perempuan yang membuat kita berkali-kali tergugu semenjak membaca kisahnya di tingkat dua dulu. Bahwa dalam generasi terbaik umat pun, hal-hal pahit juga terjadi.

Maka jagalah. Jagalah rumahmu—surgamu—seakan-akan Nabi Ibrahim akan datang menemuimu dan menitipkan titah tentang ambang pintu.

Maka jagalah. Jagalah dirimu seolah-olah Allah akan menitipkan Khalid bin Walid atau Khaula binti Azwar dalam rahimmu.

Maka jagalah. Jagalah keluargamu sampai seakan-akan kau bisa melihat bidadari cemburu atas luar biasanya penjagaanmu. Seakan-akan kau pernah berdiri di belakang punggung Ummu Salamah dan mendengar langsung Rasulullah bersabda, “… Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari… karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah…”

Ah, Fira tentu lebih tahu. Karena aku pun lebih banyak belajar darimu.

Esok sore, matahari sepertinya akan lebih magenta dari yang biasa. Jakarta ikut deg-degan sekaligus berbahagia, Nduk.

Saudarimu, Fillah.

P.S. Maaf ya puisimu aku curi duluan :p

//

Di Antara Hujan

Gambar di ambil dari sini.

Gambar di ambil dari sini.

Langit berjelaga. Saya pinjam diksi itu dari para sastrawan yang hendak menggambarkan mendung. Dengan awan bergumpal, dan suasana yang gelap abu-abu.

Di kota-kota besar, yang pinggirannya sempit, penuh sesak dijubeli rumah-rumah tak permanen, berpasang mata manusia memandangi hujan yang mulai rintik perlahan. Orang-orang berlarian mencari teduh, penghuni rumah-rumah reot menyiapkan baskom dan ember usang untuk menadahi potensi-potensi kebocoran. Orang-orang kantoran berhenti sejenak dari pekerjaannya, membuka tirai jendela dan mengamati jalanan dari lantai dua puluh dua.

Setelah itu air hujan turun susul-menyusul. Lama-lama semakin deras. Menciptakan sendu yang sejenak merdu, atau menyembunyikan gelegar petir yang sedikit mengganggu.

Beberapa orang menghardik, beberapa orang merapalkan kalimat syukur.

Tapi di antara orang-orang tersebut, adakah yang terlempar ke masa lalu?

Merenung. Berpikir bahwa, mungkin, di dalam hujan hari ini, ada nol koma nol sekian persen zat yang terbawa dari lampau waktu. Menguap, menuju laut, terbawa angin, melewati lintas samudera, terus menyiklus selama beribu-ribu tahun, sebelum akhirnya turun bersama hujan di hari ini.

Membawa lagi zat yang tak kasat, mungkin rasa syukur, mungkin harap-harap takut, mungkin semangat perjuangan, mungkin kepasrahan yang menentramkan. Yang dengan sebuah keajaiban, ikut turun bersama hujan penuh barakah.

Seperti hujan waktu itu, di sebuah jazirah, pada tahun kedua hijriah.

***

“Wahai semua orang, inilah Makkah yang menghantarkan jantungnya kepada kalian!”

Saya tidak tahu suasana seperti apa yang sesungguhnya dirasakan oleh orang-orang di forum itu. Berdebar-debarkah? Gemetarkah? Takutkah? Yakinkah? Ingin berlarikah?

Jazirah Arab, antara Makkah dan Madinah, dengan angin yang beraroma Laut Merah. Seruan itu terjadi pada tahun kedua hijriah, berasal dari lisan manusia paling santun di muka bumi. Tahun kedua hijriah, yang berarti adalah tahun kedua rombongan Rasulullah pindah ke Madinah, juga tahun kedua sejak beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Ayat-ayat yang mengizinkan perang telah turun pada waktu itu, waktu Rasulullah berseru, bahwa orang Makkah telah membawa “jantungnya” ke hadapan kaum Muslim. Iya, “jantung” yang dimaksud adalah petinggi-petinggi Makkah seperti Abu Jahal bin Hisyam, Naufal bin Khuwailid, dan segenap pemuka-pemuka kabilah Kafir Quraisy, yang sedang bersiap-siap menghabisi kaum Muslim. Sekalipun kaum Muslim telah pergi dari sisi mereka.

Mereka berjalan dengan kepala tegak menantang, seperti yang telah disitir Allah dalam sebuah ayat tentang perang di surat Al-Anfal:

“… dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (Al Anfal: 47)

Mereka bergerak dengan membawa senjata dan kemarahan. Menghimpun 1300 orang, 100 kuda, 600 baju besi, dan entah berapa ratus—atau ribu?—unta yang dibawa untuk kendaraan dan hewan sembelihan.

Bergerak, melesat menuju tanah Badar. Membawa segala macam kebencian.

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya…” (Al Hajj: 39)

Sesungguhnya ayat yang mengizinkan perang itu turun bukan untuk menindas, tetapi sebagai legitimasi untuk membela diri, karena Kafir Quraisy tidak henti-hentinya mengganggu rombongan Rasulullah, sekalipun beliau telah pindah ke Madinah.

Lihat saja surat ancaman yang dikirimkan oleh pemuka Quraisy kepada Abdullah bin Ubay, orang yang tadinya—sebelum kedatangan Rasulullah—akan dinobatkan menjadi pemimpin dan raja di kota Yatsrib. Nadanya penuh hasutan dan kebencian:

“Sesungguhnya kalian (orang-orang Yatsrib) telah menampung orang-orang dari kelompok kami yang sedang kami perangi (kaum Muslim). Demi Allah, kami benar-benar akan memerangi mereka, atau kalian akan mengusirnya. Atau kami menyerang negeri kalian dengan seluruh kekuatan yang kami miliki, sehingga kami menghabisinya bersama-sama kalian dan kami akan menawan wanita-wanita kalian.”

Surat itu menjadi salah satu bukti, bahwa Kafir Quraisy tidak akan bisa hidup tenang kecuali Islam mati. Mati hingga ke akar-akar.

Setelah periode dakwah sembunyi-sembunyi, setelah berbagai ploncoan dan hinaan diterima dan tetap menunggangi kesabaran, ini konfrontasi langsung pertama bagi kaum Muslim.

Rasulullah sempat bertanya pada pesuruh Abu Sufyan yang tertangkap tangan beberapa hari sebelum Perang Badar itu berkecamuk, “Berapa ekor binatang yang mereka sembelih tiap harinya?”

“Terkadang sembilan, terkadang sepuluh.”

Dengan kejelian perhitungan, Rasulullah menyimpulkan dengan cermat bahwa jumlah mereka sekitar seribu orang.

“Siapa saja pemuka Quraisy yang bergabung di tengah mereka?”

“Ada Utbah dan Syaibah, kedua putra Rabi’ah, Abul Bakhtary bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, al Harits bin Amir, …” dan pesuruh Abu Sufyan itu masih menyebutkan beberapa orang lagi.

Mendengar nama-nama yang disebutkan, beliau langsung menghadap kepada semua orang lalu bersabda, “Wahai semua orang, inilah Makkah yang menghantarkan jantungnya kepada kalian!”

***

Apa hubungannya dengan hujan?

Sekali lagi, saya mencoba merasai, apa yang orang-orang di forum itu rasakan ketika Rasulullah berkata demikian.

Wahai semua orang, inilah Makkah yang menghantarkan jantungnya kepada kalian!”

Apa yang mereka rasakan, ketika menyadari jumlah kaum Muslim hanya tiga ratusan orang (313 hingga 317, menurut Shahih Sirah Nabawiyah karya Al-Mubarakfury). Dengan kuda yang hanya dua ekor, unta yang hanya tujuh puluh ekor, dengan tiap dua-tiga orang menaiki satu unta. Juga persenjataan yang seadanya.

Dan orang Quraisy memanggul seluruh usaha terbaiknya, juga membawa dedengkot-dedengkot “terbaik” mereka. Jantung mereka.

Gentarkah orang-orang ketika mendengar Rasulullah berseru demikian?

Apalagi jika kita membaca bait tentang Rasulullah yang memohon, “Ya Allah jika pasukan ini hancur saat ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Kecuali jika memang ya Allah, Engkau menghendaki tidak disembah untuk selamanya, setelah hari ini.”

Sungguh, itu adalah konfrontasi pertama bagi kaum Muslim, dengan bekal seadanya, dengan kekalahan di depan mata—jika diukur dengan kacamata manusia.

Dan Rasulullah sore itu berkata, “Wahai semua orang, inilah Makkah yang menghantarkan jantungnya kepada kalian!”

Mungkin di antara mereka, setelah Rasulullah bersabda demikian, ada yang aliran darahnya semakin memacu. Namun mereka tetap berkata, “Kami tidak akan mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua. Kami ingin duduk menanti di sini saja.’ Tapi, kami akan mengatakan, ‘Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian berdua.’

Ada kekuatan. Ada semangat perjuangan, dan mungkin kepasrahan yang menentramkan karena dibalut dengan keimanan.

Dan malam itu, di antara degup-degup jantung yang semakin menderu, Allah menurunkan hujan.

Allah menurunkan hujan.

Bukan mu’jizat tak mempan dibakar seperti yang Allah turunkan kepada Nabi Ibrahim. Bukan makanan seperti apa yang Allah turunkan kepada Bani Israil di zaman Nabi Musa.

Tetapi Allah menurunkan hujan.

Allah menurunkan hujan yang sangat deras yang seakan membersihkan mereka. Seakan menyingkirkan karat-karat syaitan dari diri mereka. Membuat pasir menjadi semakin rapat dan pijakan mereka semakin mantap. Juga membuat hati-hati mereka semakin menyatu.

“Ingatlah ketika Allah membuatmu mengantuk untuk memberi ketentraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu, dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu.” (Al Anfal: 11)

Sementara itu, hujan deras juga turun di kemah kaum Quraisy. Membasahkuyupkan baju-baju mereka. Menghambat mereka untuk maju. Menyusahkan. Merepotkan. Juga segenap hal buruk yang mengacaukan, seperti apa yang digerutukan di hati mereka.

***

Langit berjelaga. Mungkin sebentar lagi hujan turun, membawa zat-zat yang tak lagi kasat mata.

Seperti hujan waktu itu, di tahun kedua hijriah. Di mana dua kaum, yang satu dengan iman dan yang satu lagi tanpa iman, pernah menghimpun kekuatan di bawah guyuran hujan.

Membuat kita mengetahui, hal sesepele hujan pun dirasai berbeda oleh orang yang dengan dan tanpa iman. Zat-zat tak kasat mata itu, rasa tentram atau kerepotan, mengendap di hati dengan pilih-pilih.

Maka di antara hujan hari ini, zat-zat tak kasat manakah yang mengendap dalam perasaan?

Setelah Kelulusan

Hari muda bekerja. Membara raga. Membaja jiwa. Melanglang makna. Meretas cakrawala. Civitas untuk bangsa.

Generasi Madani, semoga ingat kata-kata “sakral” ini.

Ada mahasiswa yang berapi-api pada setiap kesempatan orasi. Ada yang sama sekali anti, berpendapat bahwa orator paling ulung sekalipun, kadang bisa menjilat ludahnya sendiri.

Ada yang memilih diam saja, membiarkan tindakannya berhenti sampai di hati. Berkecamuk sendiri, entah berpikir, memaknai, atau menyelisihi.

Ada mahasiswa yang darahnya mendidih ketika jargon hidup mahasiswa berdenging-denging di kepala. Menyumsum tulang. Membuat potret-potret kehidupan ibu pertiwi selalu berkelebatan di depan mata. Terbawa sampai jauh. Bahkan ketika sudah bisa hidup enak di luar negeri, kepada rumahlah kerinduannya akan selalu kembali. Kepada Indonesia, kepada semangat-semangat mahasiswa yang selalu hidup di dirinya.

“Hidup mahasiswa!”, dan ada yang malah langsung membuang muka, kemudian menelungkupkan wajahnya dalam kesibukan yang entah apa gunanya. Mungkin sambil berkata, “Apa itu idealisme? Pemuda dan idealisme hanya ada dalam omong kosong Tan Malaka.”

Tetapi, di antara degup jantung ribuan mahasiswa dengan sifat berbeda itu, selalu ada cerita tentang birunya persahabatan, lelahnya perjuangan, cekcok yang menambah keakraban, merah jambunya usia dua-puluhan. Cerita-cerita manusiawi yang mempersatukan. Yang mempersatukan.

Begitu pun di sini. Begitu pun di kampus ini.

Setelah kelulusan, kita patut mengenang banyak hal. Menelusuri lagi jejak-jejak kegagalan dan pencapaian di tiga tahun ini. Evaluasi atas naik turunnya kita. Terbang tenggelamnya kita. Kuat dan terhempasnya kita.

Tahun pertama, awal pekan. Kita berlari. Berlari sampai habis napas dan energi. Kesadaran lima watt, mata hitam berkantung, tangan keram, pundak yang hampir patah, advokasi-advokasi yang bikin nyeri. Saya masih ingat teman sekelompok yang mengajukan keberatan. Membela teman sekelompok yang menurut kami tak bersalah, hingga tenaga habis, hingga batas seorang perempuan: menangis.

Awal pekan. Teriakan itu dan itu lagi. Menunduk, katanya. Untunglah kita disuruh menunduk, bukan melakukan hal konyol lain. Walaupun banyak dari kita yang juga merutuk, “Untuk apa dipaksa menoleh, berbalik, menunduk? Untuk takluk?”

Merutuk, bahkan hingga sekarang—ketika terkenang-kenang.

Ah, isi kepala manusia memang tak bisa serupa. Saya maklum dan tak ingin memaksa sama. Walaupun yang terucap dalam hati ini adalah sederas-derasnya syukur. Tak perlu memandang, apalagi sampai memegang tangan yang tak sepatutnya digenggam.

Tahun pertama, awal pekan. Berdiri gagah para pejabat di podium terdepan. Gaya bicara mereka lugas, wibawa, dan berpendidikan. Bergaung-gaung di sepenjuru gedung sampai meresap ke hulu jiwa. Kita yang masih “kampung”, diperkenalkan dengan istilah-istilah “calon punggawa keuangan”. Kita ditinggikan. Kitalah orang pilihan, katanya. Ujung tombak keuangan negara, katanya. Hidup mahasiswa!

Tahun pertama. Semangat setinggi langit. Cita-cita dua puluh empat karat. Sayap terentang. Senyum pagi selalu mengembang menyapa alam semesta. Inilah pemuda terbaik, dengan usaha dan cita-cita terbaiknya, mengukir prestasi lewat guratan pena, ketikan keyboard, bertumpuk buku, dan… otak yang jungkir balik. Berkutat dengan organisasi sebanyak-banyaknya. Idealisme membaja, IP tetap dewa.

Walaupun di tahun pertama juga ada cerita. Dari teman-teman yang merangkak mencari secuil semangat. Ini bukan kampus pilihannya. Ini suruhan orang tuanya. Ini bukan masa depan yang diinginkannya. Terseok-seok. Tertatih-tatih. Dan hanya sedikit dari kita yang peka.

Tahun kedua. Sayap kita banyak yang mendadak berubah menjadi sirip. Siap-siap menukik. Kanan-kiri sudah mulai terjatuh bebas. Mulai jenuh pada rutinitas.

Kita tenggelam saat sirip itu belum paripurna terbentuk. Kita tak lagi kuat untuk terbang, pun tak siap untuk tenggelam. Kita tak siap untuk berenang dalam kubangan permasalahan. Kuliah yang makin berat, tugas yang semakin tak keruan bentuk dan tenggat waktunya, kepanitiaan yang kacau, ditinggal kakak kelas, tak punya adik kelas, organisasi yang tak tahu bagaimana kelanjutannya. Banyak yang frustasi, marah, menyinyiri orang, lelah tak berkesudahan.

Yang sudah terseok-seok di tahun pertama, makin beragam jalan hidupnya. Ada yang tiba-tiba menemukan di mana semangatnya bersembunyi—kemudian ia berusaha terbang lagi, ada yang hilang dan akhirnya tak bisa bertahan, ada yang mengundurkan diri secara jantan.

Tahun kedua, pandangan-pandangan hidup mulai berbenturan. Mulut-mulut kita semakin deras mengalirkan kemarahan.

Saya mulai bertanya-tanya, tak bisakah kita tetap menjadi sahabat yang saling merangkul di luaran, walaupun memiliki perspektif hidup yang berseberangan? Walaupun, contohnya, di panggung organisasi kita adalah oposisi?

Seperti persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta yang tetap terpelihara meski pilihan politiknya jauh berseberangan. Tak bisakah?

Tahun kedua, banyak dari kita yang pola pikirnya telah terbentuk. Banyak hal terjadi. Banyak tradisi yang terwariskan, sayangnya tradisi itu tak semuanya bagus.

Tahun kedua, banyak percik perselisihan. Dari yang sesederhana sebuah janji kongko yang tak terpenuhi, hingga yang serumit koyak-mengoyak ideologi.

Belajarkah kita? Semakin dewasakah kita?

Tahun kedua, kita terjun bebas, terjungkal-jungkal sampai lesap entah di mana.

Menunduk. Ketika kata-kata itu sangat kita benci, hukum kausalitas seperti berlaku. Tak bisa mengingkari, banyak dari kita yang tumbuh dalam tirani takut. Berani berkasak-kusuk hanya di balik kacamata dan layar komputer yang meredup.

Tahun kedua, membenci, mencintai, kabur dari organisasi, kabur dari teman sekongsi, bersenang-senang sampai pagi, menangis seperti tidak ada hari lagi. Banyak yang terjadi. Banyak yang terjadi.

Tetapi semoga, di ceruk hati yang paling tersembunyi, kita selalu diam-diam mengamati, memperhatikan, memaknai. Belajar mendewasakan diri. Berdoa agar angkatan ini selalu diberkahi.

Berdoa agar angkatan ini selalu diberkahi.

***

Tahun ketiga. Kelulusan semakin dekat. Waktu berjalan semakin cepat. Sebagian dari kita tiba-tiba menjadi sibuk hingga menyapa pun tak lagi sempat. Sebagiannya lagi terlalu menganggur hingga bingung mau berbuat apa. Hampir mati kebosanan.

Tahun ketiga, kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk melantunkan ucapan-ucapan perpisahan. Semakin hari semakin sering saja pesan suram masuk di telepon genggam, “Ngumpul yuk, sebelum enggak ketemu kalian lagi”.

Menunjukan bahwa sesungguhnya kita tidak siap, kalau tidak segera siap-siap.

Hati semakin berkecamuk. Ujian akhir, disebar menjadi orang kantoran, dan akhirnya, kelulusan!

Yudisium digelar, kita kembali memakai pakaian monokrom berdasi. Mengingat-ingat gaya pakaian kita saat tahun pertama wara-wiri di sini.

Simbolisasi kelulusan pun dihelat. Wisuda. Orang-orang tersayang hadir, memberikan bunga, selamat, dan tangis kebahagiaan. Seremonial yang membuat hati membuncah. Haru, bangga, bahagia. Langit Sentul cerah, di bawahnya ada kita yang berlari memeluk sahabat sambil berlomba berucap tahniah, melempar toga, mengabadikan setiap detiknya dalam kamera.

Tiga tahun selesai, kawan. Kita telah lulus.

Kemudian apa?

Waktunya istirahatkah? Waktunya untuk sibuk tidak berbuat apa-apa?

Kata seseorang, setiap detik adalah detik untuk memperbaharui strategi.

Maka, semoga lari kita tidak berhenti di sini saja. Setelah kelulusan, semoga kita tak lantas kehilangan diri kita. Peluklah lagi diri sendiri dengan erat ketika semangat sudah mulai retak, tegaskan lagi mimpi kita dengan pena yang lebih hitam, benderangkan lagi lampu-lampu pada jalur yang harus kita tempuh di depan.

Tiga tahun yang lalu, kita telah diperkenalkan dengan sebait kata-kata, tentang bekerja di hari muda, semangat yang  membara, jiwa yang membaja, pikiran yang selalu mencari makna, berkawan dengan cakrawala. Kita yang selalu akan menjadi civitas untuk bangsa. Selalu menjadi pembelajar untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa. Untuk diri kita. Untuk kedua orang tua . Untuk keluarga, sahabat, masyarakat, dan orang-orang di sekitar kita.

Ketika dulu kakak kelas berkata “titip kampus”, sesungguhnya amanah itu akan terbawa sampai usia putus.

Semoga angkatan ini kompak. Semoga Generasi Madani ini dapat menjunjung tinggi iman, nilai, norma, hukum, ilmu, dan peradaban. Semoga kita menjadi generasi solutif yang tak saling mengutuk di belakang, menyelesaikan masalah dengan jantan, berpendapat dengan sopan, dengan hati yang saling bergenggaman.

Semoga, semua yang telah terjadi memang rangkaian takdir yang akan memperkuat kita.

Semoga langkah kita barakah.

Semoga apa yang kita usahakan untuk kampus ini bernilai ibadah.

***

Setelah kelulusan, kemudian apa?

Bekerja sambilan, merintis bisnis, membantu orang tua, menggeluti hobi, menjelajahi ibu pertiwi, bahkan menikah, terserah. Kita punya banyak pilihan. Dan semoga segala pilihan yang diambil selalu berlandaskan niat yang baik, dengan eksekusi yang terbaik.

Sudah sepatutnya. Sudah sepatutnya. Sebagai rasa syukur kepada Sang Pencipta atas persediaan udara yang tak habis-habis dihela.

“Belajar adalah perayaan terhadap diri sendiri. Selamat wisuda. Semoga segera terlibat dalam perayaan di dunia kerja. Barakallah.”—tahniah dari seseorang.

//

Anak-Anak Suriah

ImageAl-Hurriyyah.

Mari kita bayangkan diri ini—dalam wujud lima atau sepuluh tahun lalu—sedang berada di sebuah sekolah dengan bangunan yang tua. Kemudian dengan kepolosan yang seperti biasa, kita mencorat-coret sebuah kata pada dinding, atau papan tulis, atau bebatuan, atau pada tanah di halaman sekolah. Lafalnya sederhana, “kebebasan”, seperti yang sering kita dengar dari orang-orang dewasa—walaupun mereka bisik-bisik penuh ketakutan. Kita menulis “kebebasan” dengan pemaknaan parsial khas anak kecil, penuh harapan akan hidup yang lebih baik, sekaligus penuh ketidakmengertian akan “apa maksudnya—apa rasanya—menjalani kehidupan yang lebih baik?”.

Kemudian polisi berbondong-bondong datang. Membawa kita dan keempat belas teman kita yang juga ada di sana. Bukan untuk dijewer atau sekadar dinasihati karena mencorat-coret tembok. Tetapi untuk diterungku, disiksa, dibuat jera, dicabuti kuku-kukunya, dan entah deraan apalagi yang akhirnya membawa mata kepala kita dapat menyaksikan teman-teman sepermainan yang menjadi gila, bahkan sampai meninggal dunia.

Dan pahitnya, hal biadab tersebut benar ada dan terjadi di belahan dunia ini. Sekolah itu terletak di Dar’aa, Suriah. Kejadiannya sekitar dua tahun lalu, tepatnya pada tanggal 26 Februari 2011. Majalah Al-Intima menuliskan bahwa lima belas anak tersebut menuliskan kata “Al-Hurriyyah” yang artinya adalah kebebasan. Sedangkan sumber-sumber lain menyebutkan kata-kata yang dituliskan tersebut berhubungan dengan rezim Asad.

Agaknya, Pemerintah Suriah mengidap ketakutan akut terhadap Arab Spring yang memang sedang melanda kawasan Timur Tengah tersebut. Rezim pemerintah khawatir, jika nantinya bibit-bibit Arab Spring dapat berpenetrasi di Suriah. Takut jika empat puluh tahun kepemimpinan kubu Nusairiyah-Alawiyah (Syi’ah) harus berakhir dengan revolusi. Seperti yang terlebih dahulu menimpa tetangganya, Mubarak di Mesir dan Bin Ali di Tunisia.

Sehingga ketakutan tersebut menyebabkan rezim pemerintah merasa harus menutup pintu serapat-rapatnya terhadap segala kemungkinan yang dapat memicu revolusi di Suriah. Api kecil revolusi yang tersulut, harus segera dipadamkan secara buas dan membabi buta dengan bertangki-tangki air penyiksaan dan pembungkaman. Termasuk “bara” sesepele kata-kata “Al-Hurriyyah” yang ditulis oleh anak-anak.

Tetapi, penyiksaan terhadap anak-anak tersebut malah menjadi senjata makan tuan bagi pihak pemerintah. Dar’aa, Homs, Damaskus, melayangkan protes dan kecaman terhadap pemerintah yang pada tahun 1982—saat kepemimpinan ayah Basyar Al-Asad, Hafidz Al-Asad—juga pernah membantai 40.000 orang muslim Sunni tersebut. Puncaknya adalah sebuah aksi demonstrasi masif pada tanggal 15 Maret 2011 yang menuntut reformasi di bidang politik, sosial, dan ekonomi. Aksi damai itu terselenggara atas nama penentangan kepada tirani, penindasan, dan kesewenang-wenangan.

Dan siapa sangka, pemerintah menjawab demonstrasi itu dengan cepat. Semburan peluru ke arah rakyatnya sendiri.

Sehingga wajar, tindakan keterlaluan itu malah mengubah tuntutan reformasi menjadi tuntutan yang lebih besar lagi: tuntutan untuk menumbangkan rezim Al-Asad. Revolusi.

Tujuh puluh ribuan nyawa telah dikorbankan. Revolusi masih tersulut, berkobar.

Hingga sekarang.

***

Dua tahun lebih pasca pemerintah yang sedemikian pathetic dan insecure terhadap kekuasaan, apa yang terjadi pada anak-anak Suriah?

Media, bahkan UNICEF, ramai menisbatkan “The Lost Generation” pada anak-anak Suriah. Generasi yang punah. Generasi yang memprihatinkan karena sekolah-sekolah mereka telah dihancurkan, karena mereka harus menyaksikan orang-orang yang mereka cintai mati, karena di usianya yang tujuh atau delapan tahun mereka harus menjadi buruh, dan sebab-sebab lain yang tidak sepatutnya ditanggung oleh anak sekecil mereka.

Dan menjadi sangat menyedihkan ketika kita mengetahui bahwa istilah “Lost Generation” yang asli berasal dari zaman Perang Dunia I. Di mana banyak pemuda yang pergi berperang, dan mati. Atau jika dapat hidup dan pulang, mereka cacat fisiknya dan rusak mentalnya. Kepercayaan terhadap kekuatan moral dan religi hancur. Mereka tak lagi dapat merasakan kenyamanan dan kebahagiaan dengan kebaikan moral dan agama. Mereka kecewa, melayang, dan “hilang”.

Dan sekarang, orang-orang ramai menyebut anak-anak Suriah sebagai “The Next Lost Generation“. Generasi yang kecewa, tak punya pijakan, hilang, dan kabur masa depannya. “When you talk to them about the future, they can’t see beyond, frankly, the next day.” Itulah kutipan wawancara bersama Carolyn Miles, Chief Executive dari Save the Children sebagaimana diberitakan oleh New York Times.

Di Aleppo, wajah-wajah penderitaan anak-anak Suriah tergambar dengan jelas. Generasi penerus para revolusioner itu kini harus berhadapan dengan kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan. Anak-anak berkebutuhan khusus tak dapat terpenuhi kebutuhannya. Anak-anak memasuki pasar dan menjadi buruh lebih awal. Aleppo yang memang sebelum perang pun memiliki masalah terkait pekerja anak, harus menghadapi masalah yang sama, dalam level yang lebih serius.

Masa kanak-kanak, masa depan, dan hak-hak mereka terampas sekaligus oleh konflik yang tak habis-habis. Dirampas oleh pemerintah yang tak tahu diri dan ngotot ingin tetap berkuasa. Menyebabkan anak-anak yang seharusnya tak terlibat dalam perang, harus berdiri di garis depan perang. Merasakan pahitnya akibat perang.

Namun ternyata, di sana juga ada kekuatan yang sedang berhimpun. Sehingga selalu ingin mengucap “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah,” di setiap kisah yang terbaca atau sampai di telinga.

Di garis depan perang itu, harapan-harapan atas generasi yang lebih kuat muncul. Aleppo, dengan dingin yang menusuk tulang dan sudut sasaran sniper ada di mana-mana, menyisakan cerita bahwa di sana juga ada sekolah dengan guru-guru yang beberapanya juga masih remaja. Pelajaran utama mereka adalah Al-Quran dan Hadits yang dihapal para gurunya. Selebihnya baca, tulis, hitung, geografi, dan pelajaran apa saja, semampu gurunya, seingat gurunya. Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah.

Di sana ada anak-anak yang memiliki jawaban luar biasa ketika ditanya mengapa mereka tidak mau mengungsi dari Aleppo. Anak-anak yang semoga Allah menjadikannya tentara-tentara bagi umat Islam.

Ada harapan. Ada harapan jika kita mau menyatukan hati kita, dengan kekuatan doa, dengan kekuatan sedekah, dengan apa saja kemampuan kita untuk menolong mereka. Karena sesama umat muslim bagaikan satu tubuh, jika yang satu sakit, maka yang lain akan merasa sakit. Dan duhai engkau yang tak ikut merasakan pedih, coba sejenak tengok mereka dengan mata hati yang paling dalam.

Dari sini kita tahu, yang membedakan “Lost Generation” zaman Perang Dunia I dan yang terjadi di Suriah adalah, pada Perang Dunia I, pemudanya tak lagi percaya dengan kekuatan moral dan agama. Sehingga mereka rusak serusak-rusaknya, hilang sehilang-hilangnya. Sedangkan di Suriah, tekanan-tekanan itu membuat banyak pemudanya semakin dekat kepada Al-Quran dan Sunnah. Mendekat kepada Allah. Dan itulah yang membuat kaum muslim di Palestina, Suriah, Myanmar, dan segenap kaum muslim tertindas lain kuat bertahan dalam gempuran lawan.

Semoga Suriah segera bebas dari nestapa berkepanjangan. Sesungguhnya mereka ini yang berada di garda terdepan keimanan!

Anak-anak yang tak mau meninggalkan Aleppo. "Karena kami membela kebenaran! Karena kami di jalan Allah!" (Sumber: sahabatsuriah.com)

Anak-anak yang tak mau meninggalkan Aleppo. “Karena kami membela kebenaran! Karena kami di jalan Allah!” (Sumber gambar: sahabatsuriah.com)

Mesir: Revolusi atau Sekadar Agitasi?

Tahrir Square lagi-lagi menjadi saksi lagi atas pergolakan puluhan ribu orang pada 30 Juni 2013 lalu, di tepat setahun periode kepemimpinan Mursi. Pendemo tersebut menuntut Mursi mundur karena dianggap tak becus menyelesaikan permasalahan ekonomi dan keamanan. Momen itu ternyata merupakan unjuk rasa terbesar pertama setelah kejatuhan Hosni Mubarak 2011 silam. Lama-lama, demo yang menuntut Mursi mundur itu berubah menjadi anarki.

Hari-hari berikutnya rangkaian kejadian terasa bergulir cepat, kudeta Sang Presiden, intervensi militer, penunjukkan pemimpin baru secara sepihak, bahkan pembentukan kabinet baru yang dilakukan tanpa melibatkan satu pun orang dari pemenang pemilu kemarin: Freedom and Justice Party (FJP).

Ada rasa tersayat ketika saya membaca artikel Islam, Democracy and Soldiers: Egypt’s Tragedy, dalam majalah The Economist edisi 6 Juli 2013. Majalah yang kerap diklaim orang sebagai majalah yang “sangat jujur” karena menghadirkan perspektif para pembesar kapitalis itu, di mata saya—khususnya artikel tadi—malah terlihat seperti tulisan yang berisi banyak opini, bahkan tuduhan.

Paragraf awal saja sudah menjelaskan ke mana arah tulisan tersebut, bahwa awak redaksi majalah tersebut merasa cemas dan tak nyaman ketika Mursi menjadi pemimpin Mesir. Katanya, politik Mursi hanyalah dagelan agama, yang antagonis pada perempuan dan masyarakat minoritas—sikap yang menurut mereka biasa mewarnai pergerakan Islam.

Tak disorotnya satu pun keberhasilan yang telah dibuat. The Economist akhirnya sama saja seperti media mainstream lainnya yang berat sebelah. Yang menilai bahwa pergolakan ini masih dalam bingkai revolusi Mesir—perjalanan rakyat Mesir menuju kemenangan. Revolusi? Kemenangan?

Sebelumnya, mari kita samakan persepsi. Saya rasa kita semua akan sepakat dengan pendapat Mao Zedong.

A revolution is not a dinner party, or writing an essay, or painting a picture, or doing embroidery. It cannot be so refined, so leisurely and gentle, so temperate, kind, courteous, restrained and magnanimous. A revolution is an insurrection, an act of violence by which one class overthrows another.

Betul, bahwa revolusi tidak akan pernah akan semenenangkan menyulam atau pesta makan malam. Ia adalah pemberontakan dengan penuh kekerasan. Satu kelas akan menggulingkan kelas lain. Tapi sayang Mao Zedong tak pernah menjelaskan—atau mungkin saya yang kurang membaca—mana batasan revolusi dan mana yang sekadar agitasi, sekadar menghasut dan menciptakan huru-hara karena alasan-alasan tertentu.

Saya yakin, kita telah kenyang dengan kisah Hosni Mubarak dan masa jabatannya yang hampir tiga dekade itu. Maka saya kutipkan sebagian dari apa yang The Economist tuliskan perihal inkompetensi Mursi:

He did nothing to rescue the economy from looming collapse. The Egyptian pound and foreign exchange reserves have both dwindled, inflation is rising and unemployment among those under 24 is more than 40%.

Mungkin angka memang bisa menjadi indikator bagi nilai sebuah negara. Tetapi “membaca” Mesir, atau negara mana pun, menurut saya tak pernah bisa dengan hanya melihat sekadar angka. Yasser El-Shimy, seorang analis Kairo dari International Crisis Group, mengatakan bahwa di era Hosni Mubarak, GDP Mesir naik empat kali lipat, begitu pula dengan angka kekayaan dan produksi. Angka-angka itu memang sepintas mencerminkan prestasi. Tetapi, ia tak pernah mencerminkan bagaimana ketimpangan sosial kian meroket atau upah pekerja yang tak kunjung naik.

Pada satu tahun tiga hari masa kepemimpinannya, Mursi “diamankan” dan dilengserkan dari jabatannya karena dianggap tidak mampu menjaga stabilitas ekonomi dan politik Mesir. Militer mengintervensi, beberapa orang mendukungnya, menganggap jalan itu semata-mata demi kepentingan rakyat, agar tak ada darah yang bersimbah lagi di Negeri Musa dan Fir’aun tersebut.

Nyatanya, pro-Mursi malah ditembaki saat shalat subuh. Membuat kening saya berkerut dan air mata menggenang, militer itu bekerja untuk rakyat yang mana?

Militer mungkin tak lagi zaman untuk datang ke istana dan langsung mengkudeta para tokoh dengan bedil, seperti yang dulu pernah terjadi pada Salvador Allende di Chile. atau Hugo Chaves di Venezuela. Yang perbedaan di antara mereka adalah bahwa Chaves berhasil merebut kedudukannya lagi, sementara Allende harus mati.

Barisan militer itu kini lebih suka berlindung di balik ketiak massa. Biar massa bergerak dulu, tak apa walau cuma sedikit dan tak mewakili apa pun, yang penting nyaring. Baru kemudian ketika suhu memanas dan pembuluh nadi mendidih, tentara maju ke depan dengan apologia stabilitas nasional. Dan kudeta akan lebih elegan dengan dalih: apa yang dilakukan tentara adalah kehendak rakyat. Sama seperti yang dibunyikan para pendukung kontrarevolusi Mesir, para pendukung kudeta.

Mursi hanya diberikan waktu satu tahun untuk menyelesaikan permasalahan yang dipupuk berpuluh tahun. Waktu yang tentunya teramat singkat. Bandingkan saja dengan Indonesia yang bahkan hingga saat ini tak selesai-selesai dalam mengurus reformasinya.

Di bumi Jakarta bahkan, saya tak yakin hal “sesimpel” macet, banjir, premanisme, atau Pedagang Kaki Lima dapat diselesaikan satu tahun oleh Gubernur yang hobi blusukan itu. Dan menanggapi hal tersebut, selintas pun tak pernah terpikir di benak saya untuk mengudeta Jokowi kalau nantinya belum dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan simpel (simpel jika dibandingkan dengan permasalahan Mesir) tersebut dalam setahun.

Ada harga yang harus dibayar Mesir atas pelengseran tersebut.

Seorang anak petani, sederhana, cerdas—pernah bekerja di NASA. Presiden yang tak pernah mencalonkan dirinya sendiri—tak seperti di Indonesia di mana calon presiden dengan senang hati menunjuk dirinya sendiri dan tak malu dengan permasalahan menggunung yang menunggu diselesaikan di balik punggungnya.

Presiden yang tak mau tinggal di rumah dinas dan lebih memilih tinggal di rumahnya yang sederhana, presiden yang tak mau dikawal bak raja. Dan bagi umat muslim, adalah kebanggaan memiliki seorang pemimpin yang hafal Al-Quran dan dapat menjadi imam.

Islamisasi dan ikhwanisasi di Mesir, bagi saya hanyalah ketakutan-ketakutan yang tak jelas juntrungannya. Apa yang salah dari pembukaan pintu gerbang perbatasan Mesir-Palestina, ketika kini hak asasi manusia sudah jadi hal yang niscaya? Apa saking sibuknya dunia mengurusi bagaimana memperjuangkan LGBT, mereka jadi tak acuh pada darah yang bersimbah di Timur Tengah?

Mungkin dalam perjalanannya, Mursi pernah keliru dalam memanuver arah politik Mesir. Ia pun telah mengakui dengan jiwa yang lapang dan terbuka, bahwa ijtihad politiknya memang ada kekeliruan-kekeliruan. Dan ada azam untuk perbaikan yang diteguhkannya.

Dan seharusnya, di sanalah demokrasi digunakan oleh rakyat dan pihak-pihak yang berkepentingan atasnya. Dengan terus memberikan masukan kepada pemerintahan yang ada, bukan malah menebar agitasi dan melakukan kudeta.

Apakah kudeta dan hasut-menghasut akan menjamin Mesir lebih baik? Saya rasa tidak. Sama sekali tidak. Bahkan hal tersebut malah menambah daftar panjang mata yang sembab, darah yang tercucur, serta nyawa-nyawa dari pemuda bersahaja yang kembali ke peraduan—tak lagi dapat memperbaiki bumi di mana mereka berpijak.

Untuk saudara-saudaraku yang pertama kalinya mengakui berdirinya Republik Indonesia, semoga Allah selalu menggenggam kalian dalam naungan rahmat-Nya.