Menghilangkan Dunia

The master-economist must possess a rare combination of gifts …. He must be mathematician, historian, statesman, philosopher—in some degree. He must study the present in the light of the past for the purposes of the future. He must be purposeful and disinterested in a simultaneous mood, as aloof and incorruptible as an artist, yet sometimes as near to earth as a politician.

John M. Keynes

Saat itu, almanak menunjukkan tahun 1929 ketika Amerika Serikat ditimpa oleh sebuah krisis ekonomi yang berkepanjangan. Saking membekasnya, peristiwa tersebut dijuluki dengan istilah Great Depression.

Tak butuh waktu lama, peristiwa tersebut segera menjadi tema diskusi yang serius di kalangan akademisi dan para ekonom. Bahkan diskusi dan kajian tersebut menjadi berkepanjangan, bertahan hingga puluhan tahun.

Pada saat itu, Great Depression adalah teka-teki yang seksi.

Sampai akhirnya, pada tahun 1963, seorang ekonom bernama John Maynard Keynes menerbitkan sebuah buku yang berjudul The General Theory of Employment, Interest, and Money. Buku tersebut sedikit banyak menjawab pertanyaan banyak orang mengenai penyebab Great Depression nan melegenda.

Antara lain adalah pertanyaan: mengapa segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya di Amerika pada tahun 30-an? Mengapa kurva-kurva ekonomi terus meluncur turun, padahal secara teori segala sesuatunya sudah harus menyiklus naik?

Masih terjadi perdebatan, tetapi banyak yang sepakat dengan jawaban Keynes: bahwa saat itu, seharusnya pemerintah turun tangan di setiap lini ekonomi yang membutuhkan, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan kestabilan ekonomi. Maklum saja, saat itu pemerintah hanya turun tangan dalam pengelolaan barang publik dan eksternalitas. Selebihnya, perekonomian secara agregat berjalan dalam kendali “tangan tak tampak” 1).

Banyak yang sepakat bahwa Keynesianism menandai berakhirnya rezim ekonomi laissez-faire alias rezim ekonomi persaingan bebas yang menihilkan peran pemerintah hingga titik tertentu dan lebih membebankan kerja perekonomian pada keputusan-keputusan pihak swasta.

Dengan karya tersebut, Keynes menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan ilmu ekonomi. Bahkan hingga saat ini, model ekonomi Keynes masih dianggap relevan untuk digunakan dalam implementasi-implementasi kebijakan pemerintah.

***

Dan kita berlari ke Madinah. Tahun Ramadah.

 

Satu ketika, pada masa kepemimpinan Umar Ibn Khaththab, tepatnya di tahun kedelapan belas hijriah, musim paceklik berkepanjangan membawa rona kelabu pada tanah-tanah di daratan Madinah. Kelaparan, kelangkaan makanan, ternak-ternak yang binasa, membuat harga segala kebutuhan melambung tinggi. Paceklik selama sekitar dua tahun tersebut begitu membekas, dipikirkan tiap siang, dan malam, dan subuh, dan isya, sehingga raut wajah Umar Ibn Khaththab yang biasanya berseri, berubah menjadi kehitaman.

“Apakah umat Muhammad akan binasa di bawah kepemimpinanku? Seandainya bencana ini terjadi di zaman jahiliah, maka kaum Arab pasti mati seluruhnya, saling bunuh demi berebut sebutir gandum atau setetes air!”

Menanggapi keadaan tersebut, Umar akhirnya meminta bantuan kepada Amru bin Ash, seorang pemimpin dari sebuah daerah di dataran Mesir. Puluhan kafilah dan belasan kapal pun akhirnya dikirim dari Fustat ke Madinah untuk mengangkut makanan, pakaian, dan segenap kebutuhan. Dengan begitu, musim paceklik dapat terlewati.

Di kali lain, kepemimpinan Umar dihadapkan pada masalah yang berbeda. Agak berbanding terbalik dari kondisi di masa-masa paceklik, masalah kali ini ditimbulkan oleh pedagang-pedagang Madinah yang mendapatkan keuntungan besar dari perjalanan bisnis mereka ke negeri Syam. Ya, masalah ditimbulkan oleh para pedagang yang membawa berlimpah-limpah uang ke dalam negeri Madinah, lantas membaginya kepada anak, istri, dan keluarga.

Karena setelahnya, pembelian barang-barang, terutama beberapa jenis bahan pokok, langsung meledak. Dan ledakan pembelian itu tidak terjadi karena kebutuhan, tetapi terjadi semata karena setiap orang tiba-tiba merasa kaya.

Merespons keadaan tersebut, Umar Ibn Khaththab segera memberikan instruksi: batasi transaksi untuk tiga jenis barang pokok. 2)

Dalam sebuah kilasan pembicaraan tentang ekonomi Islam, saya selalu teringat dengan cerita Kak Zaili tentang kerangka perekonomian Islam yang mula-mula. Bahwa Madinah adalah “pasar” pertama di mana bingkai ekonomi Islam mulai bertumbuh. Sebagaimana Madinah merupakan negara Islam yang pertama berdiri, pasar dengan kerangka ekonomi Islam yang solid juga terlebih dahulu terbentuk di Madinah ketimbang di Makkah.

Hal tersebut dapat kita lihat, salah satunya, dari keputusan-keputusan Umar Ibn Khaththab yang menjadi pembuka tulisan ini. Ya, dalam tahun yang lebih muda daripada kelahiran teori Keynes, Umar Ibn Khaththab sebagai pemerintah telah terlebih dahulu membuat keputusan-keputusan brilian terkait perekonomian negaranya.

Umar Ibn Khaththab seakan menyampaikan kepada kita tentang dua jenis stabilitas yang dikenal Islam dalam pengelolaan perekonomian sebuah negara.

Stabilitas pertama adalah stabilitas di sektor riil, yang ditunjukkan Umar lewat keputusannya untuk mengimpor bantuan dari Fustat, saat inflasi meroket karena kelangkaan bahan pokok di musim paceklik.

Stabilitas kedua adalah stabilitas di sektor keuangan/moneter, yang ditunjukkan Umar lewat keputusannya untuk menyumbat impuls buying–fenomena yang menjadi konsekuensi dari berlebihnya peredaran uang di masyarakat.

Dan beberapa generasi setelah Umar Ibn Khaththab ra, Ibnu Khaldun mengokohkan perlunya peranan pemerintah dalam sebuah buku yang bertajuk Muqaddimah.

“Pemerintah adalah pasar terbesar, ibu dari semua pasar, dalam hal pendapatan dan penerimaannya.”

Muqaddimah, Ibnu Khaldun

Menarik.

Bahwa perjalanan cerita dari kisah Umar Ibn Khaththab, kepada terbitnya buku Muqaddimah Ibnu Khaldun, menuju ke Great Depression di Amerika, hingga kelahiran Keynesianism setelahnya, bahkan hingga kini ketika Stiglitz peraih nobel ekonomi itu mengatakan bahwa dunia butuh paradigma ekonomi baru, semuanya memiliki garis waktu yang terhubung, terjadi di dunia yang satu. 3)

Ekonomi Islam sudah lama absen dari kehidupan masyarakat. Dan sebuah tantangan untuk membangkitkannya lagi, menciptakan solusi dari ketidakpastian ekonomi yang melingkupi dunia.

Untuk itu, mungkin kita dapat sedikit mengambil inspirasi dari ujaran Keynes: Islam membutuhkan ekonom yang bisa menjadi matematikawan, sejarawan, dan negarawan yang sedikit filosofis sekaligus. Ekonom yang bisa belajar tentang hari ini dan hari-hari yang lalu sekaligus. Ekonom yang dapat mengantisipasi tantangan-tantangan masa depan.

Di Indonesia sendiri, sistem keuangan syariah porsinya masih sekitar 5% dari sistem keuangan secara keseluruhan. Itu pun, banyak umat muslim yang menolak perbankan syariah dengan alasan bahwa yang konvensional maupun syariah, sistemnya masih sama-sama riba. Walaupun jika demikian alasannya, saya juga sama sekali tidak berkapasitas untuk menyalahkan dan menghakimi.

Saya hanya sedang merenungi petala sejarah kita; bahwa ketika sesuatu tertolak dalam Islam, pasti ada alternatif lain yang disediakan.

 

Karena dengan begitu, saya menjadi segenapnya percaya: Islam tidak pernah diturunkan untuk menghilangkan dunia.

***

1) Teori “tangan tak tampak” yang dicetuskan Adam Smith meyakini bahwa ekonomi akan mencapai titik keseimbangannya tersendiri dari mekanisme permintaan-penawaran di pasar.

2) Disarikan dari presentasi Adiwarman Karim pada Seminar Nasional Ekonomi Syariah, Jakarta, 2015.

3) Tulisan Joseph Stiglitz, Needed: A New Economic Paradigm, dapat dibaca di The Financial Times.

Teruntuk Widya

Di antara setangkup senja, seikat renjana

Di bawah langit yang merefleksikan semburat bahagia

Berkelindan doa-doa

Melangit angkasa

Semoga mawaddah, sakinah, dan rahmah selalu menyertai perjalanan dua anak manusia

Menggenapkan separuh lagi bagian agama.

***

Sebuah jajak pendapat sederhana yang dilakukan di kalangan anak-anak pengemban dakwah, pegiat agama, mengawali sebuah nasihat dari Ustaz Salim. Simpulan dari jajak pendapat tersebut, tutur sang Ustaz, “…membuat dahi kami bekernyit.”

Apa pasal? Karena mereka, anak-anak yang diharapkan menjadi pewaris perjuangan orang tuanya, sebagian besarnya malah justru berkata, “Kalau sudah besar, kami tak mau menjadi seperti abi dan ummi. Kami ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja.”

Anak-anak itu tak ingin lagi mengulangi, menjadi ayah dan ibu yang jika pulang hanya menyisakan lelah, getah, dan keluh kesah. “Kami ingin ada dan hadir untuk keluarga seutuhnya.”

Ustaz Salim lantas menyampaikan petuah agar tiap-tiap manusia yang akan menjadi orang tua selalu ingat untuk bercermin. Dan bukan. Yang dimaksud bukan bercermin dalam pengertian-pengertian yang penuh kiasan, tetapi bercermin dalam pengertian mula-mula, pengertian yang benar-benar harfiah.

Bercermin, supaya wajah-wajah yang kusut, dapat sejenak sembunyi. Bercermin, supaya binar mata, gurat bahagia, serta rasa cinta dapat sejenak kembali di tengah-tengah kelelahan nan fitrah, kelelahan atas manusianya kita.

Karena, pesan sang Ustaz, “Istri mereka lebih berhak atas pesona dirinya daripada atasannya. Anak-anak mereka lebih memerlukan keakraban cintanya dibanding para mitra kerja.”

Sehingga bercermin dalam makna yang harfiah pun, adalah kebaikan yang muaranya sebesar: menjaga kelangsungan dakwah.

Nasihat Ustaz Salim tersebut sesungguhnya ditunjukkan untuk lelaki yang pulang pasca bertebaran mencari nafkah di muka bumi. Dan amanah yang tertitip untuk seorang perempuan ‘hanya’ berupa, “Ingatkanlah suamimu untuk bercermin.”

Namun, karena saat ini beberapa perempuan memiliki kondisi yang mengharuskannya bekerja, maka amanah untuk bercermin juga terpatri pada diri perempuan. Karena keluarga yang menanti di rumah, sungguh berkali lipat lebih berhak atas keakraban senyum dan keramahan muslimah.

Ya, sebegitu di akhir zamannya kita hidup sebagai manusia, sehingga bahkan, untuk bercermin pun, perlu diingatkan.

***

Widya shalihat, ketika menulis ini, aku teringat sebuah pertanyaan. Lama sekali, mungkin berbulan yang lalu, sahabat kita tercinta, Icha, pernah melontarkan sebuah topik untuk didiskusikan. Pertanyaan yang baik sekali, namun juga sulit sekali untuk dijawab. “Apakah hikmah di balik perbedaan sikap Rasulullah dan Abu Bakar menyoal khadim bagi putri-putrinya?” tanyanya.

Sebagaimana yang diceritakan sejarah, Abu Bakar memang memberikan khadim untuk membantu putrinya mengurus pekerjaan rumah tangga, sementara Rasulullah menawarkan pilihan yang lebih baik bagi Fatimah: berdzikir mengingat Rabb-Nya.

Widya, mungkinkah Islam memang selalu menyediakan dua kondisi pada hal-hal yang sifatnya muamalah? Seperti Asma’ binti Abu Bakar yang memiliki khadim dan Fatimah binti Rasulullah yang tidak punya. Seperti Khadijah yang santun lagi penuh berani untuk melamar Rasulullah, dan Fatimah yang malu-malu menyimpan perasaannya kepada Ali bin Abi Thalib.

Bahkan, di luar muamalah, dalam kondisi perang misalnya, ada yang memang harus pergi dan ada orang-orang yang harus tetap singgah.

Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Q.S. At Taubah: 122

Dua kondisi. Sehingga yang mempekerjakan khadim maupun yang tidak, yang seperti Khadijah maupun yang seperti Fatimah, yang pergi ke medan perang maupun yang menuntut ilmu, mungkin memang tak sepatutnya saling mempertentangkan.

“Apakah hikmah di balik perbedaan sikap Rasulullah dan Abu Bakar menyoal khadim bagi putri-putrinya?”

Widya shalihat, apakah Widya sudah menemukan serak-serak hikmah sebagaimana yang ditanyakan dalam pertanyaan tersebut?

Karena, bagiku pertanyaan itu masih beroleh tanda tanya.

Yang aku paham hanya, mereka adalah generasi terbaik umat yang membina pernikahan dengan tak semata karena hubungan emosional dan perasaan.

Yang aku paham hanya, baik Asma binti Abu Bakar maupun Fatimah binti Rasulullah, keduanya mampu mencetak generasi yang mewariskan perjuangan Rasulullah dan ayah-ibunya. Yang tidak cengeng dengan agenda-agenda dakwah orang tuanya.

Hasan atau Husain bin Ali. Abdullah atau Urwah bin Zubair.

Walaupun orang tua-orang tua mereka memiliki perbedaan dalam teknik-teknik meniti kehidupan, jalan utama yang mereka lewati tetap jalan menuju-Nya. Begitu tenang, begitu berkah. Keberkahan yang bahkan mampu kita rasakan hingga sekarang—setidaknya saat kita membaca berparagraf-paragraf kisah mereka radhiyallahu ‘anhum.

***

Widya shalihat, apakah Widya ingat suatu pagi saat langkah-langkah kita berderap melingkungi kampus tercinta? Waktu itu aku datang terlambat, sementara Widya telah menunggu di teras Pusat Mahasiswa. Aku memakai rok-cardigan-kerudung serba hitam, sementara Widya memakai pakaian terbaiknya—dan yang aku ingat memang Widya selalu mengaku-ngaku memakai pakaian terbaik ketika bertemu saudari-saudarinya :p

Duh Widya, betapa Widya banyak mengajari.

Waktu itu, kaki-kaki kita berjalan beriringan. Kita bertukar pikiran, berbicara mengutara-selatan, sampai akhirnya, ketika matahari sepenggalahan, kita jatuh lelah dan memutuskan membeli es susu kacang. Kita daratkan sandaran kita di masjid tercinta. Membiarkan segala pembicaraan dan curhat colongan mengalir lagi dengan sendirinya.

Tentang sebuah nasihat, agar gerak tak tergadai kecintaan dan kebencian orang. Tentang berpegang dan bertahan. Tentang dakwah yang kita cintai. Tentang siyasi. Tentang mengapa kita di sini. Tentang mengapa memilih jalan ini.

Kita, dua perempuan sok tahu ini, bercengkrama berpayungkan pohon Bintaro.

Widya yang baik, sungguh, kenangan itu hingga sekarang terasa meneduhkan.

“Pernikahan adalah perkara yang peka, kembali pada masing-masing pribadi dalam meraih keberkahannya,” Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Widya shalihat, Widya yang suka ‘menipu’ orang dengan membuka tulisannya memakai kalimat serupa, “Kuliah munakahat bersama Ustadz Masturi dulu…” (padahal isinya jauh dari hal-hal merah jambu), mohon maaf jika tulisan ini harus datang terlambat.

Tak hendak sekadar melunasi janji dan menulis asal-asalan, karena sungguh, membingungkan rasanya menulis pesan kepada orang yang sebenarnya lebih patut untuk memberikan nasihat.

Sudah bilangan pekan berlalu semenjak akad mengikat Widya dengan seorang lelaki.

Dan dalam proses tersebut, bahkan jauh sebelum proses tersebut, Widya sungguh telah mengajariku banyak. Bahwa sebagaimanapun butanya kita tentang apa yang akan menghadang di depan dan timur dan barat, sebagaimanapun khawatirnya kita dengan segala pertanyaan kita mengenai sosok yang akan menemani hidup sampai bertemu maut, sebagaimanapun ketidakberdayaan seakan mengempas kita tiap memikirkan berdepa-depa takdir yang akan menuntun dan menuntut, Widya mengingatkan bahwa Pencipta kita sungguh Maha Pemurah. Ia membekali manusia dengan senjata doa. Hanya kita yang kemudian tinggal memutuskan; apakah ingin memakainya atau tidak.

Widya, yang mendahulukan orang tua dalam menilai (waktu itu masih calon) suami Widya ketimbang mendahulukan preferensi Widya sendiri, menyadarkan bahwa Pencipta kita sungguh Maha Penyayang. Dibekali-Nya manusia dengan semesta akal sehingga tiap insan dapat memilih caranya sendiri, romantismenya sendiri, dalam perjalanan meraih keberkahan. Sehingga, seperti apa yang Ibunda Aisyah katakan, keberkahan pernikahan memang kembali lagi pada masing-masing pribadi.

Adalah kita, dengan akal dan segenap kesadaran kita, boleh memutuskan bagaimana cara kita menjemput keberkahan. Asalkan, seperti titik temu “dua kondisi” yang banyak mewarnai catatan-catatan sejarah keislaman, cara yang kita pilih tetap berkelindan pada satu simpulan: karena-Nya, untuk-Nya, bersama-Nya, sesuai aturan main-Nya, menuju-Nya. Allah.

Widya, barakallahu laki wa baraka’alaiki wa jama’a bainakuma fii khair. Semoga Allah limpahkan sakinah, mawadah, dan rahmah kepada keluarga Widya, hingga genap separuh lagi agama. Menjadi utuh hingga mampu menuju surga.

Widya, duhai shalihat yang sebenarnya lebih patut memberi nasihat, sengaja kukutip petuah dari Ustaz Salim tentang bercermin dan kelangsungan dakwah. Karena mengenal Widya adalah mengenal perempuan yang tidak menjadikan pernikahan sebagai sumber kegalauan. Karena mengenal Widya adalah mengenal orang yang mengawali tulisannya dengan “Kuliah munakahat dulu…” namun isinya memiliki substansi seberat: dakwah.

“Biar orang tertarik baca,” katamu dulu🙂

Karena mengenal Widya adalah mengenal perempuan yang benar-benar mencintai dakwah, mencintai Allah, Rabb kita, Sang Malikul Mulk Pemilik Segala Kerajaan. Ya, meski Widya mungkin hendak menyanggah kalimat ini dengan, “Cinta Widya masih compang-camping kok…”

Maka sekali lagi, kusampaikan nasihat Sang Ustaz: ingatlah untuk bercermin, Wid. Bercermin secara harfiah. Setelah berjibaku dengan berbagai tanggung jawabmu, perjuanganmu, dan segenap kelelahanmu. Agar cintamu terhadap dakwah, terhadap-Nya, tetap mengestafet melalui anak, cucu, dan generasi yang insya Allah akan lahir dari rahimmu.

Para penerus peradaban kita.

Karena, Widya shalihat, sebagaimana perkataan Hasan Al-Bashri, kita hanyalah kumpulan hari-hari yang tiap berlalu petang dan pagi, hilanglah sebagian diri.

Dan ya, akan terus begitu hingga nanti, hingga benar-benar hilang seluruh bagian diri.

***

Saudarimu yang berharap agar nasihat ini juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri,

Menyayangi Widya karena Allah,

Saputri

Tahniah Idul Adha

“Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?”

“Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” Tanya perempuan itu, Hajar, saat Nabi Ibrahim membawanya ke padang gersang yang sepi dengan kemendang udara yang panas membakar. Nabi Ibrahim hampir membisu di sepanjang perjalanan, hanya isyarat yang ia gesturkan: bahwa dirinya akan meninggalkan perempuan itu di sana, dengan sang bayi dan beberapa buah kurma.

“Benar,” akhirnya, Nabi Ibrahim menjawab dengan tegar. Sang Nabi berserah pasrah. Taat membuatnya kuat. Kalut tak membuatnya berhenti dan mundur teratur dari Sang Pemberi Amanat. Sang Nabi melawan sergapan rasa punya, menyelisihi rasa tak tega.

“Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami,” ungkap Hajar dengan ketawakalan yang sama.

Dan begitulah kisah mengalir sampai kita tahu di mana akhirnya. Tentang lari-lari kecil di antara dua bukit, tentang sumur zam-zam, tentang Bapak Ketauhidan sang kakek moyang Muhammad.

Kini, empat ribuan tahun kemudian, padang gersang tersebut telah bertransformasi menjadi tempat suci yang teramat ramai. Teramat hidup dengan hamba-hamba yang mengingat-Nya setiap detik. Baitullah, julukannya. Rumah Allah. Semoga tiap kita berkesempatan bermalam di bawah langit rumah-Nya.

***

“Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu,” ungkap Nabi Ismail ketika ayahnya berkata bahwa Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran surat Ash-Shaaffaat ayat 102, Ismail pun berkata kembali untuk menenangkan sang Ayah, “Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dan begitulah kisah mengalir sampai kita tahu di mana akhirnya. Tentang Ibrahim yang kemudian membaringkan sang anak atas pelipisnya, tentang penyerahdirian keduanya yang begitu nyata, tentang mukjizat Allah yang menjadikan segala ujian tersebut berakhir bahagia.

Kini, ketika memaknai rasa memiliki, mengartikan sesungguh sabar, segenggam ikhlas, sehakikat hamba, dari kisah merekalah umat banyak belajar.

***

“Ya, Allah! Sesungguhnya ini dari-Mu dan untuk-Mu, kurban dari Muhammad dan umatnya,” didahului asma-asma-Nya yang indah, Rasulullah berikrar yakin.

Riwayat lain memiliki redaksi, “Bismillahi Wallahu Akbar. Ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban,” kemudian, kambing kibasy itu pun menjadi hewan sembelihan. Takwanya terkirim kepada Sang Maha Penggenggam.

“Daging-daging dan darah Qurban itu sekali-kali bukanlah yang sampai pada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang akan mencapai-Nya.” Q.S. Al-Hajj ayat 37.

Dan begitulah kisah mengalir sampai kita tahu di mana akhirnya.

Kini, kita pun mengerti, betapa Kekasih Allah bernama Muhammad, amat memikirkan, menyayangi, dan selalu mengingat umatnya. Duhai umat, kita beroleh cinta yang tanpa cacat.

***

Maka sungguh, hari ini, dalam penanggalan hijriyah, adalah hari yang bertoreh sejarah dan bertebaran makna. Menggerimiskan langit, bumi, dan segenap hati manusia yang merenungi.

Maka katakanlah, “Sungguh, salatku, ibadahku (kurbanku), hidupku dan matiku untuk Allah, Rabb Semesta Alam Raya…”

Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H.

-Saputri

Ke Mana Rasa Kagum Memuarakan Kita

“Aku shalat, tetapi aku tidak tahu apalagi yang aku ingat darinya…

Aku shalat dhuha, delapan rakaat atau dua.”

–Qays bin Al Muluh

Saya tidak tahu, dan tidak cukup rajin untuk mencari tahu, apakah kisah Qays itu benar-benar ada dan mahsyur akibat penuturan dari mulut ke mulut selama ribuan tahun, atau hanya bermula dari karya sastra yang mendunia, sehingga orang-orang secara tak sadar menerimanya sebagai kisah nyata. Digubah dengan judul Laila dan Majnun oleh salah seorang penyair Persia abad kedua belas, Nizami Ganjavi, cerita tentang Qays memiliki akhir yang tragis seperti halnya dongeng-dongengan cinta Abelard dan Eloisa dari Perancis, atau Petrarch dan Laura dari Italia, atau Romeo dan Juliet dari Inggris.

Qays, pemuda gagah bermata jernih, lahir dari orang tua yang terpandang. Ia dihormati semua orang, diharapkan segenap perempuan. Sampai pada sebuah titik di hidupnya, Qays bertemu dengan seorang perempuan. Ia pun jatuh kagum kepadanya, kepada kecantikannya, kepada urai rambutnya yang hitam seperti malam–yang karenanya sang perempuan dinamai Laila.

Rasa kagum tersebut meluruhkan Qays, mensenyawakan tatapan-tatapan renjana yang kebetulan disambut oleh Laila. Ditatapinya juga Qays dengan tersipu, sorot mata perempuan yang jatuh cinta.

Namun, apa mau dikata, orang tua Laila tak tahan dengan gunjingan orang-orang tentang anak perempuannya. “Bisa-bisanya seorang gadis terhormat,” ujar para tetangga, “saling mengasihi dengan lelaki tanpa berbekal ikatan apa-apa.”

Bersama rasa malu, orang tuanya kemudian membawa Laila ke negeri jauh. Diam-diam menghindar pergi dari Qays dan semesta merah mudanya. Meninggalkan Qays dalam ketidaktahuan. Kesedihan. Kesengsaraan. Ketertolakan. Sehingga ia meratapi apa saja dan menghubungkan apa saja dengan Laila.

“Demi Allah wahai biawak padang pasir, katakanlah padaku.

Apakah Laila bagian dari kalian atau Laila seorang anak manusia?”

Dendangnya ketika melakukan thawaf di tanah haram.

“Ya Allah tabahkanlah kecintaanku yang mendalam pada Laila.

Aku mencintai Laila dan Laila mencintaiku.

Demikian pula ontanya menyukai ontaku.”

Ungkap Qays pada ayahnya.

“Demi Allah, cintaku pada Laila tulus, jiwaku selalu merindu, pikiranku selalu mengenang, dan lidahku tak pernah kelu menyebut namanya. Laila laksana minuman yang menyegarkan dan menghilangkan dahaga kalbuku. Cintaku pada Laila adalah cinta suci, tidak tercampur dengan nafsu walau sebutir debu. Meskipun orang-orang mencela kami, mengusir, dan menyia-nyiakan diriku.”

Kemudian, orang-orang pun menjuluki Qays sebagai Majnun Laila, orang yang gila pada Laila. Orang yang menjadi gila karena Laila. Dan nahas, sampai akhir hayatnya, mereka pun tidak pernah bersama.

***

Ke mana kekaguman Laila dan Majnun bermuara?

Nizami mengakhiri kisahnya dengan memperkenalkan kita pada seorang pemuda bernama Zayd. Zayd dikabarkan memimpikan Majnun dan Laila setelah kematian keduanya. Zayd menceritakan bahwa pada akhirnya, Qays dan Laila dapat bergandeng mesra di atas singgasana surga. “Permadani surga terhampar di dekat sungai kecil yang mengalir di bawah singgasana itu,” tulis Nizami, “dilengkapi dengan hidangan nikmat dan cahaya berkilauan,” tutupnya.

Akhir kisah tersebut begitu manis–siapa yang tak ingin kepahitan-kepahitan hidup kita di dunia berlabuh pada kebahagiaan abadi di surga? Walaupun sejatinya, akhir kisah tersebut kontradiktif dengan hikmah-hikmah yang Islam perkenalkan kepada kita.

Saya pun lebih memilih untuk kembali melihat dari mana tulisan ini berpijak. Bahwa saya tidak tahu apakah segala tentang Laila dan Majnun ini benar-benar ada, sekadar rekaan manusia, atau hibrida dari keduanya.

Pendapat Buya Hamka rasanya lebih rasional mengenai ini; bahwa Laila dan Majnun tak lebih hanya kisah dari tanah Arab, yang latarnya membentang dari Hijjaz menuju Gaza, yang jalan ceritanya menyertakan padang rumput, gurun pasir, dan suku-suku penggembala. Tak lebih.

Di sisi lain, Islam justru mengenalkan kita pada kisah tentang Pemuda-Qais dengan versi yang sama sekali berbeda. Muhajir Ummu Qais, orang yang berhijrah demi Ummu Qais, begitu orang-orang biasa menjuluki sang pemuda. Siapa nama sesungguhnya, tidak disebutkan dalam literatur yang saya baca.

Hadits mengenai Muhajir Ummu Qais terletak pada urutan pertama hadits arba’in. Seolah-olah ingin menyampaikan bahwa substansi hadits tersebut menjelaskan pondasi, pijakan, dan titik tolak utama dari segala apa yang kita kerjakan: niat.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa kagum sang pemuda kepada perempuan yang dijuluki Ummu Qais sebenarnya ditujukan untuk bersauh dalam bingkai pernikahan. Namun dalam menuju ke sana, perjalanan sang pemuda tersandung kerikil-kerikil keikhlasan. Sang pemuda merasa harus memakai tabir “hijrah”, menyembunyikan niatnya, sesuatu yang harusnya hanya untuk Allah dan Rasul-Nya.

Muhajir Ummu Qais “hanya” terpeleset dalam niat. Menjadikan perbuatannya tak sinkron dengan niatnya. Dan Rasulullah lantas menegurnya. Lalu, akan bagaimana nasib kekaguman yang tersandung dalam segenap niat, seluruh perbuatan, hingga sesemburat tujuannya? Sebagaimana pun indah retorika-retorika kekaguman yang membungkus perasaan Qays bin Al Muluh, seharusnya kita tahu, kisah Laila dan Majnun tak memuarakan kita dalam kesimpulan apa-apa.

***

Stephen R. Covey dalam buku sejuta umatnya, 7 Habbits of Highly Effective People, merumuskan sebuah kebiasaan yang dapat kita pakai dalam menyikapi sergapan rasa kagum: begin with the end in mind. Mulailah mensketsa-sketsa segala sesuatunya dari tujuan akhir. Mulailah mengambil keputusan untuk lanjut melangkah atau berhenti, dengan memvisualisasikan di mana pelabuhan yang kita tuju. Ke mana akhirnya. Muaranya.

Seandainya yang datang kepada Majnun di tubir kewarasannya adalah Covey, dan bukannya dua teman bodoh yang memberikan ide kepada Majnun agar menyamar menjadi perempuan sehingga bisa mengendap masuk ke kamar Laila (dan dituruti), akhir kisah Majnun mungkin bisa lebih manusiawi.

Seandainya Laila tak begitu saja membalas tatapan Majnun, dan lebih memilih berkata, “Sudahkah kamu bertanya-tanya, ke mana rasa kagummu kepadaku akan membawa kita dan dirimu sendiri? Sebagaimana aku selalu menanyakan ke mana rasa kagumku kepadamu akan membawa kita dan diriku sendiri?” Mungkin keduanya akan lebih bisa berpikir jernih tentang tujuan mereka. Termasuk apa yang harus diperjuangkan untuk mencapai tujuan tersebut. Dan mungkin Qays akan lebih mampu mengambil keputusan sejantan Ali.

Tetapi, ketika jawabannya adalah “tidak ke mana-mana”, maka mereka harus paham bahwa rasa kagum tersebut sudah tidak perlu dituruti.

Dan kepahaman mungkin akan membawa Laila merasionalkan segala keterpanaannya, menjinakkan semesta ketersipuannya. Mengingatkan diri sendiri bahwa Allah tahu apa yang paling tersembunyi, Allah mengawasi. Dan mungkin seraya membalas tatapan Qays dengan perkataan setegas, sejernih angkasa, “Rasa kagummu tak perlu diutarakan karena kita tidak berkapasitas untuk saling mengutarakan kekaguman.”

Ibnu Khaldun berkata bahwa sejarah bergerak dalam bentuk spiral, berulang. Dan kita, manusia di punggung bumi ini, mungkin saja terjatuh dalam sebuah pengulangan peristiwa yang semirip kisah Laila dan Majnun.

Maka, sebelum jatuh kepada kegilaan dan kompleksitas hingga lupa bilangan rakaat dalam shalat-shalat kita, kita harus sigap untuk melaksanakan petuah Covey: begin with the end in mind. Dan ketika kita tidak melihat muara apa pun, jika kita merasa bahwa kita tidak akan dibawa ke mana pun, maka kita harus segera menerjemahkan, bahwa kekaguman yang kita miliki, atau orang lain miliki, seluruhnya, tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Tidak akan mengantarkan kita ke mana-mana. Kecuali, mungkin, pada kemudharatan.

Maka berhenti. Jika semuanya adalah dimensi ketidakjelasan, maka berhenti.

Jangan masuk lebih jauh.

Agar hidup kita lebih efektif dan tidak akan sia-sia dengan kerepotan-kerepotan perasaan.

Berjalanlah lurus, sampai waktu yang tepat, hingga kita dapat memperjuangkan kekaguman kita…

…dalam kejelasan muara.

“Cinta itu adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.” 

Prof. Abdul Halim Abu Syuqqah.

Yunani: Tentang Kemampuan Manusia Untuk Tetap Singgah

“At this point, the future of Greece, is leaving…”

Saya ingat sekali pada momen ketika John Burch, salah seorang senior advisor dari lembaga pemerintahan Australia, menyatakan hal tersebut dalam sebuah diskusi informal tentang krisis ekonomi Yunani beberapa hari yang lalu. Saya seketika merasa, adalah benar, bahwasannya perang bukanlah satu-satunya hal yang membuat warga negara eksodus dari tanah airnya tercinta.

Krisis Yunani sesungguhnya merupakan permasalahan yang pelik, permasalahan fundamental yang telah memboroki negara itu sejak lama. Beberapa tulisan yang berseliweran di media sosial kita menyatakan bahwa Yunani adalah korban dari currency war. “Yunani mati karena perang mata uang,” sabda mereka. Namun, jika melihat lebih tajam ke dalam sejarah negeri kelahiran para filsuf itu, kita akan menemukan bahwa alasan krisis Yunani tidak sesederhana empat kata ini: tumbang karena mata uang.

Mari kita lihat dari tahun 1993, tahun di mana ternyata Yunani sudah memulai kebiasaan berutang dan bermain-main dengan anggaran. Utang negara tersebut harus dicicil pemerintah dengan bunga yang tinggi. Imbal hasil yang harus dibayar oleh pemerintah kepada kreditur melambung, mencerminkan risiko Yunani yang tinggi.

Keadaan sedikit berubah dengan rencana pembentukan Euro Area. Risiko Yunani perlahan-lahan menurun. Sampai kemudian, palu diketuk. Dan Drachma, mata uang Yunani sebelumnya, berganti dengan Euro sang mata uang bersama. Pada titik di mana Euro Area resmi dibangun, risiko ekonomi negara yang tergabung di dalamnya secara kompak menjadi rendah dan stabil. Obligasi-obligasi pemerintah dijual dengan tingkat pengembalian yang rendah. Euro Area menjadi sangat jemawa dengan adagiumnya, “Kita akan membeli segalanya,” yang menyiratkan bahwa otoritas Euro Area akan melakukan bail out, mengulurkan genggam pertolongan, pada siapa saja anggotanya yang mengalami krisis.

Orang-orang Eropa mencintai Eropa.

Namun, segala kejayaan itu kini mulai tampak bercela. Sebut saja Convergence Rules, syarat-syarat yang dulu pernah dibuat agar sebuah negara mendapat izin untuk bergabung ke Euro Area. Salah satu syaratnya tersebut jelas: utang berbanding GDP harus di bawah 60 persen.

Adakah Yunani sebenarnya memenuhi syarat tersebut? Kebenarannya buram. Kita terlalu sok tahu jika menyematkan gelar “Negara Kebohongan” pada negara dewa-dewi itu, pun terlalu naif jika berkata bahwa Yunani bergabung ke Euro Area karena statistik ekonomi mereka secemerlang itu.

Rekam jejak setelahnya, setelah berbelas tahun tahun jeda, tak lantas lebih baik. Para ekonom tersedak. Mungkin beberapa dari mereka sampai tak sengaja meludahi cangkir kopinya sendiri. Kaget. Heran. Sinisme. Yang jelas ada satu masa di mana tajuk utama kantor-kantor berita Eropa mengabarkan tentang pengakuan Yunani atas kebohongan statistik pada defisit anggarannya.

Tetapi sebelum lebih dalam ke situ, marilah kita melakukan kilas balik terhadap apa yang terjadi di tahun 2007-2008. Guncangan itu dikenal dengan sebutan Global Financial Crisis. Mulanya dari kredit perumahan, kemudian kejatuhan Lehman, pengusaha Yahudi yang kini jadi olok-olok di film Minion, dan kemudian menular secara sistemik ke negara-negara di dunia. Terutama negara mitra utama Amerika, yang mana banyak sekali.

Dan krisis tersebut dialami oleh tak terkecuali Eropa. Orang-orang Eropa kemudian sadar, bahwa slogan yang selama ini mereka bangga-banggakan, “Kami akan membeli semuanya,” telah jatuh dalam vonis kedaluarsa. Otoritas Euro Area tertampar. Realitanya, mereka tidak bisa menolong semua anggotanya yang sekarat.

Kisah berlanjut. Di titik itu, grafik risiko negara-negara Eropa mulai mencuat. Euro melemah. Pemerintah negara-negara anggota Euro juga harus membayar bunga utang yang lebih tinggi kepada kreditur. Orang-orang mulai menarik kepercayaannya dari Eropa.

Terutama kepercayaan mereka terhadap Yunani.

Walaupun begitu, beberapa negara di Eropa masih baik-baik saja karena kondisi fundamentalnya yang cukup mumpuni. Spanyol dan Perancis contohnya, dua negara yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Eropa seperti yang terlihat pada kuartal pertama 2015.

So this is now a Greek Crisis, not a Eurozone crisis…

***

Mari kembali ke Yunani, tepatnya saat opera sabun negara tersebut baru saja di mulai. Pada akhir tahun 2009, Perdana Menteri Yunani semasa itu, Papandreou, mengakui kalau statistik ekonomi mereka selama ini bersembunyi di balik dinding-dinding kebohongan. Bahwa defisit anggaran mereka tinggi, tak pernah di bawah tiga persen. Bahwa utang mereka meningkat. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Yang membuat orang-orang terkejut. Yang membuat kepercayaan kreditur semakin mengendur. Yang membuat lembaga-lembaga rating berbondong-bondong, secara cepat walaupun bertahap, menurunkan rating mereka. Dari peringkat yang di atas rata-rata, hingga kini berada pada level junk. Sampah.

Kemudian ekonom-ekonom mulai melontar pendapat. Bahwa selama ini, belanja pemerintah Yunani untuk hal-hal yang tak produktif amatlah tinggi. Uang pensiun mereka bahkan besarnya mencapai 18 persen dari GDP. Belum lagi gaji pemerintah dan entah tunjangan sosial apa lagi, yang seperti dihamburkan dari atas pesawat. Dan Yunani makin terpuruk ketika karat-karat statistik mereka lebih lanjut diungkap. Bahwa penganggurannya lebih dari 25 persen, dan yang menganggur itu adalah orang-orang di usia produktif. Pensiunan mereka terlalu muda, usia 50-60 tahun sudah bisa leha-leha di rumah sambil menikmati tunjangan pemerintah. Kemampuan mengumpulkan pajak rendah, sekitar 89 persen dana pajak masih ada di dompet-dompet masyarakat.

Yunani lagi-lagi menyambung napasnya dengan berutang. Namun seperti adiksi buruk yang tak ketulungan, utang-utang itu tersebut lagi-lagi digunakan untuk membiayai hal-hal yang tak produktif. Sampai akhirnya mereka bermain dengan IMF, lembaga yang menangani negara-negara sakit moneter. Keriuhan lantas muncul di awal Juli 2015: IMF membuat pernyataan resmi bahwa mereka belum menerima pembayaran utang Yunani yang telah jatuh tempo. Bahasa tak bersayapnya: Yunani gagal bayar. Default. (1)

Walaupun begitu, Alexis Tsipras, Perdana Menteri Yunani yang sekarang, masih berjuang melakukan lobi agar tempo pembayaran utang diperpanjang. Mencoba pada idealismenya untuk tak mau menerima syarat austerity sebagai persyaratan diutangi kembali oleh gembong Troika. Mencoba meyakinkan masyarakat bahwa Yunani bisa keluar dari krisis tersebut. Tetapi, segala kekacauan terlanjur menyumsum tulang.

Bank-bank telah ditutup. Antrean tetap mengular walaupun pengambilan uang di ATM dilimitasi. Bursa juga sempat ditutup. Bayangkan jika Yunani ditendang dari Euro Area dan mata uangnya kembali menjadi Drachma. Uang-uang para penabung itu akan terdepresiasi gila-gilaan. Gelombang kesengsaraan sudah di depan mata.

Ada sebuah statistik yang mungkin bisa membuat Yunani kembali menangis dan merenung linglung. Adalah persen perubahan populasi tahunan yang semakin minus sejak 2011 (tahun 2014 angkanya sekitar minus 75 persen). (2)

Karena tidak ada berita tentang wabah kematian besar-besaran di Yunani, maka kita bisa menyimpulkan bahwa berkurangnya populasi dalam statistik tersebut menggambarkan tingkat eksodus warga negaranya. Orang-orang pergi dari Yunani. Mereka tak mampu singgah.

Sebagai selingan, John bercerita kalau Australia, kampung halamannya, adalah salah satu wilayah yang menjadi tujuan eksodus mereka. Orang-orang Yunani sejak beberapa tahun lalu tampak mendominasi salah satu sudut wilayah Melbourne.

Data tentang eksodus itu, ketika digali, ternyata menggambarkan sesuatu yang lebih pelik lagi: komposisi penduduk yang tinggal di Yunani semakin memperjelas keadaan mereka yang membenang kusut. Yang singgah kebanyakan orang-orang muda yang menganggur. Atau orang-orang usia kerja yang bekerja seadanya. Atau orang-orang tua yang menikmati tunjangan pensiun. Sedangkan anak-anak muda terdidik yang memiliki keahlian, uang, dan semangat kerja, justru menjadi golongan yang mendominasi gelombang emigrasi itu. Mereka telah sejak lama lari dari negeri dewa-dewi itu. Membawa pergi kenangan sekaligus masa depan Yunani.

“At this point, the future of Greece, is leaving…”

Ada tiga pelajaran yang dapat saya tangkap dari Yunani.

Pertama, bahwa krisis Yunani lebih berakar pada masalah fiskal dan birokrasi ketimbang masalah moneter (atau konspirasi-konspirasi currency war).

Kedua, kebohongan “orang-orang langit” terkait kondisi perekonomian negaranya, hanya akan mengantar negara tersebut kepada posisi sebenarnya: sampah.

Dan terakhir, ada masa di mana rasionalisme akan mengalahkan nasionalisme.

Dan ketika masa itu tiba, orang-orang yang duduk di kursi otoritas tidak bisa lagi memakai senjata “nasionalisme” untuk membuat anak negeri nan berprestasi tetap bertahan di tanah kelahirannya. Toh perjuangan mempertahankan masa depan memang seharusnya sesulit itu, memang seharusnya tak hanya berbekal kata mutiara dari John F. Kennedy yang sangat terkenal itu, “Jangan tanyakan apa yang negara beri kepadamu…”

Ada sesuatu yang lebih yang harus dibuktikan.

Karena ada titik di mana kemampuan seseorang untuk tetap singgah, lebih didasari oleh pertimbangan-pertimbangan rasional ketimbang emosional seperti “cinta tanah air”.

Tiba-tiba, kalimat “Eropa adalah masa lalu,” yang dikatakan oleh Profesor dari Singapura seperti menjadi benar dalam segala pemaknaan–bukan hanya dalam konotasi arsitektur saja.

Yunani.

Mungkin kini, bagi anak-anak muda yang tak mampu singgah itu, cerita dewa-dewi Yunani yang sangat masyhur di lampau waktu secara tiba-tiba menjelma menjadi dongeng pahit dan entah bagaimana, terasa mengganggu.

***

(1) IMF dan geng, berkaitan dengan gagal bayarnya Yunani, sebelumnya telah menawarkan bantuan utang lagi dengan syarat agar Yunani melakukan pengetatan pada pos-pos belanja yang tidak produktif, yang mana syarat tersebut dikenal dengan istilah austerity. Namun pemerintah Yunani menolak tawaran tersebut. Karena tanpa disuruh pun, sebenarnya Yunani sudah banyak melakukan pengetatan ikat pinggang. Mereka memilih mengajukan proposal penundaan pembayaran ke IMF dan melaksanakan referendum 6 Juli mendatang. Referendum itu, tak seperti yang tersebar di Indonesia secara berlebihan dan tak bertanggung jawab, bukan memilih antara tetap merdeka atau menjadi negara jajahan. Tetapi memilih apakah masyarakat mau menerima syarat austerity atau tidak.

(2) Annual population % change, Eurostat.

Nabi Yusuf dan Kisah-Kisah Isra’iliyyat

“… sebagaimana Engkau persatukan Yusuf dan Zulaikha …”

Suatu hari, broadcast tentang pernikahan tersebar. Salah satu potongan pesannya berisi doa, “…persatukan kami sebagaimana Engkau persatukan Yusuf dan Zulaikha…” Kening berkerut. Sejak dahulu, cerita Nabi Yusuf yang saya ketahui hanya sebatas apa yang ada di Al-Qur’an saja. Sementara itu, Al-Qur’an sendiri tidak memuat periwayatan tentang pernikahan Nabi Yusuf dan Zulaikha. Bahkan, seperti yang disampaikan Ustaz Salim A. Fillah, Al-Qur’an hanya menyebut Zulaikha dengan sebutan “Imra-atul ‘Aziz” atau Istri Al-Aziz.

“Karena,” jelas Ustaz Salim, “perempuan ini masih memiliki rasa malu. Apa buktinya? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur’an.”

Namun titik lain yang perlu dicermati, Al-Qur’an memang tidak pernah menyebut sang perempuan dengan “Imra-atul Yusuf”. Bahkan, nama Zulaikha sebenarnya sudah dihapus dari terjemah-terjemah terbitan Depag. Diganti dengan frasa “Istri Al ‘Aziz”. Salah satu footnote di Al-Quran saya lebih lanjut menerangkan, “Dalam sebagian kitab tafsir disebutkan nama istrinya (maksudnya nama istri Al ‘Aziz yang membeli Nabi Yusuf sebagai budak adalah) Ra’il, dan ada juga yang menyebut Zulaikha atau Zalikha. Namun riwayat yang menyebutkan nama-nama tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan.”

Melihat keterangan-keterangan tersebut, doa, “Sebagaimana Engkau mempersatukan Yusuf dan Zulaikha…” ini memang pada akhirnya agak mengganggu. Maksudnya bagaimana?

Dalam perjalanan, saya mengerti bahwa ternyata cerita tentang pernikahan Nabi Yusuf dan Zulaikha ini memang sudah sangat viral. Penyebaran cerita tentang pernikahan Nabi Yusuf dan Zulaikha sendiri, sebenarnya tak begitu masalah, karena kisahnya pun disandarkan pada kitab-kitab dari ulama yang muktabar. Yang saya cek baru di Tafsir Ibnu Katsir. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa di tafsir Ath-Thabari juga ada kisah serupa.

Sebenarnya memang, yang mengganggu adalah jika kisah tersebut jadi sandaran untuk doa. Mengingat bahwa perjalanan hubungan Nabi Yusuf dan istri Al-‘Aziz kurang pas jika disejajarkan dengan hubungan Rasulullah-Khadijah atau ‘Ali dan Fatimah. Dan dibanding itu semua, yang sangat-sangat mengganggu adalah tulisan (maupun penyampaian dalam bentuk lain) yang mencoba menyampaikan ibrah dari Q.S. Yusuf ayat 24 dengan tafsir yang kurang tepat.

QS. Yusuf Ayat 24

Dalam Al-Qur’an yang tidak ada bantuan tajwidnya (seperti bantuan waqaf صلى dan waqaf ج yang ada di atas), orang-orang bisa saja membaca ayat tersebut dengan “وَلَقَدْهَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا” alias berhenti di tengah-tengah sehingga terjemahannya menjadi “Dan sungguh perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf) dan ia (Yusuf) pun berkehendak kepadanya (istri Al-‘Aziz)”.

Dari riset pencarian di internet, saya juga menemukan banyak artikel yang seakan membenarkan penafsiran yang demikian. Kemudian mengambil kesimpulan sendiri, bahwa ayat tersebut sedang mengisahkan sekelumit hasrat Nabi Yusuf. Bahwa jauh di lubuk hatinya, sesungguhnya Nabi Yusuf memang mencintai Zulaikha, memiliki kehendak kepadanya, dan sempat berhasrat pula kepadanya, sampai kemudian datang tanda dari Allah sehingga Nabi Yusuf bisa menolak godaan dari istri Al-‘Aziz (contohnya pada kisah yang ada di laman ini dan ini). Dalam beberapa pengajian tematik yang saya datangi, penyampaiannya juga terkadang seperti itu.

Dan penafsiran yang kurang tepat itu kemudian dipaksa tepat. Caranya adalah dengan menjalin penafsiran tentang hasrat Nabi Yusuf itu, dengan potongan kisah-kisah romantis yang pernah disampaikan para ulama. Di antaranya dengan mencantumkan dialog ini setelah pernikahan mereka:

“Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu, wahai Ra’il?” tanya Yusuf kepada pengantinnya. “Wahai orang yang tepercaya,” jawab Ra’il pada Yusuf, “Janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu. Ketika kita bertemu dulu, jujur dan akuilah, bahwa di matamu aku pun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan, dan segalanya aku punya. Namun, ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan mana pun, termasuk aku. Lantas aku pun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu, wahai Nabi Yusuf.” 1)

***

Kalau bahasa Inggris mengenal beberapa bentuk conditional if, maka, jika mau disederhanakan, bahasa Arab juga mengenal tiga jenis pengandaian.

Pengandaian bentuk pertama diawali dengan kata “إِذَا”. Pengandaian jenis ini banyak terdapat pada ayat-ayat awal dalam juz-juz akhir Al-Quran. Kalimat yang diawali dengan kata “إِذَا” secara makna merupakan kalimat pengandaian yang mengandung kepastian. Pasti terjadi. Seratus persen. Di dalam Al-Qur’an, Allah menggunakan “إِذَا” untuk menegaskan janji, menegaskan sesuatu yang pasti akan menghampiri.

Mengetahui itu, maka kita harusnya bisa lebih jauh meresapi, sesungguhnya kata “إِذَا” yang ada pada ayat, misal,   اِذَا وَقَعَتِ الْوَا قِعَةُ  di surat Al-Waqi’ah, memang kurang menemukan padanan yang serasa. Terjemahnya sekadar: apabila terjadi hari kiamat. Padahal ada makna lebih yang tersembunyi di balik kesederhanaan kekata “apabila”: bahwasannya Allah sedang mengabarkan sebuah kehakikian yang niscaya. Singkatnya, walaupun digambarkan dengan berandai-andai, kiamat itu pasti terjadi.

Bentuk kedua yakni pengandaian yang diawali dengan kata “إِنْ”. Pengandaian ini lebih dekat dengan struktur dan makna kata “apabila” dalam bahasa Indonesia. Kebenaran yang dikandung dalam pengandaian diawali “إِنْ” adalah kebenaran yang 50:50. Bisa iya, bisa tidak. Di Al-Quran, Allah biasa memakai kata “إِنْ” dalam menggambarkan kondisi manusia yang memang ditakdirkan untuk memiliki kehendak–entah itu kehendak untuk ingkar atau untuk taat.

Oleh karenanya, setelah mengetahui ini, kita mulai bisa menilik arti tersembunyi dalam ayat yang terkenal di kalangan aktivis dakwah; QS Muhammad ayat 7. Dan kita bisa lebih paham, bahwa potongan ayat اِنْ تَنْصُرُوااللهَ يَنْصُرْ كُمْ yang sebagiannya (اِنْ تَنْصُرُوااللهَ) memiliki arti “Apabila kamu menolong agama Allah…” memang disengajakan untuk memiliki bentuk seperti itu. Tidak memakai “إِذَا” atau bentuk-bentuk pengandaian yang lain. Untuk menegaskan bahwasannya, adalah sunatullah, adalah ketetapan Allah, kalau sebagian dari manusia akan menolong agama Allah sementara sebagiannya lagi justru akan berlaku sebaliknya. Contoh lain yang lebih mudah dipahami adalah kata “إِنْ” dalam kalimat “Insya Allah” yang memiliki arti “Apabila Allah berkehendak” dan memiliki makna “Bisa saja Allah berkehendak, bisa pula tidak”.

Dan terakhir, adalah pengandaian yang diawali dengan kata “… لَوْلا…” atau  “لَوْ…ل”. Kalimat yang diandaikan dengan bentuk seperti itu, maknanya mengandung kemustahilan. Kondisinya tidak pernah ada. Tidak mungkin ada. Dan tidak mungkin terjadi. Seperti dalam potongan ayat berikut, فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآاَخَّرْتَنِيْ اِلى اَجَلٍ قَرِيْبٍ , yang terdapat dalam surat Al-Munafiqun ayat 10 dan memiliki arti “Ya Tuhanku, apabila Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi…” 2)

Kita jadi tahu. Kita sungguh menjadi tahu.

Bahwa pengandaian tersebut sia-sia. Permohonan tersebut juga percuma. Allah tak akan menunda kematian manusia, sekali pun kita berjanji untuk bersedekah lebih banyak atau berlari lebih kencang untuk mensejajari langkah golongan orang-orang shalih jika diberi kesempatan kedua.

Allah mustahil menunda kematian kita dan mengembalikan kita lagi ke dunia karena permohonan dan janji-janji manis manusia. Bukan karena Ia tak kuasa, melainkan karena Ia Maha Adil dalam melaksanakan segala aturan main-Nya.

Karena Allah memang telah berkali-kali memperingatkan kita, bahwa “amal” hanya punya tempat di dunia. Dan dunia ini hanya akan kita singgahi satu putaran saja.

***

Setelah kita tahu sekelumit tentang kalimat-kalimat pengandaian dalam bahasa Arab, semoga kita bisa memaknai Q.S. Yusuf: 24 dengan pemaknaan yang lebih sesuai. Kita bisa cocokkan bahwa berdasarkan penjelasan di atas, Q.S. Yusuf: 24 memiliki bentuk yang ketiga. Ada kata “… لَوْلا…” di sana.

Dalam ayat tersebut, tanda “koma” (alias waqaf صلى dan waqaf ج) bisa kita lihat mengapit potongan ayat yang artinya, “… dan ia (Yusuf) pun berkehendak kepadanya (Istri Al-‘Aziz) apabila ia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.”

Jadi, bersandar pada bentuk pengandaian yang ketiga, apakah Nabi Yusuf melihat tanda dari Allah? Ya. Mustahil Nabi Yusuf tidak melihat tanda dari Allah. Maka logika semantik yang tercipta selanjutnya adalah: pada kejadian tersebut, hasrat buruk, lintasan hati yang buruk, kecenderungan zina, atau apa pun sebutannya, juga tidak pernah ada pada diri Nabi Yusuf. Mustahil ada. Tidak mungkin ada.

Allah hanya sedang mengandai-andaikan dalam kalimat-Nya yang tinggi, bahwa godaan itu memang sedemikian besarnya. Tetapi, dari bentuk kalimatnya, kita bisa tahu bahwa Allah tidak sedang menceritakan bahwa Nabi Yusuf sempat memiliki hasrat buruk. Akan menjadi blunder besar ketika Islam mengenalkan kita pada konsep kemaksuman Nabi, kemudian Allah mengisahkan Nabi-Nya yang sempat memiliki lintasan pikiran buruk–untuk berzina, misalnya.

Tetapi apakah Nabi Yusuf dan Zulaikha nantinya akan benar-benar menikah? Tunggu dulu. Bahasan-bahasan semantik rasanya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

***

“Kisah Isra’iliyyat” sering kali menjadi nama pendek untuk menyebut kelompok riwayat-riwayat yang berasal dari kitab suci Bani Isra’il atau bangsa Yahudi. Beberapa lagi berpendapat bahwa kisah-kisah isra’iliyyat adalah segala cerita yang dibawa oleh ahli kitab.

Terkait itu, ada tiga sikap yang harus kita pegang jika berinteraksi dengan kisah-kisah isra’iliyyat. Pertama membenarkan jika itu sesuai dengan syariat, kedua menolak jika itu bertentangan, dan terakhir, diam jika kisah tersebut sekiranya tidak dapat ditemukan penjelasannya dalam Al-Qur’an atau hadits, tetapi masih bisa memiliki potensi benar dan salah. Seperti kisah Nabi Yusuf ini.

Rasulullah sendiri sebenarnya telah memberi petunjuk yang jelas terkait sikap kita terhadap kisah-kisah tersebut, “Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya, tetapi katakanlah; kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang telah diturunkan kepada kami.” (HR Bukhari).

 

Dan saya selalu setuju terhadap pesan seorang ustazah tentang kehati-hatian dalam beragama. Hal itu kemudian menular menjadi kehati-hatian dalam berdoa. Apalagi soal jodoh–terutama soal jodoh. Berharap ada kebaikan lebih yang dibawa oleh kehati-hatian kita dalam menyandarkan pemisalan di tiap kelindan pinta.

Wallahu ‘alam bish shawab.

——-

1) Adegan tersebut dicatat oleh Ath Thabari dalam Tarikh dan Jami’ul Bayan-nya. Sedangkan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juga mencatat hal serupa, yakni sebagai berikut:

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa menurut kisah yang sampai kepadanya–hanya Allah yang lebih mengetahui–Qitfir meninggal dunia di hari-hari itu. Lalu Raja Ar-Rayyan ibnul Walid mengawinkan Yusuf dengan bekas istri Qitfir, yaitu Ra’il. Ketika Ra’il masuk ke kamar Yusuf, maka Yusuf berkata kepadanya, “Bukankah ini lebih baik daripada apa yang engkau inginkan dahulu?” Menurut mereka, Ra’il berkata kepada Yusuf, “Hai orang yang dipercaya, janganlah engkau mencelaku, sesungguhnya apa yang engkau lihat sendiri adalah seorang wanita yang cantik jelita lagi bergelimang di dalam kemewahan kerajaan dan duniawi, sedangkan bekas suamiku dahulu tidak dapat menggauli wanita. Dan keadanmu seperti apa yang dijadikan oleh Allah dalam keadaan demikian rupawan dan tampan (sehingga membuatku tergoda karenanya).”

Namun keduanya, baik Ath-Thabari dan Ibnu Katsir, tidak berkomentar atas keisra’iliyyatan kisah tersebut. Selain itu, dalam Tarikh, Ath-Thabari sebenarnya telah berpesan, “Jika ternyata dalam kitabku ini terdapat suatu riwayat yang tidak enak didengar karena tidak jelas kevalidan dan hakikatnya, maka (itu berarti) penjelasan tentang itu belum pernah aku dapatkan dari orang-orang sebelumku. Itulah sebabnya, aku hanya menulis apa saja yang sampai ke tanganku.”

2) Maksudnya adalah meminta dikembalikan ke dunia.

Nasihat Nyalang dan Alasan-Alasan

Adalah Charlemagne, atau yang sering diterjemahkan sebagai Karel Yang Agung, seorang penguasa Eropa di penghujung abad kedelapan yang pernah berinteraksi dengan sosok khalifah kelima Daulah Abbasiyyah–Harun Ar-Rasyid. Suatu ketika, Harun Ar-Rasyid menghadiahinya jam yang tiap enam puluh menit berdentang. Dan mereka, orang-orang Eropa itu, dengan tunik megah, atau mahkota yang mewah, atau pedang yang gagah, bergidik ketakutan karena menyangka di jam tangan tadi, ada jin yang menginfiltrasi.

Philip Hitti dalam History of The Arab menyampaikan kepada kita bahwa waktu itu, jarak peradaban kaum muslim di bawah pimpinan Harun Ar-Rasyid memang jauh melampaui peradaban orang-orang di bawah penguasaan Charlemagne. Tak heran, jika jam buatan kaum muslimin saat itu dianggap ada jinnya.

Mungkin, orang-orang seperti Hobsbawn akan mengelompokkan kita–saya–yang membawa-bawa kejayaan masa lalu di dalam prolog cerita, sebagai ekstrem kanan yang sebentar lagi menjadi antisemit, xenofobik, dan segala macam reka-reka aliran yang bahkan tak saya ketahui coraknya. Namun kerinduan akan masyarakat madani–yang maju dan beradab–atau pemimpin yang berprinsip sayyidul qaum khadimuhum (pemimpin sebuah bangsa adalah pelayan bangsa itu), membuat saya tidak bisa untuk tidak bercermin dari masa lalu.

“Dulu, kita beranggapan bahwa ummat ini,

sudah berada di dasar sebuah jurang yang sangat dalam;

tiada lagi kerusakan lebih hebat yang akan menimpanya.

Tetapi justru dasar yang dalam ini membuka mulutnya;

menjerumuskannya ke dalam terowongan yang tak berujung.”

–Safar Al Hawali dalam Wa’du Kissinger, dikutip dari Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah

Dulu, ketika ketauhidan mulai terkikis dan berhala-berhala mulai diimpor dari Syam ke Mekkah, orang-orang di zamannya mungkin mengira bahwa itulah keterjungkalan umat yang paling dahsyat. Atau ketika Al-Quran disebut sebagai makhluk. Atau ketika Dinasti Islam bubar dan karut marut. Atau ketika… dan ketika… bahkan ketika…

Ya, banyak sekali cerita yang sebenarnya telah digores oleh tinta para sejarawan dan ulama.

Tetapi, rasa-rasanya, benar sekali perkataan Safar Al Hawali. Bahwa keterpurukan itu seakan tak berhenti. Kini, dasar yang dalam tersebut justru terus membuka mulutnya. Membuat zaman seakan tak henti memperosokkan diri.

Lagi.

Dan lagi.

Maka, ada yang harus diluruskan ketika seorang muslim memperjuangkan pernikahan beda agama. Ada yang harus mengganjal di hati ketika orang-orang berkata bahwa Allah tidak butuh shalat kita–dalam pengertian-pengertian yang paling jahil. Ada yang harus direnungi ketika calon intelektual Islam malah mengambil perspektif tentang Tuhan yang membusuk.

Ada yang harus diingatkan ketika seorang muslim termakan berita bohong-berita bohong yang beredar merantai tanpa kejelasan sanad. Dan ada yang harus dinasihati ketika orang-orang muslim berbondong mengklaim keilmuan seseorang hanya berdasarkan pengakuan-pengakuan di internet–tanpa metodologi, atau bukti, atau alasan-alasan yang saintifik dan valid.

Islam is not championed by the denial of the sciences.” Imam Al-Ghazali

Maka, ada yang harus dievaluasi ketika umat muslim berbondong-bondong tertipu oleh orang-orang yang menggelari dirinya ustaz. Tertipu dengan paku di dalam telur atau listrik di permukaan sandal. Menjadikan sejarah seakan terbalik setelah seribuan tahun perjalanan waktu; terhitung sejak Charlemagne bergidik atas jin di jam pemberian Harun Ar-Rasyid.

Allahu Rabbi, bimbinglah kami dengan hati-hati. Kuatkan kaki kami untuk menapaki tarbiyah yang sangat panjang, karena inilah satu-satunya jalan yang tercepat. Sabarkan jiwa kami dalam melewati waktu yang sangat lama, karena hanya inilah cara yang paling menjamin. Lapangkanlah dada kami jika harus menempuh pengorbanan-pengorbanan yang menyakitkan, karena dengan inilah ashalah tetap terjaga.

***

Ada sebuah poin yang membuat saya berlama-lama merenung ketika berbicara mengenai sikap para sahabat dan para tabiin di waktu yang terdahulu: bahwa terkadang, tiap-tiap mereka memiliki titik lembut dan titik keras yang berbeda dalam menyikapi persoalan-persoalan umat.

Abu Bakar dan Umar Ibn Khaththab, misalnya. Salah satunya adalah ketika Abu Bakar, khalifah dengan bashirah yang sangat jernih itu, membuat keputusan bersejarah dengan mendeklarasikan perang terhadap kaum yang menolak membayar zakat.

“Demi Allah,” ujarnya, “Aku akan memerangi kaum yang telah memisahkan kewajiban shalat dengan kewajiban zakat! Aku akan memerangi mereka, jika mereka menolak untuk menyerahkan padaku kekang unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah!”

Dan Umar Ibn Khaththab, yang biasanya garang, malah bersikap redup dan lembut dengan berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, mereka tetaplah bagian dari kaum muslimin…”

Padahal, dalam kejadian yang lampau, ketika Rasulullah masih berada di antara mereka, Abu Bakar dan Umar Al Faruq memiliki sikap yang sangat terbalik dengan penyikapan mereka tentang zakat. Mungkin kita sudah sangat akrab ketika bicara tentang pendapat mereka atas tawanan Badar yang sangat menimur-barat.

Bahwa Abu Bakar mencondongkan pendapat pada upaya-upaya damai dengan mengambil tebusan, seraya mengatakan, “Yaa Rasulullah, mereka adalah kaum dan keluargamu. Biarkanlah mereka hidup dan berilah kesempatan untuk bertaubat, semoga Allah menerima taubat mereka.”

Sementara Umar Ibn Khaththab, justru berkata seperti matahari yang panas memanggang, “Yaa Rasulullah, mereka telah mendustakan dan mengusirmu, maka seretlah ke depan dan pancung lehernya!”

***

Muhammad ‘Abduh, seorang pemikir Mesir, seakan menampar saya berkali-kali dengan ungkapannya yang terkenal, “Al Islaamu,” ungkapnya, “mahjuubun bil muslimiin.” Bahwa keagungan Islam itu kini terhijab oleh kekerdilan pemeluknya.

Seakan membenarkan, entah kenapa saya seringkali kita menemukan kalimat-kalimat semisal, “Islam adalah agama yang sempurna, tetapi saya tidak sempurna. Kalau saya membuat kesalahan, salahkan diri saya, jangan agama saya.”

Sayangnya, tak banyak orang yang sempat membedakan dua hal tersebut. Seperti ketika saya membaca Faith Without Fear-nya Irshad Mandji (dan tak selesai), saya langsung berpikir bahwa apa yang ditulisnya adalah kilasan perjalanannya yang pahit dalam konteks kehidupan beragama. Ia menerjemahkan Islam berdasarkan apa yang dirasainya, bukan apa yang seharusnya. Dan begitulah orang lain seringkali melukiskan Islam; di mana muslim menjadi agen representatifnya.

Maka, meski berbekal kekurangan, meski tertawan aib yang Allah tutupi, meski ilmu yang masih seujung kuku, meski usaha untuk belajar selalu tertatih, menjadi dai sebelum segala sesuatunya adalah kebutuhan yang tak terelakkan. Menjadi orang yang menyingkirkan ranting atau menjadi pemimpin yang berbuat adil. Dakwah pada akhirnya adalah bangunan yang harus kita genapi bersama.

Dan karena manusia akhir zaman tidak mungkin sempurna, harus ada orang-orang yang keras pada titik berbeda. Supaya kelak dakwah itu berkumpul dan menyeluruh. Supaya kelak kita bersatu dan menjadi utuh.

***

Entah ini pembenaran, ataukah ini layak jadi alasan, belakangan saya merasa sangat galak terkait peredaran informasi di kubu teman-teman muslim. Nasihat tersebut seringnya saya lontarkan dengan sangat keras, tanpa ungkapan aling-aling semacam, “Afwan akh, sebaiknya…”

Tanpa terlebih dahulu melembutkan kekata semisal, “Afwan ukh, menurutku…”

Saya tidak tahu, apakah yang saya lakukan bisa menjadi rerimbun pembelajaran, atau hanya menjelma jadi ploncoan kata yang tanpa hikmah dan menyakitkan. Namun yang saya tuju adalah kehati-hatian para penggenggam ukhuwah, atas apa yang dipercayai dan tidak dipercayai. Dan yang saya tuju adalah ketelitian saudara-saudara seakidah, atas informasi-informasi yang semakin ke sini semakin rumit jalinan muasalnya.

Karena saya seringnya mendapati, kelemahlembutan hanya membuat keteledoran terulang lagi. Lihat saja pesan berantai tentang mayat-mayat muslim Rohingya, atau Suriah, atau Mesir, yang beredar dengan sangat masif dan lama. Inti kabar tersebut benar, hanya saja bumbu-bumbunya banyak yang keliru.

Bagaimana bisa membuat masyarakat–atau setidaknya orang-orang sekitar–mampu membedakan dukun dengan sebenar ustaz, kalau diri sendiri masih termakan hoax?

Karena informasi bisa memiliki efek yang sedemikian dahsyat. Ia bisa menguatkan atau melemahkan. Ia bisa membentuk atau menghancurkan. Ia bisa menyatukan atau mencerai-beraikan. Ia bisa mencerdaskan atau membuat umat makin terbelakang.

Tidak belajarkah kita tentang kabar terbunuhnya Rasulullah di tengah-tengah perang Uhud? Tidak belajarkah kita tentang Haditsul Ifk? Tidak belajarkah kita mengenai orang-orang fasik yang membawa berita–yang menyebabkan turunnya Al-Hujurat ayat enam?

Allah, bimbinglah kami. Bimbinglah diri ini.

Maka, maafkan, jika saya banyak khilaf dalam menasihati. Lancang dalam memberitahu. Cacat sebagai saudara. Terkesan tinggi hati lagi menggurui. Sungguh, rasa cinta kepada Dien ini dan pribadi-pribadi penggenggam ukhuwah, membuat saya ingin dari generasi kitalah lahir pejuang-pejuang terbaik Islam. Agar dari generasi kitalah, sejarah memulai titik baliknya. Yang mengajarkan anak-anak untuk menghargai pejuang Islam, dengan tidak menyebarkan kabar bohong tentang mereka. Yang mengetahui, bahwa kebohongan kecil atau berita tak valid yang terus menerus, akan terakumulasi dan merusak kredibilitas para penggenggam bara.

Mungkin mula-mulanya dengan membenahi jalur informasi, sementara berharap yang lainnya terus mengingatkan tentang tilawah, atau tentang hafalan Al-Quran, atau perbaikan hati, atau tentang kodrat sebagai Ibu dan Abi, atau tentang lainnya lagi, sehingga kita terus merengkuh semua aspek supaya kelak, apa yang tertulis dalam buku Dari Gerakan ke Negara dapat menjadi nyata.

Bahwa akan ada masa di mana umat manusia kesulitan membedakan; mana pesona kepribadian muslim dan mana pesona kebenaran Islam.

Palestina dan Kemerdekaannya

“Kemerdekaan Palestina? Sama saja mengiyakan didirikan khilafah mulai negeri ini. Oh tidak, Alqaeda tersenyum bebas di Indonesia. Palestina merdeka berarti kiamat dong. Hiii!”

—seseorang yang tidak perlu disebutkan namanya.

Ramadhan sudah menapaki hari kesembilan ketika saya menulis ini. Subuh masih beberapa menit lagi. Lantunan shalawat dan zikir terdengar samar dari surau-surau di sekeliling rumah. Sekilas, lantunan tersebut ditingkahi nyanyian anak-anak yang sedang bermain ular naga—dengan lagu versi Kecamatan Lakudo, Sulawesi—yang sedang bergaung rendah dari televisi.

Anak-anak kecil tersebut terlihat sangat tanpa beban. Kepolosan dan mata cerdas yang sangat mampu menciptakan napas harapan dalam diri saya. Harapan untuk negeri ini. Dalam hati, sebuah doa tersimpul, semoga kelak mereka tak jadi generasi yang hanya bisa duduk di belakang layar LCD sambil mencaci orang yang bahkan mereka tidak pernah temui atau ide yang bahkan tidak pernah mereka selami.

Baru saja seorang teman mengirim tulisan Ustaz Salim A. Fillah yang membuat saya seketika luruh. Tulisan tersebut tentang puasa kita yang mungkin sudah terasa melemahkan, tarawih yang sudah terasa melelahkan, atau tilawah yang sudah terasa memayahkan, yang bersanding dengan ketakwaan orang-orang garis depan keimanan. Orang-orang yang berada di Palestina, Suriah, Arakan, dan sebagainya, tetapi mengambil porsi ibadah dan perjuangan yang lebih gigan.

“… dan kita sedang memperebutkan surga yang sama dengan mereka…” ucap seorang ustazah suatu hari.

Azan subuh 9 Ramadhan 1435 H sudah berpuluh menit pergi ketika saya melanjutkan tulisan ke paragraf ini. Dan membaca kembali kutipan pertama membawa diri ini berkali-kali istighfar dan tafakur. Bahwa masih ada, di kalangan masyarakat Indonesia, di kalangan menengah dan terdidik, di kalangan muslim, yang pendapatnya tentang Palestina sesederhana itu.

Saya kebetulan berada di lingkaran kedua percakapan—yakni dengan hanya mendapatkan salin-tempel percakapan itu dari sahabat saya—percakapan yang sesungguhnya sedang berlangsung di grup chat yang sahabat saya ikuti. Atas dasar itu, saya dan sahabat kemudian berdiskusi tentang salah atau tidaknya memberikan dukungan agar Palestina merdeka.

Salah atau tidak kita ini jika melakukan perbuatan yang semakin mendekatkan dunia pada kehancuran dan kiamat besar?

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian (muslimin) memerangi Yahudi, kemudian batu berkata di belakang Yahudi, ‘Wahai Muslim, inilah Yahudi di belakangku, bunuhlah!’” (HR Bukhari dan Muslim)

Beberapa hari lalu, dari akun-akun Twitter jurnalis muslim, info tentang penyerangan Gaza tersebar. Tiga orang “remaja” Israel hilang. Israel sendiri, dalam akun resminya @IsraeliPM langsung menuduh bahwa Hamas berada di belakang hilangnya para ‘remaja’ itu.

They were abducted and murdered in cold blood by human animals.” Ungkap akun tersebut, “Hamas is responsible and Hamas will pay,” lanjut mereka.

Saya heran, ternyata di dunia ini masih ada kebencian dan drama playing victims yang diorganisasi dengan sedemikian rapi oleh negara.

Sebuah negara, menuduh sekelompok orang—yang bahkan dari segi persenjataan lebih lemah dari mereka—sebagai human animals. Berapakah kira-kira luas penampang kaca yang dibutuhkan Israel agar mereka mampu bercermin dengan komprehensif tentang kelakuannya selama ini?

Hamas menegaskan bahwa bukan mereka yang menculik tiga bocah Israel. Dan ketika Hamas berkata bukan, saya percaya bahwa artinya adalah bukan.

Yang jelas, Israel butuh membunuh sembilan orang anak Palestina untuk menemukan tiga ‘remaja’ mereka yang hilang.

Beberapa jam setelah saya mendengar berita itu, sebuah kabar terdengar nyalang, “Palestine is under attack now, just in case media didn’t tell you.”

Dan keributan Indonesia akan tagar-tagar trending topic, artis-artis, baju ihram, beda negative campaign dan black campaign, serta segala urusan-urusan sialan mengenai pesta demokrasi ini tiba-tiba terlihat sangat batil. Terkesan sangat kerdil.

***

Tentang dukungan manusia terhadap Palestina merdeka, boleh jadi tidak melulu perlu berbicara tentang agama. Bisa jadi pondasinya merupakan susunan bata-bata kemanusiaan, seperti alasan yang melatarbelakangi dukungan Nelson Mandela dan sederet nonmuslim lain terhadap Palestina. Alasan kemanusiaan. Because a man is either your brother in faith or your equal in humanity.

Tetapi bagi saya, ketika saya berbicara mengenai Palestina, Suriah, atau negara lainnya, ikatan aqidah ini tetap lebih kuat memegang peran daripada ikatan kemanusiaan.

Kembali ke pertanyaan awal (salah atau tidak melakukan perbuatan yang semakin mendekatkan dunia pada kehancuran dan kiamat besar?) maka inilah pendapat saya.

Saya percaya kepada sebuah mekanisme bernama kodrat, sunatullah, dan takdir.

Saya percaya kepada dua pusaka yang disebutkan Rasulullah sebelum wafatnya. Alquran dan Hadits.

Saya percaya bahwa ketika diciptakan manusia bathil, pasti diciptakan pula orang-orang untuk melawannya.

Saya percaya bahwa bumi tidak akan pernah kehabisan orang-orang yang melaksanakan amar ma’ruf nahiy munkar hingga waktu yang ditakdirkan, sebagaimana bumi juga tidak akan kehabisan orang-orang yang hobi melakukan pengerusakan.

Saya percaya bahwa dunia akan terus berjalan sebagaimana kodratnya: dengan persinggungan-persinggungan yang tak henti antara kebaikan dan kejahatan. Selalu akan ada. Selalu akan begitu. Selalu membentuk pola.

Termasuk dalam hal kemerdekaan Palestina. Terutama Palestina.

Saya percaya, bahwa akan selalu ada dua gerbong terkait Palestina. Gerbong yang ikut memperjuangkan kemerdekaannya dan gerbong yang ikut mematikan harapan kemerdekaan itu—dan mungkin gerbong tambahan yang memuat orang-orang dengan sikap tak peduli.

Saya percaya bahwa akan selalu ada dua gerbong. Sehingga keputusan-keputusan individual kita tidak akan banyak berpengaruh terhadap status quo yang ada. Kasarnya, “Mau mendukung kek, mau menolak kek, mau diam saja kek, enggak banyak pengaruh!”

Karena pasti ada orang-orang yang akan tetap memperjuangkan kemerdekaan Palestina di saat yang lain sibuk meninggalkannya.

Ya, saya percaya bahwa ada kodrat-kodrat yang tetap berjalan, dengan atau tanpa kita.

Akhirnya, seperti retorika-retorika gerbong dakwah, kemerdekaan Palestina pun mengambil retorika yang sama.

Bahwa dengan atau tanpa kita, dakwah akan tetap berjalan.

Bahwa dengan atau tanpa kita, kemerdekaan Palestina akan tetap diperjuangkan.

 

Dan saya memilih berada di gerbong perjuangan. Walau hanya dengan lisan, walau hanya dengan tulisan, walau hanya dengan doa, walau hanya dengan materi yang rereceh dan tak seberapa, saya—bersama orang lain yang menggenggam simpul aqidah atau kemanusiaan—akan memilih berada di gerbong orang-orang yang berjuang untuk menjemput kemerdekaan itu.

Maka Allah, bantulah perjuangan kami!

 

9 Ramadhan 1435 H/8 Juli 2014

Sesungguh Perjuangan

Perjuangan ini masih terlalu pagi.

Saya sering membatin demikian pada titik-titik kosong perjalanan. Apalagi ketika keegoisan tidak sedang menjajah diri. Pada banyak, banyak sekali aspek kehidupan, rasa-rasanya perjuangan ini masih terlalu subuh untuk—bahkan—dibilang duha.

Butuh waktu yang lama hingga saya menyadari, bahwa “peperangan” itu hakikatnya bukanlah ketika seseorang berjuang mati-matian menggapai kampus impian atau karier idaman. Perang yang sesungguhnya juga bisa jadi bukanlah ketika seorang prajurit berkemas-kemas di baraknya, berdegup menunggu langkah kakinya yang akan menapak di zona merah.

Mari kita memulai cerita ini dari kisah seorang jurnalis foto.*)

Namanya Handschuh. Ia seorang fotografer di New York Daily News.

Takdir membawanya berada tak jauh dari WTC di tanggal 11 September 2001. Ya, dan kemudian tragedi itu terjadi. Pesawat yang terbang rendah. Gedung kembar yang ditabrak dan meledak.

Sebagai fotografer dan jurnalis, instingnya kuat. Ia mendatangi tempat kejadian di waktu yang tepat. Handschuh berhasil mendapatkan foto-foto eksklusif tragedi 9/11, di antaranya foto hujan puing-puing bangunan menara sesaat setelah gedung tersebut ditabrak pesawat.

Momen itu membeku dan menjadi salah satu foto terbaik seorang Handschuh. Tetapi jarum jam yang terus bergerak, menyebabkan sepersekian detik setelahnya menara tersebut runtuh menuruti gravitasi, mencipta badai angin dan hujan bebatuan. Handschuh yang berada sangat dekat dengan gedung, terhempas dengan badan yang—akhirnya—penuh luka. Tak berdaya, hingga pemadam kebakaran menolongnya.

Ia baru kembali ke kantornya lima bulan kemudian.

Tetapi, ia kembali dengan tidak lagi menjadi seorang Handschuh yang sama. Ia kembali dengan ingatan eidetik atas tragedi 9/11 yang ia pernah alami. Mengakibatkan trauma. Dan pada akhirnya menyebabkan ia menyerah pada pekerjaannya. Beberapa hari kemudian, Handschuh pamit kepada editornya.

Handschuh tidak sendiri, ada Iskandar, lakon fiksi dalam film Lewat Djam Malam yang sepertinya mengalami hal serupa. Iskandar adalah veteran juang pada perang kemerdekaan—yang malah canggung dengan atmosfer kemerdekaan itu sendiri. Karena kemerdekan, entah bagaimana telah membawa teman-teman seperjuangannya pada keterlenaan menanjaki tangga kaum borjuasi.

Iskandar gelisah kepada kawan-kawannya yang mencukupkan diri dengan menjadi pengusaha, mandor rumah bordir, atau pemborong. Padahal stabilitas republik yang usianya masih berbilang jari itu memerlukan perjuangan yang sama kerasnya. Gerakan separatis masih sangat mudah tersulut.

Ia gelisah pada penyambutan kepulangannya dari perang yang dimeriahkan oleh pesta dansa-dansi.

Ia gelisah dengan pertanyaan yang berkecamuk di hatinya, pada nanar matanya yang mengisyaratkan, apakah untuk ini ia turun ke medan juang? Untuk semua kegelisahan ini?

Ia seperti kalah dalam rutinitasnya, rutinitas ketika selubung peluru telah dikosongkan dan senapan telah kembali ke kotak penyimpanan.

Mungkin memang benar kata sebagian orang, perang yang sesungguhnya justru terjadi ketika kita telah meletakan pedang, usai dengan segala baku tembakan. Seperti Handschuh dengan kesudahan “perangnya” di medan WTC—perang dengan alat berupa kamera. Seperti Iskandar dengan kesudahan perangnya melawan penjajahan. Maka perang tak praktis selesai, ada perjuangan lagi yang dihajatkan untuk mencapai entah apa pun yang kita cita-citakan dalam kehidupan.

Ada sebuah kalimat bagus dari bos saya, bahwa hidup adalah garis yang menghubungkan antara niat baik dan cita-cita. Tugas kita adalah berjalan (atau mungkin merangkak, berlari, melompat, bahkan berguling?) pada garis itu.

Kalau saya boleh menambahkan, maka saya akan menambahkan asumsi bahwa garis itu disusun oleh titik-titik. Di antaranya ada titik-titik merah besar, yang merupakan tempat terjadinya baku tembakan (ujian, masalah, tes masuk kerja, keterbatasan, dan segala bentuk persoalan besar lainnya). Namun sejatinya, perjuangan tidak berbatas pada titik-titik besar itu. Semangat perang, semangat juang, persiapan, antisipasi, dan segala yang pernah kita bawa berlari, (seharusnya) juga ada di tiap titik-titik kecil yang berjejer membentuk garis penghubung antara niat baik dan cita-cita itu.

Sehingga kita tak kalah seperti Handschuh. Sehingga kita tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk kacau seperti Iskandar.

Sesungguh perjuangan pada hakikatnya—mungkin—tak terletak pada sebuah momentum, tetapi pada usaha untuk menyalakan kembali semangat perbaikan, melawan kembali rasa takut dan trauma, dan segala bentuk perjuangan yang sama, ketika kita sudah berada dalam kondisi dengan tensi yang lebih sela.

***

*) Cerita tentang Handschuh disarikan dari buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme: Kesaksian dari Tanah Bencana.

Ditulis untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa saat ini pun perang itu ada di depan mata. Namanya: ketidakpastian kapan penempatan atau rutinitas-yang-sekadar-8-17.
Maka, jangan dulu kau turunkan tensimu, jangan dulu kau letakkan busur dan anak panahmu.
Terinspirasi oleh blog senior.

Toleransi dalam Berkecenderungan

Hari-hari ini kita banyak menyaksikan orang-orang yang selalu mempermasalahkan pilihan fiqih orang Islam lain, tiba-tiba berkhutbah tentang toleransi ini dan itu. Dan hari-hari ini kita semakin menyaksikan betapa banyak umat Islam yang hampir tidak pernah menghidupkan syiar Islam, namun kini malah menghidupkan syiar agama lain.

—Fimadani

Saya pernah belajar ushul fiqih di tingkat satu perkuliahan, pada kuliah malam di sebuah ma’had. Walaupun ilmu yang dapat saya serap hanya nol koma sekian persen dari buku-buku tebal maupun dari penguasaan para asatidz itu, saya belajar satu hal yang tajam dan mendalam. Yakni tentang cara menyikapi.

Mari tinggalkan prolog tentang ma’had, dan beralih ke sebuah lingkaran ilmu dengan pembicara seorang ustazah—yang juga guru bahasa Arab di ma’had tersebut. Siang terik, dan lingkaran ilmu tersebut mulai membahas tentang banyak hal. Salah seorang murid bertanya, “Ustazah, kalau ustazah sedang haidh, baca Alquran atau tidak?”

Bukannya langsung menjawab, ustazah tersebut malah mengoreksi pertanyaan si murid. “Saya ganti pertanyaannya ya, dengan bagaimana pendapat para ulama tentang membaca Alquran ketika sedang haidh.”

Bukan penjabaran beliau tentang perbedaan pendapat para ulamalah yang menancap di hati saya—saya kira yang bertanya pun bahkan sudah mengetahui jawabannya, bahwa memang para ulama berbeda pendapat tentang hal itu. Bahkan saya pikir, sang penanya memang benar-benar memaksudkan pertanyaannya seperti itu: ingin mengetahui pilihan fiqih sang guru.

Tetapi cara menjawab beliau yang terus membekas. Beliau menjawab secara luas dan detail, bahwa ada sebagian yang membolehkan, tetapi jumhur ulama berkata tidak boleh. Dan masing-masing dari mereka memiliki dalil yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Setelah menjelaskan bingkai secara keseluruhan, ustazah tersebut baru menjelaskan pilihan fiqihnya: “Saya memilih tidak membaca, karena jumhur ulama berkata demikian. Dan berhati-hati dalam keharaman adalah sikap yang baik. Tetapi tetap, dalam sebuah ijtihad, kalau salah pun dapat satu pahala. Sehingga kalian boleh memilih pendapat ulama yang mana. Yang penting kalian paham dasar-dasarnya.”

Ustazah tersebut bisa dikatakan galak dan tegas kalau sedang mengajar (apalagi mengajar bahasa Arab), tetapi yang membuat saya kagum, bahwa beliau tidak langsung mendikte muridnya, “Kamu kalau haidh tidak boleh baca Alquran!”

Sikap itu, spontanitas itu, adab yang tercermin dari ustazah itu, membuat saya semakin menyadari bahwa penyikapan orang yang berilmu dengan yang tidak terhadap sebuah masalah, apalagi menyoal khilafiyah, sangatlah berbeda.

Saya menyadari bahwasannya terkadang preferensi fiqih bisa jadi bagaikan harga diri bagi seseorang. Sehingga pada sebagian orang, jika preferensi fiqih yang diambilnya diikuti orang lain, ada rasa bahagia dan bangga yang terbit, sedangkan jika preferensi fiqihnya ditolak, ia bagai merasa terlukai, tidak dihargai, bahkan merasa tidak dihormati.

Untuk menjembatani itu, sebenarnya dibutuhkan pengetahuan untuk bertoleransi dalam berkecenderungan—dalam menghargai preferensi fiqih masing-masing orang. Satu syarat: ia mengetahui gambaran besar dan memiliki dalil yang jelas tentang preferensi fiqih yang dianutnya. Ia tidak boleh berkata “a” hanya karena ulama kesayangannya berkata “a”. Pendapat ulama bukanlah dalil.

Tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya (dalilnya).” —Imam Abu Hanifah.

Adab tersebut juga yang saya temui di ma’had ketika pelajaran ushul fiqih. Sang ustaz tidak lantas mendoktrin para muridnya untuk mengikuti preferensi fiqih yang dianutnya. Ia menggambarkan bingkai-bingkai luas, kaidah-kaidah umum fiqih, memastikan sang murid mendapatkan gambaran komprehensif tersebut, sebelum akhirnya masuk kepada contoh yang lebih teknis.

Kini, tiap menjelang tanggal 25 Desember, saya selalu meringis mendapati jejaring sosial begitu panas meng-counter isu ucapan selamat natal. Memang benar nasehat seorang ulama, bahwa perkataan para Salaf sangat sedikit, tetapi penuh dengan barakah, sedangkan perkataan orang-orang setelahnya sangatlah banyak tetapi sedikit sekali barakahnya.

Salah satunya yang lewat di linimasa saya: “Nih yang bilang enggak boleh mengucapkan selamat natal, baca.” Sambil menyertakan link gambar pendapat Quraish Shihab dalam sebuah buku.

Saya membayangkan jika cuitan tersebut dibuat adegan nyata, maka orang itu bagai berucap demikian sambil melempar buku tebal hardcover karangan profesor tersebut ke wajah orang-orang lain yang memiliki preferensi fiqih berbeda.

Padahal preferensi fiqihnya boleh jadi hanya ia ambil dari selembar buku karya seorang ustaz, boleh jadi ia hanya melihat satu titik dari gambaran luas tentang ucapan selamat natal.

Padahal celotehan 140 karakter tersebut membuahkan tanda tanya besar. Apakah dia telah membaca penjelasan ulama-ulama besar lainnya?

Saya tidak sedang ingin membicarakan masalah siapa yang benar dan siapa yang salah, atau pendapat yang mana yang tepat dan yang mana yang keliru (rumahfiqih.com adalah rujukan bagus kalau ingin mengetahui itu). Tulisan ini sedang berbicara tentang cara menyikapi. Cara bersikap. Hal yang saya juga masih belajar atasnya.

Mari resapi apa yang Imam Abu Hanifah pernah katakan, “Yang terpenting bukan mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan (apakah kalian) mengetahui bagaimana kami menetapkannya .”

Betapa lancangnya kita, kalau gambaran luasnya saja tidak tahu, tetapi berani-beraninya mentarjih para ulama yang memiliki amalan/pendapat berbeda dari yang kita anut.

Orang yang mengerti adab, akan duduk tenang, menjelaskan perkara seluas-luasnya, baru memaparkan solusi yang diambilnya dan membebaskan kita untuk mengambil pilihan solusi yang mana—selama masih di dalam koridor-koridor yang diperbolehkan. Dan harus kita sebut apa orang-orang-yang-melemparkan-buku-ke-wajah-orang-lain untuk menjelaskan preferensi fiqihnya?

Perbedaan preferensi fiqih sebenarnya menghajatkan kita untuk belajar tentang makna sebuah toleransi yang lebih mendalam dan menghujam. Tentang kelekatan ukhuwah, tentang kesolidan persaudaraan atas nama aqidah. Juga tentang pelajaran yang paling tua usianya, bahkan lebih tua dari ilmu fiqih itu sendiri: akhlak, adab.

Jangan sampai dengan umat lain kita demikian rekat, tetapi di dalam tubuh kita sendiri, kita adalah susunan batu bata yang rengat.

Alhaqqu mirrabbik, falaa takuunanna minal mumtariin.